KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 54


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


"Mas ... Nadya kok bisa bersamamu?" tanya Aisyah pelan.


Baihaqi pun terhenyak seketika. Bahkan Baihaqi melupakan Nadya yang sejak tadi bermain dengan Azan.


Aisyah duduk bersandar pada bed dengan beberapa bantal yang ditumpuk agar pinggangnya tidak sakit. Sementara Baihaqi sedang mengambilkan makanan didalam piring untuk menyuapi istri tercintanya itu.

__ADS_1


Baihaqi duduk dan mulai menyuapi. Matanya memerah dan mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Mas?" tanya Aisyah pelan. Mulutnya mengunyah makanan yang diberikan oleh Baihaqi.


"Nadya ... Dia sekarang yatim piatu Aisyah. Suami Mbak Hanyfah sendiri yang menitipkan Nadya kepada Mas, saat beliau sakratul maut. Ini Amanah Aisyah, bahkan kita telah memiliki dua anak. Kita akan jaga dan rawat bersama dengan akhlak yang baik." ucap Baihaqi pelan.


Aisyah pun seketika menatap Nadya yang masih melihat sang adik dari box bayi yang tidak jauh dari jangkauan mata mereka.


"Nadya sayang... Kemari Nak, peluk Umi. Umi rindu dengan Nadya." ucap Aisyah pelan.


Merasa namanya dipanggil, Nadya pun menoleh ke arah Umi Aisyah dan tersenyum lebar. Awalnya Nadya begitu merindukan Umi Aisyah tapi sejak melihat Azan adiknya, bagaikan tersihir jiwanya untuk menjaga sang adik. Azan yang begitu tampan dan memiliki pesona tersendiri hingga Nadya kakaknya pun langsung menyukai adik kecilnya ini.


Nadya pun beranjak dari box bayi itu dan berjalan menuju brankar Aisyah. Memeluk Umi Aisyah dengan penuh rasa rindu.


"Umi ... Nadya kangen Umi. Nadya mau dibuatin kentang goreng sama Umi." ucap Nadya dengan polosnya.


"Nadya sayang ... Nanti umi buatin ya Nak. Nadya sekarang sudah menjadi kakak dan harus menjadi adik Azan." ucap Aisyah pelan dan menciumi wajah Nadya penuh kasih sayang. Rasa iba dan rasa kasih sayangnya kepada Nadya membuat Aisyah ikhlas menerima amanah terindah yang diberikan oleh Allah SWT.


Enam tahun yang lalu, Aisyah dan Baihaqi harus kehilangan bayinya karena keguguran. Namun, kali ini mereka langsung mendapatkan dua anak sekaligus. Betapa baik Allah memberikan hadiah kebahagian untuk kesempurnaan rumah tangganya.


"Umi ... ayo kita pulang, bawa adik juga ya." ucap Nadya polos.


"Nadya sayang ... Umi harus disini dulu. Kita akan menginap ditempat Om Fathan dan Tante Raina. Nadya mainkan jalan-jalan dulu?" tanya Aisyah pelan sambil menjawil hidung Nadya pelan.


"Beli es krim?" tanya Nadya pelan.


"Iya Umi Aisyah. Nadya ingin menemani adik Azan agar tidak menangis karena sendirian." ucap Nadya pelan kepada Umu Aisyah sambil mencium pipi Aisyah.


"Iya sayang. Silahkan." ucap Aisyah lembut.


Keharmonisan keluarga yang sangat luar biasa. Menerima ujian sebagai penguji iman mereka. Kesabaran dan ketabahan menjalani biduk rumah tangga dengan gelombang ujian bertubi-tubi, namun Allah SWT memberikan jawaban yang indah dan sesuai keinginan mereka. Lalu, setelah ini, apakah akan ada badai lagi?


TUJUH ****HARI**** KEMUDIAN ...


Suara nyaring tangisan bayi memenuhi ruangan kamar tamu. Baihaqi sedang menimang buah hatinya yang menangis sejak tadi. Aisyah yang sedang mandi dan menyiapkan air untuk mandi buah hatinya di dalam ember bayi dengan air hangat kuku.


Mempersiapkan semuanya yang diperlukan untuk buah hatinya. Dari popok, baju bayi, bedak bayi, minyak telon, bedong, dan lain sebagainya. Aisyah mulai mengambil alih menggendong Azan dan memulai ritual untuk memandikannya.


Raina memperhatikan dari kejauhan beberapa hari ini, Raina sudah mengajari Aisyah cara memandikan bayi Azan dengan baik. Aisyah adalah wanita yang cerdas dan pintar, cukup cepat menerima suatu masukan. Dan lihat sudah dua hari ini Aisyah pun tampak luwes dengan aktivitas barunya sebagai ibu muda.


Tidak hanya mengurus Azan, tapi juga Nadya yang masih butuh perhatian khusus. Belum lagi Baihaqi yang masih ingin berduaan saat kedua buah hatinya mulai terlelap.


"Aisyah ... Apa perlu kita mulai menabung untuk membuatkan adik untuk Azan?" tanya Baihaqi pelan.


Baihaqi menyimak setiap gerakan Aisyah. Mukai dari membuka baju baju, memandikan, menghandukinya hingga kering dan memakaikan pakaian kembali serta membedong bayi tersebut agar tetap hangat dan merasa nyaman.

__ADS_1


Aisyah menoleh mendengar pertanyaan Baihaqi yang lebih mirip sebagai suatu ajakan atau permintaan.


"Mas ... Kamu tahu sakitnya melahirkan? Lebih tepatnya, melahirkan tanpa didampingi Suami?" ucap Aisyah pelan menatap Baihaqi sekilas dan melanjutkan aktivitas membedong putra semata wayangnya.


"Aku datang Aisyah. Jaraknya jauh Aisyah." ucap Baihaqi membela diri.


"Makasih sudah datang Mas." ucap Aisyah pelan dengan menjawil hidung Suaminya.


"Aisyah ... Aku sangat mencintaimu ..." ucap Baihaqi pelan dengan mengedipkan satu matanya.


"Mas ... Gak malu itu ada Nadya." ucap Aisyah pelan memberikan kode kepada Baihaqi.


"Kenapa harus malu?" ucap Baihaqi malah balik bertanya dengan menggoda.


"Mas!!" teriak Aisyah yang mulai kesal.


"Oke ... Mas ambil makan dulu buat kamu sayang. Nanti kamu susui Azan dan aku akan memyuapimu." ucap Baihaqi pelan.


Dengan sigap berdiri dan keluar kamar menuju dapur. Baihaqi pun mengambil dua piring nasi untuk Aisyah dan untuk Nadya. Lalu kembali lagi ke kamar dengan satu buah nampan berisi dua piring nasi dengan 3 gelas air minum.


Aisyah sudah duduk di balkon kamar dan memangku Azan sambil menyusui, sedangkan Nadya duduk di lantai bermain sendiri dengan buku gambar dan pinsil warnanya.


"Makan ya sayang. Papa mau nyuapin dede Azan dulu." ucap Baihaqi lembut kepada Nadya.


"Iya Papa. Nadya makan sendiri bisa kok Pa." ucap Nadya singkat lalu mulai memakan makanan tersebut.


Baihaqi berjalan menuju balkon dan duduk di depan Aisyah. Menyendokkan nasi dan disuapkan kepada istri tercintanya.


"Bagaimana? Enak?" tanya Baihaqi pelan.


Aisyah hanya tersenyum menatap Baihaqi sambil mengunyah makanan tersebut.


"Mas, gimana kabar Anggie dan Bayinya? Sehat? Laki atau perempuan?" tanya Aisyah penuh selidik.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2