KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 73


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Setengah jam yang lalu, Anggie sudah meninggalkan rumah sakit. Melihat pemandangan duka seperti tadi membuat hatinya sakit dan tidak nyaman. Tidak dipungkiri perasaan terhadap Baihaqi itu masih ada walaupun hanya tinggal sedikit, namun semuanya masih membekas. Anggie berusaha melupakan kenangan buruk itu, kenangan yang pahit yang saat itu masih mempertahankan egonya. Namun, kini Anggie sadar, semua yang dilakukannya itu adalah suatu kesalahan.

__ADS_1


'Maafkan aku, Kak Aisyah. Aku sudah membuatmu menderita.' lirihnya dalam hati. Buliran kristal itu akhirnya terjatuh juga, air mata penuh penyesalan yang amat terdalam.


Menyusuri jalan menuju apartemen Aisyah. Pakaian Anggie yang sudah tertutup sama seperti Aisyah, membuat orang-orang disekitarnya tidak ada yang curiga terhadap dirinya. Padahal di sepanjang jalan banyak tulisan mencari dirinya dan Joe, sebagai orang hilang.


Kedua mata Anggie melihat ke arah kanan dan kiri menatap satu per satu brosur yang tertempel pada tembok. Pandangannya tepat pada seorang laki-laki yang juga menatap dirinya. Namun, laki-laki itu langsung berlari pergi meninggalkan Anggie yang berusaha mengingat siapa laki-laki itu. Memakai baju yang compang camping dengan rambut yang acak-acakan hanya tertutup sebuah topi usang.


Tiba di apartemen Aisyah, Anggie langsung menuju kamar Azan dan Nadya. Di sana sudah ada pengasuh suruhan Fathan untuk menjaga kedua anak Aisyah. Anggie memasuki kamar anak tersebut menatap satu per satu antara Azan dan Nadya secara bergantian. Hatinya pedih dan teriris rasanya perih sekali. Anggie mencoba mendekati keduanya lalu mencium pucuk kepala mereka secara bergantian.


Rasa sayang, rasa tulus, dan rasa ingin menjaga begitu saja hadir didalam hati Anggie. Melihat kedua anak itu tertidur pulas dan sangat nyenyak membuat Anggie semakin bersalah pada dirinya sendiri.


'Maafkan Tante Anggie, yang telah merusak kebahagiaan kalian.' lirihnya dalam hati.


Anggie terus mengusap kepala Azan dengan lembut dan berungkali balita itu diciumnya. Pengorbanan Aisyah saat mengandung Azan, hingga Aisyah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan tersebut dan jasadnya dinyatakan hilang.


Sungguh berat tragedi satu tahun silam, dan sekarang ujian itu kembali datang. Nyawa Baihaqi yang belum dipastikan hidup atau mati. Dua peluru menembus dadanya dekat dengan jantung. Satu peluru lagi mengenai pelipis mata Baihaqi.


Ujian yang sangat berat, disaat Baihaqi dan Aisyah mulai kembali menata kehidupan keluarga kecilnya dengan kebahagiaan, lagi-lagi tangisan itu harus luruh kembali.


Anggie bisa merasakan betapa sedihnya Aisyah saat ini. Betapa hancurnya hati Aisyah, betapa kosong dan hampa hati Aisyah. Pikirannya sangat kacau sekali, sesekali Anggie memijat keningnya yang mulai terasa pusing dan tubuhnya semakin lemas. Perutnya yang semakin membuncit dan terasa berat memikul beban permasalahan yang begitu banyak dan sulit.


Anggie kembali ke kamarnya dan beristirahat. Tubuhnya direbahkan di kasur yang membuat punggungnya semakin nyaman. Pelipisnya dipijat hingga pening di kepalanya sedikit berkurang. Kedua matanya mulai menutup dan tertidur pulas.


Pikirannya yang kacau ditambah keadaannya yang tidak baik-baik saja, tidur Anggie pun menjadi tidak nyenyak. Beberapa kali terbangun, karena mimpi buruk. Anggie mengusap dadanya, dan pikirannya mulai melayang kepada Joe. Sudah beberapa hari ini, Anggie belum juga menemukan keberadaan Joe.


'Kamu sebenarnya kemana Joe? Apa ada hubungannya dengan penembakan Baihaqi?' batin Anggie di dalam hatinya.


"Bu ... Makan malam sudah siap." ucap Pengasuh Azan mengetuk pintu Anggie.


"Ya Bu, sebentar lagi saya keluar." jawab Anggie pelan.


Anggie bangun dan mengusap pipinya yang masih basah karena air mata. Anggie melihat dirinya di depan kaca rias. Melihat wajahnya yang kusut dan sembab karena beberapa jam menangis terus menerus.


Langkah kakinya berat menuju pintu kamar dan keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Disana sudah ada Nadya yang sedang asyik dengan kentang gorengnya dan balita Azan yang di dudukkan di kursi makannya dan sedang disuapi oleh pengasuhnya.


Anggie mendekati Azan dan mencubit pipi anak laki-laki itu dengan gemas.


"Makan apa Nak?" tanya Anggie kepada Azan dan Nadya.


Nadya hanya menatap sekilas kepada Anggie dan fokus lagi kepada makanannya. Anggie yang melihat Nadya yang cuek terhadap dirinya lalu berjalan mendekati Nadya. Diusapnya rambut panjang anak itu dengan lembut.


"Nadya kenapa Nak? Tante Anggie kan bertanya sama Nadya, kok gak di jawab?" tanya Anggie pelan.

__ADS_1


Nadya hanya menunduk dan mengunyah kentang goreng kesukaannya itu. Tetap tidak ada suara dan jawaban dari Nadya. Anggie pun mengusap punggung Nadya.


"Nadya kangen sama Umi Aisyah?" tanya Anggie pelan.


Nadya kembali terdiam dan tidak menjawab. Anggie kembali berpikir, bagaimana caranya anak ini agar mau dekat dengan dirinya. Ini adalah salah satu cara untuk bisa menebus kesalahannya terdahulu.


"Nadya kangen dengan Aby Baihaqi?" tanya Anggie pelan.


Nadya langsung mendongakkan kepalanya dan mengganggukkan kepalanya perlahan. Anggie melihat anggukkan kepala Nadya pun ikut merasa iba terhadap anak itu. Memang selama ini, Nadya sangat dekat sekali dengan Baihaqi. Baihaqi selalu memanjakannya dan memberikan apapun yang menjadi keinginan Nadya.


"Nadya mau apa Nak? Nanti Tante Anggie belikan?" tanya Anggie pelan.


Nadya menggelengkan kepalanya. Lalu membuka mulutnya menjawab pertanyaan Anggie.


"Aby Bai, sudah berjanji membawa Nadya bermain ke pantai hari ini. Tapi, Nadya tunggu Aby tidak kunjung datang dan membawa Nadya." ucap Nadya lirih.


Anggie mendengarkan keluhan Nadya lalu tersenyum.


"Tante Anggie, gak berani ke pantai. Tapi Tante Anggie bisa ajak Nadya makan es krim strawberry di dekat sini? Mau?" tanya Anggie pelan.


"Benarkah Tante. Nadya mau es krim." jawabnya penuh semangat dengan kedua matanya berbinar senang.


"Iya Nak. Tapi habiskan makan malammu dulu, nanti kita ke supermarket dekat sini dan membeli es krim strawberry kesukaan Nadya." ucap Anggie pelan sambil mengusap rambut Nadya lembut.


"Iya Tante Anggie. Makasih. Nadya habiskan makan dulu ya." ucap Nadya antusias.


"Iya sayang." jawab Anggie dengan senyum bahagia.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...

__ADS_1


Terima Kasih ....


__ADS_2