KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
79


__ADS_3

Hari ini Joe dan Edward mencari informasi tentang keberadaan Anggie. Ada beberapa markas besar milik Bram sebagai tempat persembunyiannya. Joe dan Edward sudah menghubungi teman-temannya dan polisi untuk membantu penyergapan terhadap Bram dan anak buahnya sebagai mafia besar yang sudah menjadi DPO. Polisi menyarankan untuk tidak gegabah dan mencari informasi dengan detail. Baru melakukan penangkapan terhadap Bram dan komplotannya.


Resikonya bagi Joe dan Edward adalah ikut ditangkap karena termasuk dalam bagian dari komplotan Bram atau kemungkinan terburuknya adalah mati. Joe dan Edward sudah tidak memperdulikan itu semua, bagi Joe, nyawa Anggie dan buah hatinya adalah yang terpenting. Dan bagi Edward, membantu Joe untuk kembali ke jalan yang benar itu sudah cukup.


"Edward, bila aku tak selamat. Aku pinta titip Anggie dan anakku, sayangi anakku seperti anakmu sendiri. Nikahi Anggie agar ia tidak sendiri dalam hidupnya. Beri dia nafkah yang halal. Aku masih ada beberapa usaha yang bisa kamu kelola, dan jangan sampai terjerumus dengan hal-hal yang buruk seperti aku." ucap Joe lirih. Matanya merah menahan sedih dan rasa sakit dalam hatinya.


Edward hanya menatap sendu Joe dengan sendu.


"Kenapa Abang bicara seperti itu. Abang harus yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Apa Abang gak mau menunggu saat Anggie melahirkan dan menggendong bayi kalian." ucap Edward pelan.


"Hal itu tidak perlu kamu tanyakan, tentu itu yang aku harapkan bukan? Aku ingin bersama Anggie dan buah hatiku dan hidup dalam kebahagian rumah tangga kecilku." ucap Joe pelan.


"Abang harus yakin dengan semuanya. Masa Abang gak percaya sama Allah SWT." ucap Edward mengingatkan.


"Aku tidak pernah sholat Edward. Ke Masjid saja aku tidak pernah, mungkin sholat pun aku lupa dengan bacaannya. Bisnisku haram semua, apa Allah SWT masih mau menerima tobatku." tanya Joe pelan kepada Edward.


Seketika Edward menatap Masjid di depannya, dan melihat keramaian di sekitar pelataran Masjid.


"Bang Joe, itu ada Masjid kita sholat dulu yuk." ucap Edward mengajak Joe untuk sholat di Masjid.


"Tapi aku gak bisa Edward, aku sudah lupa bagaimana caranya sholat." ucap Joe pelan terbata-bata.


"Ikuti saja gerakannya dengan orang yang di depannya" ucap Edward menjelaskan.


Joe hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan tanda mengerti.


Seusai sholat di Masjid, Joe dan Edward melewati stand untuk donor darah. Hari Joe tergerak untuk ikut menyumbangkan darahnya bagi orang orang yang membutuhkan.

__ADS_1


"Selamat siang, apa anda akan mendonorkan darah anda? Kebetulan kami sedang membutuhkan darah AB+. Karena ada satu pasien kami yang sangat membutuhkan." ucap salah satu perawat kepada Edward dan Joe.


"Darahku AB+." ucap Edward singkat.


"Aku bukan AB+. Lebih baik kita ke rumah sakit saja, langsung mendonorkan darah kita pada pasiennya." ucap Joe kepada Edward.


"Oh tentu bisa. Silahkan, rumah sakit itu di dekat sini, ujung jalan belok kanan." ucap perawat itu menjelaskan.


Joe langsung menarik lengan Edward agar segera menuju rumah sakit.


"Ada apa Bang Joe, kamu terlihat panik." tanya Edward singkat saat melihat wajah Joe yang terlihat gugup dan cemas.


"Entahlah Edward. Ada perasaan bersalah terhadap seseorang dan aku tidak tahu, bagaimana kondisinya saat ini." ucap Joe pelan. Wajahnya penuh dengan keringat.


"Ada apa sebenarnya ini Bang?" tanya Edward pelan. Sambil menoleh ke arah Joe yang masih tampak gusar.


Joe akhirnya menceritakan kejadian beberapa hari lalu yang dia alami. Salah tembak itu berakhir fakta terhadap orang yang tertembak.


Penjelasan Joe sangat detail dan tampak sekali jelas. Tapi raut wajahnya begitu terlihat murung dan gusar setelah menceritakan kejadian itu.


"Bukankah kamu senang terhindar dari musibah itu?" tanya Edward pelan.


"Apa kamu tidak punya hati sampai bilang seharusnya aku bahagia dan senang tapi diatas penderitaan orang lain? Begitu maksudmu? Apa kamu tidak pernah berpikir jika laki-laki itu memiliki istri dan anak, lalu bagaimana kehidupan mereka selanjutnya. Iya jika laki-laki itu sembuh, jika laki-laki itu meninggal atau cacat? Bagaimana? Siapa yang akan mencari nafkah? Siapa yang akan membayar biaya perawatan di rumah sakit?" ucap Joe sedikit kesal dengan komentar Edward yang menurutnya tidak memiliki hati nurani.


"Lalu Abang mau gimana? Mencari pria itu di setiap rumah sakit, lalu memberikan uang santunan dan membiayai perawatan rumah sakit sampai sembuh? atau memberikan biaya pendidikan hingga jenjang pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya? atau memberikan modal untuk istri yang ditinggalkan agar bisa berjuang untuk menghidupi keluarganya? atau bagaimana?" tanya Edward pelan.


"Aku akan lakukan semua yang terbaik, bagaimanapun juga aku berhutang nyawa kepada pria itu." ucap Joe pelan sambil berjalan menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Joe dan Edward mencari informasi tentang pasien yang membutuhkan darah. Dengan dalih ingin mendonorkan darahnya sekaligus mencari informasi tentang keberadaan laki-laki yang tidak sengaja tertembak itu.


Namun semua itu terungkap, pria yang tertembak itu adalah pria yang sedang membutuhkan darah saat ini.


"Bagaimana caraku untuk bersyukur dengan semua ini. Kebahagiaanku saat ini adalah menemukan pria ini," ucap Joe menjelaskan.


"Itu semua berkat campur tangan Allah SWT, kita harus yakin. Begitu juga dengan permasalahan yang kita hadapi, semua pasti ada ujungnya," ucap Edward pelan.


Hari itu Joe sudah memberikan darahnya kepada Baihaqi. Ada tiga kantong labuh darah yang sudah tersimpan untuk Baihaqi. Saat darah itu diambil, pikiran Joe begitu melayang ke arah memikirkan keadaan Anggie dan bayi yang sedang dikandungnya.


Edward sejak tadi termenung menemani Joe yang melamun.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Bang?" tanya Edward pelan sambil menatap lekat kedua mata Joe yang terpejam.


"Aku teringat Anggie, dan aku memikirkan Anggie dan bayiku, bagaimana keselamatannya saat ini. Aku takut Anggie sedang dalam bahaya, apalagi Bram sedang mengincar aku, tentu mengincar Anggie dan bayiku," ucap Joe sendu.


Hidupnya seolah ingin dihentikan saja, sudah tidak sanggup dengan semua ujian ini.


"Setelah ini, aku akan mencari keberadaan Anggie," ucap Edward tegas.


"Aku percayakan semuanya kepadamu," ucap Joe pelan.


Setelah selesai mendonorkan darahnya, Joe dan Edward kembali ke penginapan dan mencari informasi tentang keberadaan Anggie.


Di dalam gudang yang gelap itu, sudah dua hari ini Anggie berpuasa karena memang tidak diberi makanan dan minuman. Perutnya yang semakin buncit, dan gerakan bayinya yang semakin melemah tak bergerak di dalam perutnya membuat Anggie sedikit khawatir dan cemas.


Seharusnya bayi kecil itu di beri asupan gizi yang cukup dan baik, bukan malah harus berpuasa seperti ini.

__ADS_1


Anggie mengusap pelan perutnya dan menangis batin.


'Maafkan Mama, Nak. Mama belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Bertahan semua Mama,' batin Anggie di dalam hatinya.


__ADS_2