KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 26


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku


Dahsyatnya SHOLAWAT


Angkringan Cinta


Kopi Paste


Kesucian Syahadat



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Mungkin cara satu-satunya adalah bertawakal dan berpasrah atas semua yang terjadi pada diri dan jalan hidup kita. Cukup nikmati dan syukuri bukan malah mengumpat dan selalu mengeluh.


Hari ini adalah pembelajaran dan hari esok adalah harapan. Bila harapan tidak tercapai dan belum terwujud maka teruslah berusaha dan berikhtiar. Karena tidak ada doa dan usaha yang sia-sia. Semua butuh proses dan semua butuh waktu.


Aisyah pun sudah berendam di dalam bath up dengan air hangat dan aromaterapi buah buahan. Rasa hangat air yang membuat sekujur tubuh Aisyah pun menjadi segar dan rileks. Cukup lakukan lima belas menit hingga tiga puluh menit lamanya.


Mbok Surti dengan setia menunggu Aisyah hingga selesai berendam dan membilas tubuhnya, dan membantu segala keperluan Aisyah.


Baju gamis dan Khimar panjang serta niqab sudah disediakan oleh Mbok Surti sesuai permintaan Aisyah. Memang kesempurnaan wanita itu terletak pada hati dan akhlaknya terutama bila wanita itu bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


"Non Aisyah sebaiknya minta ijin dahulu pada Pak Baihaqi agar Bapak tidak khawatir dan cemas." ucap Mbok Surti mengingatkan sambil membantu mengeringkan rambut Aisyah yang panjang dengan hair dryer.

__ADS_1


Tadinya Aisyah tidak ingin memberitahukan hal ini kepada Baihaqi suaminya, tapi bepergian tanpa ijin suami, semua akan menjadi sia-sia, terlebih Aisyah sedang mengandung.


"Iya Mbok. Aisyah akan meminta ijin Bapak, sekalian menanyakan keberadaan Anggie saat ini, mungkin saja Mas Bai mengetahui keberadaan istri keduanya itu." ucap Aisyah dengan pelan dan memoles make up tipis di wajahnya yang sudah cantik.


Sambungan telepon kepada Baihaqi pun sudah tersambung.


"Assalamualaikum ... Mas Bai, aku ingin ke rumah Bu Margaretha menanyakan kabar Anggie. Kamu tahu dimana Anggie Mas?" tanya Aisyah pelan kepada Baihaqi.


"Waalaikumsalam Humairah. Sekitar dua hari yang lalu Anggie menghubungi aku, katanya ijin untuk ikut Family gathering di kantor Bu Margaretha." ucap Baihaqi dengan singkat dan jelas sesuai informasi buang Baihaqi terima dari Anggie secara langsung.


"Aku ijin untuk membawanya pulang ke rumah ini Mas?" tanya Aisyah pelan.


"Aku ijinkan Humairah, pergilah dengan Pak Amin dan berhati-hati. Kabari aku jika sudah sampai di rumah Anggie." ucap Baihaqi pelan mengingatkan kepada Aisyah.


"Baiklah Mas. Terima kasih. Assalamualaikum.... " ucap Aisyah pelan.


"Waalaikumsalam ... Humairah ..." ucap Baihaqi terdengar lirih di seberang.


Aisyah pun bersiap dan menenteng tas kecilnya ditangan. Mbok Surti pun ikut serta karena akan membantu Aisyah berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah habis.


"Pak Amin ... Kita ke rumah Bu Margaretha." ucap Aisyah pelan dan sopan.


Pak Amin pun bertugas mengantarkan dan mengawasi kemana pun Aisyah pergi dan melaporkannya kepada Baihaqi. Seperti kepergiannya kali ini pun sudah ada tembusan kepada Baihaqi. Baihaqi tidak ingin melihat istrinya kelehahan dan banyak pikiran.


Aisyah pun terus memencet bel dan mengetuk gembok kunci itu ke pagar dengan sangat keras.


Satu orang tetangga Anggi pun keluar dari rumahnya. Lalu berjalan ke arah Aisyah.


"Lho Mbak bukannya istri tua ya." ucap tetangga itu dengan ketus dan cuek. Mungkin memang orang-orang di perumahan itu memiliki sifat yang cuek dan masa bodoh.


"Waalaikumsalam ... Ibu tetangganya Anggie eh Nastitie?" tanya Aisyah kepada wanita paru baya itu degan sopan. Aisyah tidak perduli dengan pertanyaan orang tersebut dan tetap bertanya tentang keberadaan Bu Margaretha dan Anggie.


"Ibunya sudah pergi beberapa hari yang lalu dengan membawa koper yang begitu besar. Kemudian asisten rumah tangganya menyusul keesokkan harinya. Tapi saya gak tanya mau kemana-mana? Bukan urusan saya juga." ucap wanita itu pelan.


"Kalau Anggie?? Nastitie??" ucapnya pelan.


"Entahlah sejak menikah bukankah tinggal bersama suaminya yang berarti suami kamu juga. Mungkin mereka punya rumah sendiri biar bebas gak satu atap dengan yang tua." ucap wanita itu dengan nyinyir.


"Oh .. baiklah terima kasih atas informasinya, saya pamit dulu." ucap Aisyah dengan sopan


"Memberikan informasi penting itu ada harganya. Kalau mau informasi lain, saya bisa beritahu kamu, asal bayarannya cocok." ucap wanita itu mengajak bernegosiasi.


Mbok Surti pun tampak menoel-noel punggung Aisyah dengan sering walaupun pelan. Maksudnya agar cepat pergi dari sini jangan no meladeni nenek lampir yang bertindak sebagai benalu.

__ADS_1


"Maksudnya apa ya? Saya kurang paham." ucap Aisyah pelan.


"Jangan sok polos, semua informasi penting itu ada harganya. Aku tahu rahasia semua tentang Margaretha dan Nastitie karena aku dan asisten Margaretha sering curhat bersama." ucapnya dengan semangat badan antusias.


"Aku ingin tahu informasinya terlebih dahulu. Seberapa penting informasi itu untukku." ucap Aisyah pelan dan tenang.


"Aku minta lima juta untuk informasi buang akurat ini." ucapnya bernegosiasi.


Aisyah tersenyum dan berpamitan tanpa menggubris permintaan dari wanita paru baya itu. Aisyah pun membalikkan tubuhnya dan berlalu.


"Aku tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Nastitie." ucapnya keras dan lantang. Wanita ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari informasi penting yang ia miliki dari hasil berghibah.


Aisyah pun menoleh ke arah wanita paru baya itu dengan cepat dengan tatapan yang tajam seakan meminta penjelasan kebenaran dari semua ini.


"Apa kamu punya bukti yang kuat? Untuk menguatkan apa yang menjadi rahasiamu itu?" ucap Aisyah yang tidak bodoh. Aisyah tidak ingin informasi yang tidak lengkap atau masih tidak jelas.


"Aku jamin kamu puas dengan informasi yang aku berikan. Uang yang aku minta sebagai imbalan saja. Bukti pun akan aku perlihatkan. Kalau kamu setuju, silahkan ke rumahku, kita berbicara empat mata." ucapnya pelan.


Aisyah pun dengan tegas menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin di tempat lain yang lebih netral bawa bukti yang kamu punya. Aku membawa asisten dan supir sebagai saksi. Kalau informasi yang kamu berikan akurat dan lengkap akan aku beri uang itu secara cash.' ucap Aisyah yang semakin penasaran dengan keadaan yang sebenarnya.


Wanita itu tampak berpikir dan diam sejenak lalu mengerutkan keningnya dan mengangguk dengan pasrah.


Hanya ada tempat netral untuk bernegosiasi selain rumah pribadi yaitu restoran.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


💚💚💚💚💚

__ADS_1


__ADS_2