KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 46


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah


__ADS_1


Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Mereka pun berpisah di depan restaurant itu, Baihaqi pun melanjutkan perjalanannya menuju mall untuk membeli sebuah kado untuk Nadya.


Baihaqi dan Pak Amin pergi menuju mall untuk membelikan kado sebagai hadiah ulang tahun Nadya. Dua jam berjalan mengitari mall masuk ke toko mainan yang satu kemudian pindah ke toko mainan yang lain, namun Baihaqi belum juga menemukan hadiah yang cocok dan bermanfaat untuk anak seusia Nadya.


Baihaqi pun berjalan menyusuri lorong mall dan menemukan toko muslimah anak. Langkah Baihaqi pelan menuju toko itu. Setelah melihat lihat, dan bertanya kepada pelayan tentang hadiah yang cocok untuk anak usia enam tahun itu apa. Pilihan Baihaqi pun tertuju pada kotak musik berisi murottal dan sholawatan.


Setelah dibungkus dengan rapi, Baihaqi pun pulang menuju rumahnya untuk mengambil beberapa pakaian untuk dibawa ke Butik. Sebelum itu Baihaqi mengajak Pak Amin untuk makan siang di restaurant favoritnya. Setelah selesai makan sekitar satu jam kemudian Baihaqi pun kembali pulang ke rumahnya.


Mobil Baihaqi sudah meluncur menuju rumahnya. Saat memasuki gerbang perumahannya, hatinya mulai cemas dan gelisah. Tanpa sengaja Baihaqi melihat bendera kuning di depan rumah Hanyfah dan Suaminya.


"Berhenti Pak Amin. Ada apa ya?! Kok ada bendera kuning disana." ucap Baihaqi menelisik dan memperhatikan rumah tersebut.


Pak Amin pun memberhentikan mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah tersebut.


"Lebih baik kita turun Pak Bai. Saya akan parkir mobil dahulu nanti menyusul." ucap Pak Amin sopan.


Baihaqi pun turun dari mobilnya menuju rumah Hanyfah. Suara tangisan histeris memenuhi ruangan di dalam rumah itu. Langkah Biahaqi terhenti mendengar suara teriakan keras Nadya yang terus memanggil nama kedua orangtuanya. Langkahnya pun dipercepat agar cepat sampai di teras rumah Hanyfah.


Ucapan salam Baihaqi pun tak terdengar oleh orang-orang di dalam rumah itu. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang membaca Yasin, ada yang menggendong Nadya dan menenangkan gadis itu dan ada pula yang mempersiapkan untuk acara pemakaman. Namun, itu pemakaman siapa?! Ada dua jenazah yang sudah di pakaikan kain kafan. Banyak orang meriung, terlihat jelas raut wajah sedih, menangis dan berduka.


Baihaqi masuk ke dalam rumah itu dan menyalami orang-orang yang sudah hadir lebih dulu.


"Siapa yang meninggal?! Mbak Hanyfah kemana?" tanya Baihaqi pelan kepada salah seorang pria yang duduk disebelahnya.


"Lho Mbak Hanyfah dan Suaminya meninggal Pak, karena kecelakaan yang menimpanya tiga jam yang lalu. Mbak Hanyfah meninggal ditempat sedangkan Suaminya meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Hanya Nadya yang selamat, sempat ada yang bilang Suami Hanyfah ingin menitipkan Nadya pada Baihaqi. Namun, kami tidak kenal siapa Baihaqi itu." ucap pria itu pelan setengah berbisik.


Jantung Baihaqi langsung berdentam kuat, rasanya seperti dipukul menggunakan kepalan tangannya. Secepat itukah usia seseorang direnggut dan rohnya pun kembali kepada Allah SWT. Baru saja tiga jam yang lalu Baihaqi bertemu dengan keluarga kecil yang ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk anak semata wayangnya di sebuah ballroom hotel. Namun, itu semua menjadi duka bagi keluarga, terlebih bagi Nadya yang tentunya akan trauma dengan tragedi kecelakaan tersebut.


Baihaqi mengedar pandangannya ke seluruh rumah mencari Nadya yang pasti sedang menangis. Kedua bola matanya pun menatap sendu wajah mungil Nadya yang sedang digendong oleh seorang wanita yang kemungkinan adalah kerabatnya. Nadya sudah tidak histeris dan sudah tidak menangis, tatapannya pun menatap sendu ke arah Baihaqi dan memanggil pria itu dengan lantang.


"Papa Bai ... Papa Bai ..." teriak Nadya yang ingin sekali dipeluk dan digendong oleh Baihaqi.

__ADS_1


Baihaqi pun berdiri badan menghampiri Nadya dan menggendong anak itu lalu mengusap punggung anak itu dengan kelembutan.


"Anda benar Baihaqi?!" tanya seorang wanita berpakaian gamis kepada Baihaqi.


"Betul sekali nyonya. Anda saudara Mbak Hany?" tanya Baihaqi kemudian.


"Benar sekali, saya Nita, adik ipar Mbak Hanyfah. Amanah dari kakak saya, saya harus menitipkan Nadya kepada Anda. Apa hubungan Anda dengan Nadya dan keluarganya. Kenapa Nadya begitu menurut denganmu? dan memanggilmu dengan sebutan Papa?" tanya Nita pelan.


"Rumahku hanya berbeda gang, Nadya sangat dekat denganku dan istriku Aisyah. Kebetulan kami belum mempunyai anak, sehingga Nadya sering bermain dan makan bersama dengan istriku Aisyah." ucap Baihaqi pelan.


Nadya yang merasa nyaman dalam gendongan Baihaqi pun mulai tertidur pulas.


"Oh begitu. Rumah ini dan seisinya akan menjadi milik Nadya nanti saat ia sudah berusia dewasa. Aku titipkan keponakanku terhadapmu sesuai amanah kakakku. Aku percaya Anda pasti orang baik hingga Kakakku mau melepaskan putri semata wayangnya untuk di urus oleh Anda Pak Baihaqi." ucap Nita pelan dan lembut.


Hatinya jujur senang sekaligus bingung. Senang karena ada Nadya yang bisa menemani hari-harinya dirumah bila sepi, namun bingung, apakah Baihaqi mampu merawat Nadya dengan baik. Menjalankan suatu amanah itu berat dan tidak mudah, urusannya bukan hanya di dunia saja, melainkan juga di akhirat. Jika Aisyahnya masih ada tentu akan merasa senang bila Nadya bisa tinggal bersama dirumahnya.


"Baiklah akan saya coba merawat Nadya seperti anak kandungku sendiri." ucap Baihaqi pelan dan mantap.


Buliran kristal pun jatuh luruh di pipi Baihaqi saat mengikuti prosesi pemakaman Hanyfah dan suaminya. Dirinya amat terpukul dan selalu mengingat tragedi kecelakaan pesawat yang dialaminya bersama Sang istri uang hingga kini pun tidak diketahui keberadaannya, apakah masih hidup ataupun sudah meninggal.


Hidupnya pun bertambah berat karena suatu amanah yang diberikan oleh keluarga Hanyfah. Sesuai dengan kata hatinya, Baihaqi pun akan mengajak Nadya untuk ke Turki mencari jejak Aisyah dalam keadaan hidup atau mati.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...

__ADS_1


Terima Kasih ....


__ADS_2