KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
88


__ADS_3

Hari ini Aisyah baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Tubuhnya masih berada di brankar kamar rawat inap dengan tubuh terbalut selimut fengan rapat.


Kedua mata Aisyah sudah terbuka lebar dan menoleh ke arah kanan dan arah kiri secara bergantian mencari-cari sosok orang yang bisa diajak bicara.


Tapi sayang, ruangan itu tampak kosong. Hanya ada semangkuk bubur yang masih panas di atas nakas dengan dmsatu gelas teh manis panas yang masih mengebulkan uap panas.


Pintu kamar rawat inap itu terbuka dan masuk dua orang perawat wanita dengan mendorong rak kecil berisi obat-obatan dan alat-alat kesehatan untuk memeriksa pasien.


Kedua perawat perempuan yang masih muda itu saling berbincang sambil menyiapkan alat tensi darah untuk memeriksa tekanan darah Aisyah.


"Kita periksa dahulu Bu Aisyah? Sarapannya belum dimakan?" tanya salah seorang perawat yang sedang memompa alat tensi itu sambil menatap layar alat tensi itu tanpa berkedip.


Aisyah hanya diam, dirinya sedang malas berbicara untuk hal yang menurut Aisyah tidak terlalu penting.


"Tekanan darahnya sudah normal. Ini obatnya diminum setelah sarapan," ucap salah satu perawat sambil meletakkan satu piring kecil berisi tiga butir obat yang harus diminum oleh Aisyah.


Aisyah hanya tersenyum dan mengangguk pelan sambil melirik ke arah piring obat. Tiga butir obat itu nampak begitu besar-besar. Tatapannya lalu menoleh kembali kepada dua perawat itu yang melanjutkan perbincangan mereka. Aisyah menyimak keduanya berceloteh dan nampak sangat serius sekali.


Sayup-sayup terdengar perbincangan itu menceritakan seorang wanita yang mengalami pendarahan setelah melahirkan dan kini dalam keadaan koma di ruang ICU, sedangkan bayinya berada di ruang perawatan bayi, dan menangis terus sejak kedatangannya tadi pagi walaupun sudah di beri susu formula sebagai pengganti ASI.


"Nama pasiennya siapa?" tanya satu perawat kepada teman seprofesinya itu.


"Anggie dan bayinya bernama Salwa. Nama yang cantik secantik wajah bayi itu, beneran bikin gemas," ucap satu perawat itu sambil membuka pintu kamar rawat inap itu.


DEG!!


Perasaan Aisyah langsung tidak menentu. Jantungnya seperti berlari berkejar-kejaran, ingatannya kembali bercabang mengingat sosok Anggie yang pernah menjadi madunya.


"Apakah itu kamu, Anggie? Anggie yang ku kenal?" lirih Aisyah sambil memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Ada getaran aneh di dalam tubuh Aisyah, bukan sengatan listrik atau tersambar peti. Tapi aliran darahnya seperti terpacu naik hingga ubun-ubun.


Raina masuk ke dalam kamar rawat inap itu dengan pakaian dinas kedokteran dengan lengkap. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jas dokternya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Aisyah. Bagaimana tidurnya nyenyak?" Goda Raina dengan sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Mbak Raina, bagaimana kabar Mas Bai? Ada kemajuan?" tanya Aisyah dengan getir.


Pikirannya tidak tenang dan terus tertuju pada Baihaqi yang masih berada di ruang ICU.


"Sehat dulu, baru boleh kesana," ucap Raina pelan sambil mengambil satu mangkuk bubur yang masih hangat.


"Aisyah sudah sehat. Aisyah ingin melihat Mas Baihaqi," ucap Aisyah pelan sambil menatap lekat ke arah Raina.


Raina hanya menggelengkan kepalanya pelan. Aisyah wanita yang keras kepala. Segala keinginannya harus dituruti tanpa terkecuali.


"Makan dulu, kalau kamu sudah sehat, jawaban kamu juga tidak pelan seperti tidak ada tenaga,"ucap Raina pelan lalu menyendokkan satu sendok bubur dan mengarahkan ke mulut Aisyah.


Aisyah menatap wajah Raina tanpa berbicara apapun dan tidak membuka mulutnya untuk menerima suapan itu.


"Aisyah tidak mau makan," ucap Aisyah singkat.


Raina mengagguk pelan dan meletakkan kembali sendok itu ke dalam mangkuk.


"Baiklah jika tidak mau makan. Mbak juga tidak bisa membantu kamu. Maaf ya," ucap Raina pelan namun terdengar sangat tegas.


Aisyah mendongakkan wajahnya dan menatap punggung Raina yang sudah berjalan ke arah luar kamar rawat inap itu dan mejauh darinya.


"Aisyah mau makan. Tapi sambil melihat Mas Baihaqi," ucap Aisyah dengan suara lirih.


Raina mendengar ucapan Aisyah pun ikut tersenyum di balik bibirnya yang mungil. Raina berpura-pura tidak mendengar dan berjalan lurus ke depan tanpa merespon ucapan Aisyah.


Melihat Raina yang mengabaikan ucapannya, Aisyah pun berteriak lagi agar Raina mendengar ucapannya.


"Mbak Raina, Aisyah mau makan!!" teriak Aisyah semakin keras agar Raina mendengar teriakannya.


Langkah Raina pun terhenti. Membalikkan tubuhnya dan meatap ke arah Aisyah.


"Makan dulu baru lihat Baihaqi. Kalau tidak mau ya sudah," tegas Raina memberikn pilihan kepada Aisyah.

__ADS_1


Mana mungkin makan bubur di depan ruang ICU sambil mendorong kursi roda. Raina sudah seperti baby sitter saja yang sedang menyuapi bayi besar sambil melihat-lihat apa yang menjadi keinginannya.


"Pilihannya hanya itu?" tanya Aisyah mencari pilihan yang terbaik untuknya.


"Aisyah!! Mbak itu hnaya ingin kamu makan dan minum obat. Hanya itu. setelah itu mari kita lihat kondisi Baihaqi," ucap Raina pelan menjelaskan.


Aisyah mengagguk pelan dan pasrah.


"Iya, Aisyah mau makan dan minum obat," ucap Aisyah lirih.


"Nah, dari tadi begitu. Tidak perlu berdebat, malah udah kelar makan dan minum obatnya. Begini jadi menunda waktu kan?" ucap Aisyah pelan mengungkapkan kekesalannya.


Aisyah hanya diam dan mengangguk pasrah. semua salahnya, terlalu egois dengan keadaan. Tidak mau menerima saran yang baik untuk dirinya. Bentuk kepedulian seseorang itu kan berbeda-beda.


"Maafkan Aisyah Mbak Raina," ucap Aisyah tampak menyesal dengan sikap kekanak-kanakkannya.


Raina tersenyum ke arah Aisyah dan mulai menyuapinya dengan telaten.


"Kamu harus sabar Aisyah. Apapun yang terjadi, itu semua sudah takdir. Itu semua yang terbaik untuk kita dan itu semua sudah menjadi ketetapan Allah SWT," ucap Raina lembut. Raina berusaha mengajak Aisyah berbicara tentang fakta, berbicara tentang apa yang bakal terjadi nantinya.


Raina sangat tahu kondisi Baihaqi saat ini. Baihaqi yang masih saja tidak sadarkan diri setelah tertembak secara tidak sengaja itu. Luka tembak itu mematikan ebrapa syaraf inti di tubuhnya hingga saat ini Baihaqi dinyatakan buta permanen. Hidupnya juga tidak bisa dipastikan lagi.


Saat ini nyawa Baihaqi sedang diambang bats waktu. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya bertahan hidup. Sedih, sudah tentu. Tapi Raina tidak berani membuka apa yang sebenarnya terjadi.


Raina hanya bilang, Baihaqi pasti sembuh dan pulih seperti sedia kala.


"Mbak Raina?" panggil Aisyah dengan suara lembutnya.


Raina yang terkejut saat Aisyah memegang erat tangan Raina.


"Aku tidak melamun," ucap Raina tiba-tiba.


Aisyah hanya menatap lekat kedua mata Raina dan tertawa.

__ADS_1


"Hem ... Tidak melamun? Tapi diajak bicara diam saja?" ucap Aisyah pelan.


"Tanya apa? Perasaan Mbak tidak mendengar pertanyaan kamu?" ucap Raina dengan polos.


__ADS_2