
Bram dan semua anak buahnya sudah menyebar di seluruh kota. Informasi tentang Joe dan Edward sangat mudah di dapatkan. Bram hanya berniat membunuh keduanya tanpa menyiksa dan mati di depan matanya. Bagi Bram kejahatan seorang pengkhianat itu sama saja membuat dirinya tidak aman di dunia. Hidup Bram memang selalu bersinggungan dengan kehidupan mafia. Sudah banyak kejahatan yang dilakukanya.
"Bos, saat ini kedua tikus keparat itu ada di rumah sakit sedang mendonorkan darahnya. Apa yang Anda ingunkan? Mati di tempat atau seret ke markas?" ucap Burhan yang baru saja mendapatkan informasi sangat lengkap dari asistennya.
Bram yang masih duduk santai di kursi kebesarannya pun tertawa terbahak-bahak dengan sangat puas. Hidupnya sangatlah mujur, rasanya ingin bermain-main dengan tikus keparat itu sebelum akhirnya mati dan hilang dari peredaran dunia.
"Ikuti saja permainannya, ingat mereka itu licik, bisa jadi mereka sudah melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib. Buat hidup mereka tidak aman dan tidak nyaman, hingga kesempatan itu tiba tembak keduanya. Lalu, urus wanita hamil itu, saya pusing mendengar rengekannya," ucap Bram dengan sangat tegas dan lantang menitah Burhan.
"Baik saya paham. Tapi, kalau ada kesempatan baik, bolehkah saya langsung mengeksekusi keduanya. Takut kesempatan yang baik hilang begitu saja," ucap Burhan pelan menjelaskan.
Jujur Burhan banyak berhutang budi pada Bram. Saat ini Burhan betul-betul sangat setia pada Bram, mungkin kalaupun nyawanya harus menjadi korban Burhan pun sangat siap sekali.
Bram mengangguk pelan dan tersenyum lebar.
"Buat mereka tersiksa lalu tembak. Pastikan mereka mati, bukan kritis," ucap Bram tegas.
Burhan pun tersenyum, misinya kali ini sangat mudah dan sangat membuat Burhan ingin bersenang-senang membuat seseorang menjadi takut dan menyesal seumur hidup.
"Saya paham dengan tugas saya," ucap Burhan pelan.
"Aku tahu, ini adalah pekerjaan mudah dan sangat kamu sukai Burhan," ucap Bram pelan dengan tersenyum smirk ke arah Burhan yang terlihat sangat antusias.
"Wanita itu harus di buang kemana? Tapi, anak buahku menginginkan wanita itu sebagai pelampiasan hasrat," ucap Burhan pelan saat beberapa anak buahnya ingin bersenang-senang dengan wanita hamil itu.
Tatapan Bram lekat kepada Burhan yang kemudian menundukkan kepalanya karena takut salah bicara.
__ADS_1
Bram pun tertawa terbahak-bahak dengan suara keras sambil menggebrak mejanya.
"Wanita itu hak kamu, mau kamu apakan itu terserah. Satu hal yang perlu kamu ingat, buang wanita itu, jangan kamu buat mati karena kelelahan," ucap Bram dengan tawa yang keras.
Burhan mengangkat wajahnya sambil tertawa lebar dengan penuh semangat. Dirinya juga ingin mencicipi wanita hamil besar itu yang membuatnya sejak kemarin meninggi.
"Baiklah Bos. Saya permisi, langsung melakukan tugas dan segera membuang wanita hamil itu," ucap Burhan tegas.
Bram tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan wajahnya sambil mengibaskan tangannya yang menandakan bahwa Burhan harus segera pergi dari ruangannya.
Anggie sudah lemas sekali, sudah beberapa hari ini tidak makan dan minum. Doanya tidak putus, dzikir dan sholawatnya terus dilakukan, seperti apa yang diajarkan Aisyah kepadanya. Hidupnya kini berserah diri kepada Allah SWT, dosa besar yang telah ia perbuat dan menyakiti banyak orang kini harus ditebusnya, dan Allah memberikan karmanya secara tunai. Anggie benar-benar menyesali semua apa yang selama ini dilakukan, Anggie hanya berharap bisa melahirkan bayinya dengan lancar.
Suara knop pintu pun terbuka, terlihat Burhan masuk ke dalam ruangan gelap itu sambil membawa satu kantong plastik berisi makanan dan minuman serta segelas susu hangat untuk Anggie.
"Hai, cantik," sapa Burhan pelan sambil membuka kunci pada rantai besi yang mengikat kaki Anggie.
Setelah membuka rantai besi itu, Burhan memberikan susu hangat kepada Anggie dan sekantong plastik makanan.
Anggie menerima satu gelas susu hangat itu dan kantong plastik itu sammbil menatap lekat mata Burhan. Ada ketidaktulusan di matanya, ada sesuatu pamrih yang diharapkan dengan pemberian itu.
Burhan hanya menatap tajam ke arah Anggie.
"Cepat di minum dan makan, setelah ini kamu aku bebaskan. Pergilah kemana kamu suka," ucap Burhan pelan. Senyum liciknya di simpan di dalam hati saja agar Anggie tidak merasakan curiga yang berkepanjangan.
Anggie menggelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya sambil meminum susu hangat itu. Kalaupun ada racun di dalamnya mungkin memang sudah takdirnya mati. Tapi, kalau dibebaskan sepertinya tidak mungkin dan itu semua hanyalah harapan yang tidak akan mungkin terjadi. Seluruh jagad raya juga tahu, siapa Bram sebenarnya. Tidak akan melepaskan mangsanya bila belum mati di tangannya. Ini adalah resiko bekerja sama dengan Bram dan berkhianat pada bos besar licik itu.
__ADS_1
"Jangan ragu kepadaku. Asal kamu tidak berisik dan diam, aku akan membawamu segera pergi dari sini. Lihat perutmu sudah membuncit, tentu kamu harus melahirkan dan aku tidak mau di repotkan untuk hal itu. Kamu paham?" ucap Burhan pelan seoalh membela Anggie.
Banyak orang tidak.mengenal kekejaman Burhan. Selama ini Burhan hanya bekerja di belakang layar. Setiap misinya tidak ada yang pernah gagal bahkan semua selalu mendapat applaus baik dari Bram.
Cara kerja Burhan itu pelan tapi pasti. Semua dilakukan dengan santai dan tepat pada sasaran serta semua dilakukan dengan tenang tanpa ada rasa buru-buru.
Idenya selalu cemerlang membuat musuh menjadi menyerah dan kalang kabut dan tidak mau bersinggungan dengan geng besar Bram.
Mendengar ucapan Burhan, Anggie tidak lekas mudah percaya, banyak pelajaran yang selama ini di ketahui. Perbuatan baik itu selalu ada pamrih, jarang seseorang melakukan itu semua dengan cuma-cuma dan perasaan yang tulus dan ikhlas.
"Boleh kan, Anggie meragukan Bagi Anggie hanya Allah yang pasti," ucap Anggie pelan setelah menghabiskan susu hangat itu.
Kini Burhan membantu Anggie membuka beberapa roti dan makanan cemilan ringan dan air mineral.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat dengan wanita. Makanlah satu jam lagi kita keluar dari rumah besar ini, hanya ada aku dan kamu," ucap Burhan tegas sambil.menatapa Naggie dengan lekat dan tajam.
DEG!
DEG!
DEG!
Suara itu begitu terdengar nyaring dan membuat tubuh Anggie bergidik dan tatapan itu seolah-olah tatapan kekejaman yang tidak ada ampun.
Anggie berusaha tenang dan membuang jauh pikiran buruk itu dari kepalanya. Anggie mulai menikmati satu per satu makanan itu hingah kenyang.
__ADS_1