
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku (Tamat)
Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)
Angkringan Cinta (Tamat)
Kopi Paste
Kesucian Syahadat ( Tamat)
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Bulan dan Bintang
Kang Tatang dan Asmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Boleh Anggie. Kita bertemu disini di jam yang sama." ucap Aisyah pelan.
Anggie langsung berpamitan dan bangkit berdiri untuk pergi. Rasanya Anggie sangat bahagia menemukan Aisyah kembali, seperti menemukan berlian yang hilang di dalam lumpur.
"Tunggu aku di tempat ini besok pagi Kak Aisyah." ucap Anggie pelan sambil memeluk Aisyah lagi.
"Hati-hati Anggie. Jaga kandunganmu. Lihat perutmu sudah membesar, pasti sebentar lagi anak ini akan lahir." ucap Aisyah lembut kepada Anggie.
"Anggie pulang dulu Kak Aisyah. Sekali lagi, maafkan Anggie telah membuat Kak Aisyah menderita. Aku ..." ucapan Anggie pun terhenti. Matanya sudah basah dan satu tetes air matanya sudah menetes di pipinya.
__ADS_1
"Heii... ada apa Anggie?? Ceritakan padaku?" tanya Aisyah dengan lembut.
Aisyah mengusap air mata yang sudah menetes di pipi Anggie.
"Aku gak papa Kak Aisyah. Aku akan ceritakan semuanya bila sudah waktunya. Sampaikan permintaan maaf ku pada Pak Baihaqi." ucap Anggie pelan.
"Baiklah aku tunggu Anggie. Semua yang sudah terjadi dan semua yang pernah terukir di dalam kehidupan kita, harus kita syukuri. Kamu tetap adikku Anggie. Biar bagaimana pun juga, kamu pernah mengisi kehidupan Mas Baihaqi. Kamu pernah jadi maduku, dan itu semua menjadikan kita seperti saudara." ucap Aisyah pelan.
"Makasih Kak Aisyah. Kamu benar-benar kakak terbaik untukku." ucap Anggie pelan sambil memegang tangan Aisyah.
"Mana Anggie yang ku kenal dulu. Semangat." ucap Aisyah lembut. Anggie pun mengagguk dan pergi meninggalkan Aisyah.
Aisyah menatap kepergian Anggie. Punggungnya masih terlihat di jalan setapak taman. Edward sang bodyguard berjalan di belakang Anggie. 'Perasaanku kok kayak gak enak.' lirih Aisyah dalam hatinya.
"Aisyah .... Humairahku ...." teriak seseorang dengan ciri khas suara yang sudah sangat di hapal oleh Aisyah.
"Mas Bai ..." jawab Aisyah pelan lalu mencium punggung tangan Baihaqi dengan sopan. Nadya yang sejak tadi mencari kupu-kupu pun langsung memeluk Aby Baihaqi.
"Aduhhhh ini anak Aby. Sudah makan?" tanya Baihaqi pelan kepada Nadya.
"Sudah Aby. Tapi Nadya mau es krim. Kata Umi tadi gak boleh karena masih pagi." ucap Nadya polos mengadu kepada Baihaqi.
"Ohh anak Aby sekarang pinter ngadu ya." ucap Aisyah menjawil pipi gembil Nadya.
"Nadya mau es krim. Kita beli ya kesana. Aisyah kamu tunggu disini ya." ucap Baihaqi pelan.
Aisyah duduk kembali dan menengok arah pulang Anggie tadi namun sudah tidak terlihat kemana perginya. Kedua matanya berkeliling dan menatap kemesraan antara Nadya dengan Baihaqi. Hubungan anak dengan Ayahnya yang begitu dekat. Allah SWT itu sungguh baik, dan memberikan semuanya dengan cara yang sempurna.
DI TEMPAT LAIN
Anggie dan Edward sudah berjalan menuju apartemennya. Langkah mungil Anggie yang sudah tampak kelelahan karena membawa perutnya yang semakin buncit. Kantung plastik yang berisi berbagai makanan camilan itu sudah berada di tangannya.
Apartemen Anggie tampak sepi namun, ada satu ruangan yang terlihat berisik dan banyak orang disana. Anggie berjalan menuju kamarnya dan memberikan kantung plastik kepada asistennya.
Samar-samar terdengar suara Joe sedang memberikan arahan kepada anak buahnya. 'Sebenarnya apa pekerjaan Joe?' batin Anggie di dalam hatinya saat melewati ruangan tersebut.
Edward yang mengetahui itu kemudian menutup rapat pintu ruangan itu.
"Lebih baik nyonya Anggie langsung ke kamar." ucap Edward pelan.
"Iya Edward." ucap Anggie pelan.
Anggie langsung menuju kamarnya dan menutup pintunya dengan rapat. Satu kata yang saat ini selalu ada dalam pikirannya 'Bosan'. Ya, sudah beberapa bulan ini, Anggie hanya berada dalam kamarnya dan melakukan rutinitas hanya di dalam kamar.
Dari perawatan, potong rambut, membeli pakaian hingga make up semua terjadi di dalam kamarnya. Apapun yang diinginkan Anggie selalu dipenuhi oleh Joe.
"Nyonya Anggie, ini camilannya." ucap asisten Anggie memberikan satu piring besar berisikan aneka camilan yang dibelinya ditaman tadi.
"Terima kasih. Joe kemana?" tanya Anggie pelan sambil makan camilan itu.
__ADS_1
"Tuan Joe sedang rapat Nyonya. Sepertinya kita akan pindah dari sini." ucap asisten Anggie pelan.
"Pindah?? Kemana?? Aku senang disini. Ada taman bunga yang selalu bisa aku kunjungi setiap hari." ucap Anggie pelan.
"Saya kurang tahu Nyonya." ucap asisten itu singkat.
"Oke ... Kalau ada Joe, suruh kemari sebentar. Anakku merindukannya." ucap Anggie sambil mengusap perut buncitnya.
Pintu kamar Anggie terbuka, dan Joe masuk dengan tergesa-gesa. Lalu menyuruh asisten menyiapkan semua yang sudah dipersiapkan sejak tadi pagi.
"Kamu masih makan? Bawa makananmu. Kita harus pergi sekarang. Aku sudah menyiapkan rumah untukmu sayang." ucap Joe pelan.
"Kita mau kemana Joe? Apakah kita akan pindah?" ucap Anggie pelan.
"Ayo Anggie. Waktu kita gak banyak." ucap Joe pelan sambil menarik tangan Anggie.
"Semua foto sudah dibawa?" tanya Joe kepada asistennya.
"Sudah semuanya Tuan." ucap asisten itu pelan.
Joe dengan segera menarik tangan Anggie dan membawanya keluar apartemen dan menaiki bus yang sudah dipersiapkan. Anggie duduk di bagian depan bersama Joe. Di bangku bagian belakang terdapat barang-barang Anggie dan beberapa asisten dan bodyguard Joe.
"Ada apa Joe sebenarnya?" tanya Anggie pelan sambil menatap ke arah Joe.
Tidak lama terdengar suara sirine Polisi datang dari arah berlawanan dan langsung mengepung area apartemen milik Joe dan Anggie. Anggie menatap beberapa mobil polisi datang dan langsung memasuki area apartemen. Terlihat jelas dari spion bis, beberapa polisi menangkap anak buah Joe.
Anggie menatap tajam ke arah Joe. Duduknya pun sampai dimiringkan agar pandangan mereka bertemu.
"Jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi." tanya Anggie dengan tegas.
"Cukup Anggie. Nanti akan kujelaskan. Sekarang kamu diam dan turuti semua keinginanku." tegas Joe yang tidak mau dibantah.
Perasaan Joe sudah campur aduk. Ini kali pertamanya bisnisnya tercium oleh pihak yang berwajib, sepertinya ada orang yang berkhianat disini.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1