KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 71


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


"Terima kasih Anggie, kamu sudah menguatkan aku. Kak Fathan bisa kita ke rumah sakit sekarang?" ucap Aisyah pelan.

__ADS_1


Aisyah berlari sekencang mungkin menyusuri koridor rumah sakit, menuju ruang ICU tempat Baihaqi dirawat.


Langkah kakinya memang sangat kecil, tubuhnya terlihat lemas dan letih karena menangis terus tanpa henti sejak dua jam yang lalu, saat Kak Fathan memberikan kabar duka tentang Baihaqi.


Bajunya yang menyapu lantai hingga sesekali terinjak oleh kakinya sudah tidak diindahkan lagi. Sesekali Aisyah hampir saja terjatuh karena tubuhnya tidak seimbang saat berlari. Tubuhnya lemas dan tidak bertenaga. Kakinya sejak tadi sudah gemetaran sejak tadi, jantungnya sudah berlarian entah kemana.


Aisyah terus menatap ke depan, fokus pada kamar ICU di ujung koridor. Anggie dan Kak Fathan masih berada di belakang jauh tertinggal.


Sama seperti Aisyah. Anggie pun merasakan hal yang sama. Walaupun mereka tidak pernah intim selama pernikahannya yang hanya bertahan kurang lebih satu tahun. Jantung Anggie ikut berdetak kencang dari biasanya. Tubuhnya yang kecil sudah berat membawa perut besarnya juga harus terbebani dengan berita duka tentang Pak Baihaqi.


Siapa sangka, mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang tidak baik. Bukan hanya itu saja, Anggie juga mengkhawatirkan keadaan Joe suaminya, yang tidak ada kabar, terlebih tadi Anggie langsung ke rumah Aisyah.


Aisyah sudah berdiri tepat didepan kamar ICU tempat Baihaqi dirawat. Kamar itu tertutup rapat hanya kaca tembus pandang untuk melihat Baihaqi yang sedang terbaring lemah tak berdaya dengan segala macam selang yang berad di wajahnya, entah itu selang apa, yang jelas melihat keadaannya seperti itu air mata Aisyah langsung tumpah dengan deras tak terbendung. Keningnya disandarkan pada dinding kaca. Kedua tangannya hanya bisa menyentuh dinding kaca tanpa bisa tembus untuk menyentuh tubuh suaminya.


"Bangun Mas Bai ... Aku datang Mas." ucap Aisyah lirih. Rasanya hampa dan kosong, pikirannya tidak bisa berpikir jernih lagi. Aisyah langsung membuka pintu kamar itu, namun ada petugas yang menghadangnya.


"Maaf Bu. Tidak boleh masuk ke kamar ini." ucap salah seorang perawat.


"Aku istrinya, suster." ucap Aisyah dengan suara keras.


"Saya hanya menjalankan tugas. Maafkan saya Bu." ucap perawat itu pelan menjelaskan.


"Biarkan Aisyah masuk. Dia istri korban." ucap Raina dengan lantang dari belakang Aisyah.


"Kak Raina!!" teriak Aisyah keras.


"Aisyah ... Kamu yang sabar ya ..." ucap Raina memeluk Aisyah.


"Siap dokter. Silahkan Bu, lewat sini." ucap perawat itu pelan.


Aisyah menurut kepada perawat itu dan masuk ke dalam ruang ICU.


Tangan dan kakinya terasa kaku untuk melangkah masuk ke dalam ruangan. Ruangan yang begitu dingin sekali, saat udara hembusan AC menerpa seluruh tubuh Aisyah hingga masuk ke dalam kulit. Tubuhnya gemetar saat mendengar suara mesin yang berbunyi pertanda kehidupan seseorang. Di depannya sudah terlihat terkulai lemas, tubuh yang yang terbaring tidak berdaya. Ada selang untuk bernafas yang tertempel di hidung Baihaqi. Tubuhnya terbungkus selimut, wajahnya terlihat pucat dan matanya tertutup rapat.


Aisyah hanya bisa menangis, dunianya seakan berhenti melihat keadaan dan kondisi Baihaqi seperti itu. Dadanya sangat sesak, napasnya pun ikut tersengal karena batinnya begitu perih dan menyesal.


Menyesal dengan semuanya, menyesali keadaan dan menyesali kenapa harus Baihaqi yang menerima ini semua.


'SIAPA YANG HARUS AKU SALAHKAN?? SANG PEMBERI HIDUP KAH?? SIAPA!!' jeritnya keras dalam hati.


Kakinya mau tidak mau diseret paksa menuju brankar Baihaqi, tangannya sudah dingin. Aisyah pun memghamburkan tubuhnya ke arah Baihaqi yang sedang tidak sadarkan.

__ADS_1


Kepalanya diletakkan di dada Baihaqi. Biasanya dada itu selalu ada saat Aisyah terpuruk dan sedang tidak baik-baik saja. Namun, sekarang dada itu begitu keras, tidak ada tanda-tanda kehidupan, rasanya juga lebih dingin dan terasa mati. Aisyah menangis sejadi-jadinya di dada itu. Merasakan kembali masa sulit yang entah kapan akan berakhir.


Raina mendekati Aisyah dan memeluk Aisyah dengan penuh kasih sayang. Jiwa kesedihannya juga ikut larut melihat Aisyah yang terlihat sangat kecewa dan sedih.


Anggie dan Fathan hanya melihat dari kaca tembus pandang itu. Anggie hanya menatap mantan suaminya itu dengan tatapan nanar sekaligus iba.


'Apa yang sebenarnya terjadi, Suamiku sendiri belum ditemukan sampai saat ini.' batin Anggie dalam hatinya.


Tidak hanya Anggie yang meneteskan air mata. Kak Fathan juga ikut hanyut dalam drama kesedihan Aisyah. Jiwanya tiba-tiba meronta-ronta ingin menangis, namun tetap ia tahan agar tetap terlihat tegar di depan Aisyah.


Raina membisikkan kata-kata yang sangat meyayat hati Aisyah. Perih bagaikan teriris namun tidak berdarah, tapi sakit sekali rasanya.


"Aisyah, anggap ini sebagai ujianmu." ucap Raina lirih tepat di telinga Aisyah.


Aisyah membuka matanya dan menatap Kak Raina yang sudah berada di sampingnya.


"Kak Raina bilang ini ujian untuk Aisyah. Mudah sekali Kakak bicara? Tanpa tahu bagaimana hancurnya perasaan Aisyah saat ini." ucap Aisyah setengah berteriak.


"Aisyah ... Maksud Kakak bukan seperti itu. Tapi, tolong jangan seperti ini, jangan menangis terus, masih ada cara lain yang lebih baik bukan menangis. Baihaqi akan sedih melihat kamu seperti ini Aisyah." ucap Raina lembut dan membawa tubuh Aisyah ke dalam pelukannya.


"Aku tidak sanggup Kak Raina. Sangat tidak sanggup. Ini ujian terberat Aisyah, tapi Aisyah merasa tidak sanggup." ucap Aisyah pelan dan menangis sesegukan.


"Kamu pasti kuat Aisyah. Kamu mampu menjalani ini semua, Kamu pasti bisa sabar dan ikhlas." ucap Raina mengusap punggung Aisyah dengan lembut.


"Aisyah takut ... takut bila Mas Baihaqi harus meninggalkan Aisyah selamanya." ucap Aisyah lirih.


Raina pun melepaskan pelukannya dan menatap Aisyah dengan tatapan sendu.


"Apa yang kamu katakan Aisyah. Kamu punya Allah SWT. Mintalah sama Allah SWT, keajaiban untuk menyembuhkan Baihaqi." ucap Raina lembut.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2