
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Tangisan keduanya pun pecah dan saling terdiam membisu seakan dada mereka sesak karena janggalan dosa yang melukai hati selembut Aisyah.
__ADS_1
Anggie dan kedua asisten itu benar-benar merasa kehilangan sosok yang mulia dan baik serta penyayang seperti Aisyah.
DUA BULAN KEMUDIAN ..
Baihaqi sudah mendapatkan perawatan dan terapi di Rumah Sakit Singapura. Sudah satu bulan lebih Baihaqi berada di Singapura ditemani oleh Suci, Zhein dan Fathan.
Seluruh asisten Aisyah pun sudah kembali ke Indonesia menjalankan aktivitas seperti biasa. Tahlilan pun sudah dilakukan saat pencarian Aisyah tidak ditemukan dan sudah dihentikan oleh pihak SAR.
Hancur sekali hati Baihaqi, mengingat pelukan terakhirnya tiba-tiba terlepas begitu saja karena tertimpa barang-barang yang keluar dari bagasi pesawat. Semua berhamburan seperti busa sabun yang dihembuskan dari atas ke bawah. Terakhir masih dalam keadaan sadar, Aisyah masih memejamkan matanya dan mencari cari sosok suaminya yang sudah tidak memeluk suaminya. Tidak lama Baihaqi pun terhantam benda dan tidak sadarkan diri hingga ditemukan diantara puing-puing pesawat itu.
-DI RUMAH BAIHAQI, INDONESIA-
Anggie mengurungkan niatnya untuk datang ke Singapura karena status dirinya yang tidak diketahui oleh pihak keluarga besar baik Baihaqi maupun Aisyah. Keluarga besar sedang berduka dan Anggie tidak mungkin memperkeruh masalah ini dengan Kedatangan dirinya secara tiba-tiba dengan perutnya yang membuncit.
Asisten kepercayaan Aisyah pun sering datang untuk memberikan keuntungan dari Butik untuk biaya hidup Anggie dan kedua asistennya sesuai perintah Baihaqi sebelum dipindahkan ke rumah sakit. Melakukan tahlil selama empat puluh hari setiap ba'da Maghrib.
Kini usia kandungan Anggie pun sudah sekitar delapan bulan lebih. Tubuhnya tidak dapat menerima makanan apapun hingga stres melanda Anggie.
Sudah hampir satu bulan ini Anggie mengurungkan dirinya di kamar tidurnya. Melaksanakan ibadah sesuai yang diajarkan Aisyah. Menangis diatas sajadah dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini.
Perutnya sering keram dan mulas luar biasa. Sudah dua bulan Anggie pun tidak memeriksakan kandungannya ke bidan atau dokter kandungan langganan Aisyah. Wajahnya terlihat pucat dan lemas.
"Non Anggie mau makan apa?" tanya Mbok Surti yang membawa susu hamil untuk Anggie yang masih duduk bersandar di ranjangnya.
Anggur hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak lapar Mbok. Aku kangen Kak Aisyah." ucap Anggie pelan.
"Non Anggie makan dulu ya. Saya buatkan bubur, kasihan anak didalam perut Non Anggie, dia gak bersalah Non." ucap Mbok Surti dengan lembut.
Tanpa aba-aba, Mbok Surti pun kembali ke dapur dan mengambil semangkok bubur untuk di suapkan kepada Anggie.
Telepon pun berdering dengan keras, Mbok Surti pun meletakkan mangkok bubur itu di meja makan lalu berlari mengangkat telepon rumah yang terus berdering nyaring.
Sambungan itu langsung dari Singapura, Suci sengaja menelepon Mbok Surti menanyakan kabar di rumah dan bagaimana acar tahlil dirumah. Meminta agar mengikhlaskan Aisyah yang memang sudah tidak ada walaupun jenasahnya tidak diketemukan.
Dua puluh menit Suci dan Mbok Surti pun bertukar kabar dan informasi kesehatan Baihaqi yang kemungkinan harus dirawat satu bulan lagi untuk memulihkan kondisinya agar benar-benar stabil dan normal kembali.
__ADS_1
Gubrak ....
Suara nyaring seperti ada benda besar yang jatuh dilantai membuat Mbok Surti yang masih bertukar cerita dengan Suci pun kaget mendengar itu, namun tidak ada teriakan maupun rintihan kesakitan hingga Mbok Surti pun mengabaikan asal suara itu dan tetap bertukar kabar dengan Suci.
Akhirnya sambungan telepon pun diakhiri tepat di menit ketiga puluh. Mbok Surti pun mengambil mangkok dan kembali masuk ke kamar Anggie untuk menyuapi bubur itu. Langkahnya pun terhenti dan mangkok yang ada ditangannya pun ikut berhamburan jatuh ke lantai.
Mbok Surti pun teriak memanggil Pak Amin dan menubruk tubuh Anggie yang sudah tidak sadarkan diri. Darah mengalir deras disekitar pangkal pahanya. Anggie terjatuh dikamar mandi dengan posisi menyamping.
Dengan sigap Pak Amin pun mengangkat tubuh Anggie untuk segera dibawa ke rumah sakit agar cepat ditindak mendapat pertolongan.
Mbok Surti dan Pak Amin pun hanya mondar mandir di depan kamar operasi dan berharap semuanya baik-baik saja. Mbok Surti dan Pak Amin awalnya ingin memberitahukan kabar ini kepada Baihaqi pun diurungkan kembali. Seperti yang diketahui kondisi Baihaqi belum seratus persen pulih dan normal, hati dan pikirannya harus dijaga agar tidak stres dan berakibat buruk pada kesehatannya kembali.
Sebisa kedua sistem setia itu akan menjaga dan merawat Anggie hingga kondisinya membaik. Namun pendarahan tadi membuat operasi sesar pun segera dilakukan, karena benturan keras pada perutnya bisa berakibat fatal bagi keduanya, Ibu dan anaknya.
Lampu ruang operasi pun sudah mati. Memang sudah hampir dua jam mereka menunggu hasilnya. Dokter pun keluar dan mendekati keluarga pasien.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha maksimal namun anak dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan. Kami hanya bisa menyelamatkan ibunya saja." ucap Dokter itu dengan tegas lalu pergi meninggalkan kedua asisten Baihaqi dalam keadaan diam dan terkejut.
"Pak Amin ... Bayi Bu Anggie tidak selamat, Astaghfirullah ... Cobaan apa ini, terus menerus selaku datang silih berganti." ucap pelan Mbok Surti sambil menangis. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang sudah tua hingga kakinya pun terasa lemas dan tak berdaya. Tubuhnya pun terhuyung tidak seimbang.
Pak Amin pun dengan sigap menangkap tubuh tambun itu dan memapahnya untuk duduk di kursi tunggu depan kamar operasi.
"Sabar Mbok Surti. Kita serahkan semuanya pada Allah SWT. Kita harus yakin, semua ini adalah yang terbaik untuk kita." ucap Pak Amin pelan menenangkan hati Mbok Surti yang masih terus bersedih.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
__ADS_1
Terima Kasih ....