
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Assalamualaikum... Pak Baihaqi... Non Aisyah.... ada polisi di bawah." ucap Mbok Surti mengetuk pintu kamar Aisyah.
"Waalaikumsalam... Iya mbok... Kami segera turun menemui mereka. Buatkan minuman Mbok." ucap Aisyah dari balik pintu kamarnya.
Kedua mata Aisyah pun saling berpandangan dengan netra Baihaqi, ada masalah apa gerangan hingga ada polisi datang ke rumah ini. Perasaan bingung, cemas, panik dan was was pun hinggap di hati Aisyah. Ada firasat yang kurang mengenakkan akan terjadi setelah ini.
"Ada apa ini sebenernya Mas?" tanya Aisyah dengan tubuh yang sudah dingin dan bergetar. Terlihat kecemasan di raut wajah istrinya itu.
"Aisyah... jangan menangis. Aku pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bukankah dari tadi pun kita berdua di tempat ini." ucap Baihaqi menenangkan istrinya yang sedang hamil itu.
__ADS_1
"Aku takut Mas... Sangat takut, bila terjadi sesuatu kepadamu. Aku tidak sanggup bila harus berpisah dan berjauhan denganmu." ucap Aisyah yang sudah mulai menangis.
"Aku disini Humairah, aku tidak pergi, dan aku selalu berjanji untuk selalu menemanimu hingga ajal menjemput salah satu dari kita." ucap Baihaqi dengan lembut.
Aisyah pun berusaha tersenyum mendengar janji yang selalu di ucapkan Baihaqi dan selalu sama seperti itu. Bolehkah Aisyah merasakan terbang saat ini, di puja oleh seorang Baihaqi...... ???
"Kita hadapi semuanya bersama. Ada Allah SWT yang selalu ada menemani hambaNya." ucap Baihaqi pelan. Hatinya juga bergemuruh tak tentu arah. Pikirannya sudah berburuk sangka saja.
Baihaqi pun menggenggam tangan Aisyah untuk memberi kenyamanan dan kehangatan cinta lalu mengecup tangan itu bergantian.
"Kita turun ya. Kasihan tamunya sudah menunggu kita." ucap Baihaqi pelan.
Mereka pun segera menemui tamunya di ruang tamu. Belum juga duduk, salah satu polisi itu berdiri dan langsung mengeluarkan selembar kertas berisikan surat tugas.
"Selamat Sore... Kami dari kepolisian membawa surat tugas untuk penangkapan tersangka atas nama Ahmad Baihaqi. Dengan kasus pemerkosaan." ucap salah satu polisi bernama Ridwan. Polisi itu masih berdiri dengan sikap penuh wibawa dan tegas.
"Silahkan duduk dulu. Saya Ahmad Baihaqi, saya ingin meluruskan masalah ini dahulu." ucap Baihaqi pelan.
"Maaf Pak, untuk pembelaan silahkan ajukan saat BAP nanti. Tugas saya hanya membawa anda ke pihak yang berwajib atas tuduhan kasus pemerkosaan terhadap Saudari Nastiti Angraeni." ucap Ridwan dengan lantang dan tegas.
"Siapa pelapornya?" ucap Aisyah keras.
"Saya kenal... Beliau sudah melakukan negosiasi kesepakatan dengan saya. Saya akan menghubunginya terlebih dahulu." ucap Aisyah pelan.
"Silahkan... " ucap Polisi bernama Ridwan mempersilahkan.
Aisyah pun tampak lemas dan pucat. Kenapa harus sampai ada penangkapan, bukankah aku sudah sepakat untuk mengikhlaskan Mas Baihaqi untuk menikahi Anggie, gumam Aisyah dengan perasaan kecewa.
Asiyah langsung mengambil ponselnya dan menelepon Bu Margaretha.
📱 Ibu Margaretha ...
"Assalamualaikum... Ibu Margaretha kenapa Anda melaporkan suami saya atas tuduhan pemerkosaan, bukankah kita sudah sepakat untuk menikahkan mereka lusa. Aisyah sedang mempersiapkan semuanya termasuk gaun pengantin yang Aisyah jahit sendiri dengan tangan Aisyah untuk pernikahan kedua suamiku.... " ucapan Aisyah terhenti. Aisyah tidak kuasa melanjutkan ucapannya.
Hanya sesak yang Aisyah rasakan saat ini. Wajahnya sudah kusut dan sembab karena tidak berhenti menangis.
"Aku hanya memastikan Baihaqi tidak kabur saat menikah nanti!!!" ucap Bu Margaretha dengan ketus.
"Aku pastikan tidak akan terjadi, aku pasang badan untuk suamiku. Lepaskan suamiku, cabut laporan itu. Aisyah akan menyiapkan segalanya untuk pernikahan kedua suamiku." ucap Aisyah dengan nafas tersengal-sengal. Emosinya pun mulai tidak stabil.
"Baiklah aku pegang ucapanmu Aisyah. Bila kamu terbukti berbohong, kamu akan mati mengenaskan di penjara." ucap Bu Margaretha dengan kasar.
__ADS_1
Para polisi itu pun saling pandang setelah mendapatkan perintah dari atasannya untuk segera pergi dari rumah itu dan akan melakukan penangkapan lagi di lain waktu bila terbukti mengingkari janji.
Tangisan Aisyah pun pecah, suaranya semakin keras dan terdengar parau. Baihaqi pun terduduk lemas di samping Aisyah. Wanita ini begitu mulia, hingga harus mengorbankan dirinya demi keutuhan rumah tangganya sendiri walaupun harus ada rumah tangga lain di rumahnya.
"Humairah.... kenapa kamu lakukan ini. Biarkan saja aku ditangkap dari pada aku harus menduakan mu. Aku tak sanggup Humairah." ucap Baihaqi pelan mencium pucuk kepal Aisyah yang masih tertunduk menangis.
Baihaqi pun ikut menangis menatap Aisyah yang tersakiti dengan keadaan ini.
"Aisyah sedang mengandung, Aisyah tidak ingin anak ini bernasib sama dengan anak yang di kandung oleh Anggie. Mungkin bedanya kamu berada di dalam penjara. Aisyah hanya ingin berkumpul bersama di saat Aisyah melahirkan nanti. Bukankah anak ini penantian kita Mas." ucap Aisyah lirih. Kepalanya mendongak dan menatap sendu ke arah Baihaqi.
"Tapi kamu tidak perlu sampai mengorbankan perasaanmu sendiri Aisyah. Aku pun tidak sanggup." ucap Baihaqi dengan gusar dan kecewa.
"Pengorbananku tidak sebanding dengan Surga yang akan terbuka untukku Mas. Hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai bukti cinta tulus dan ikhlas hanya untuk kamu." ucap Aisyah sambil memegang wajah Baihaqi dengan penuh kelembutan.
"Aku tidak sanggup Aisyah. Aku bukan Nabi atau Rasul. Aku tidak bisa berpoligami Aisyah." ucap Baihaqi menangis tergugu.
"Aku ikhlas Mas Bai. Aku siap dengan resiko ini. Aku rela menjadi yang pertama walaupun bukan yang terakhir satu satunya untukmu. Ada Anggie yang harus kamu sayangi." ucap Aisyah pelan. Susah sekali berkata seperti itu, rasanya tenggorokan tidak bisa mengeluarkan suaranya. Susah payah Aisyah mengucap ini semua.
"Aisyah..... Aku tidak sanggup menyakiti hatimu yang mulia ini." ucap Baihaqi terbata bata.
"Demi aku dan anak kita... Kita mampu melewati ini Mas... " ucap Aisyah lirih. Tangisannya tidak bisa berhenti tiap menatap wajah sendu Baihaqi.
Keduanya terduduk di lantai yang dingin menyandarkan kepalanya di kaki sofa ruang tamu itu. Keduanya saling berpelukan erat dan takut terpisahkan. Entah badai apa lagi yang akan datang menghampiri keluarga mereka di saat mereka sedang berbahagia menunggu kehadiran bayi yang lucu hadir diantara mereka dari buah cinta mereka yang tertanam di rahim Aisyah.
Dari belakang tembok dapur, Pak Amin dan Mbok Surti pun menangis sejadi-jadinya melihat pemandangan yang menyedihkan itu. Pengorbanan cinta yang harus dibayar dengan rasa kecewa dan penyesalan semoga hasilnya membahagiakan. Kedua asisten itu sudah bekerja sejak awal pernikahan Aisyah dan Baihaqi dan baru kali ini mereka melihat kesedihan yang begitu membuat keadaan mereka terpuruk. Biasanya bila salah satunya bersedih maka salah satunya akan menguatkan dan begitu juga sebaliknya. Tapi hari ini mereka benar-benar terpuruk dan hanya bisa menangisi keadaan yang menjadi takdir mereka.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1