KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
83


__ADS_3

Anggie menikmati malam itu hingga tubuhnya lemas dan tertidur pulas. Burhan menatap ke seluruh tubuh Anggie yang sudah banyak jejak kepemilikannya berwarna merah. Senyum Burhan melebar dan tampak puas, kepuasan itu memang berada di akhir, saat Anggie pun mulai mengikuti irama bukan sebagai obyek yang hanya menjadi patung.


Burhan menarik tubuhnya sendiri dan membersihkan seluruh keringat dan cairan kelakiannya itu dengan handuk kecil yang kering. Tubuhnya baru terasa lelah dan Kedua matanya mulai mengantuk.


Satu per satu pakaian yang tadi ditanggalkan, di punguti dari bagian bawah jok kursi mobil dan dipakainya.


Wajahnya sekilas menatap tubuh polos Anggie yang masih dengan posisi terlentang. Tubuh wanita hamil itu memang nampak sangat mempesona, birahinya terus saja menginginkan kebersamaan, namun tubuh Burhan sudah benar-benar lelah dan harus melupakan tubuh cantik itu yang sudah memberikan kenikmatan dan kepuasan berkali-kali.


Tubuh Anggie masih polos tanpa sehelai pakaian yang menutupinya. Tubuhnya sedijit dingin karena ac mobil yang dinyalakan sejak tadi.


'Terima kasih, ternyata aku masih kuat, setelah sekian lama aku tidak bersetubuh dengan wanita. Aku benar-benar menikmati tubuh indahmu Anggie. Katakan pada Joe, maafkan aku yang sudah ikut menikmati tubuhmu. Jangan salahkan aku, tapi salahkan Joe karena telah berkhianat,' batin Burhan di dalam hatinya.


Jiwa kejamnya mulai muncul kembali setelah kelembutan baru saja ditorehkan di setiap inchi tubuh indah Anggie. Misinya baru saja akan dimulai. Setelah ini tidak ada namanya kegagatapi yang ada hanya pesta kemenangan dan jiwa yang lenyap.


Baru saja Burhan berpikir keras tentang misinya yang sedang dijalani. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara letusan senjata api yang sangat keras dan nyaring ditelinganya. Suara itu nampak sangat dekat sekali dan posisinya tidak jauh dari keberadaan mobilnya saat ini.


DUARR!! DUARR!! DUAR!!


Burhan yang sudah rapi dengan pakaiannya pun mengambil senjata api dari dashboardnya dan keluar dari mobilnya mencari asal suara. Tidak ada suara lain selain tiga kali suara letusan senjata api. Tidak ada teriakan, tidak ada suara orang minta tolong atau apapun juga. Pandangan Burhan berkeliling mencari-cari asal suara itu.


Kedua matanya mengekor setiap detil tempat itu. Satu detik ... Dua detik ... Tiga detik ...


DUARR!!

__ADS_1


Satu tembakan meleset tepat melewati pinggir tubuhnya dan melesat jauh ke arah belakang. Burhan begitu terkesiap, tembakan itu jelas untuk dirinya. Burhan dengan cekatan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan sangat cepat.


Tembakan itu terus beruntun di arahkan pada dirinya dan mengenai beberapa bagian body mobil dan ban mobil. Burhan menatap ke arah kanan dan kiri mencari-cari keberadaan Mikael, anak buahnya itu. Nemjn, semuanya nihil tidak ada Mikael disana. Lalu kemana Mikael, di saat yang genting seperti ini malah tidak diketemukan.


Leguhan dan erangan Anggie saat ban mobil melaju dengan sangat cepat dan mengenali lubang besar hingga membuat isi seluruh mobil itu terguncang dengan hebat.


"Awww," teriak Anggie masih dalam keadaan menutup mata. Dirinya sudah mulai sadar namun, Kedua matanya masih enggan untuk membuka lebar. Apalagi tubuhnya seperti remuk dan terasa sangat lelah hingga membuat kedua matanya masih ingin terus terpejam.


Burhan semakin frustasi mendengar rintihan Anggie yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat permainan panas dan keras.


Suara letupan senapan api masih berbunyi dan satu orang keluar dari tempat persembunyiannya sambil menembaki mobil Burhan. Burhan menatap tajam sosok bayangan hitam dari kaca spion mobil miliknya sambil menekan gas secara dalam hingga mobil itu terus melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Kedua mata Burhan masih menatap sosok bayangan yang ikut mengejar hingga tidak terlihat lagi dan semua gelap.


"Tidaaakkkkk ... Awwwww ...." teriak Burhan dengan sangat keras saat mobilnya menabrak pohon besar lalu menabrak pagar baja pembatas jalan hingga mobilnya terperosok masuk ke dalam jurang. Mobil Burhan berkali-kali terguling hingga berhenti saat menabrak pohon besar di bawah jurang dengan posisi mobil sudah hancur tidak terbentuk lagi.


Melihat kejadian itu, Joe pun berlari ke arah tempat kejadian. Seingat Joe, Mikael sempat berkata tentang Anggie yang berada di dalam mobil yang sama dengan Burhan. Peluh Joe sudah bercucuran di dahi dan sekujur tubuhnya. Lumayan. Jauh juga, Joe berlari dari tempat ia berdiri hingga mengejar mobil yang berjarak beberapa meter di depannya.


Joe mengingat kembali kejadian barusan, saat Mikael berhasil menemukan persembunyian mereka dan bergelut hingga senjata apinya meletus sebanyak tiga kali tepat mengenai dada Edward hingga Edward tewas seketika di tempat kejadian. Sedangkan Joe berhasil bersembunyi di dekat pohon besar dan berhasil memukul tengkuk leher Mikael dan senjata api itu terlempar jauh dari genggaman tangan Mikael dan joe berhasil mendapatkannya.


Senjata api itu langsung di arahkan kepada Mikael yang masih terhuyung karena pusing di kepalanya akibat pukulan keras dan telak yang membuat kepalanya sakit dan kedua matanya berkunang.


"Kamu ternyata Mikael, anak buah Burhan di bawah naungan geng besar Bram!!" ucap Joe setengah berteriak membuat Mikael menatap Joe dengan mengerjapkan kedua matanya agar terlihat jelas.

__ADS_1


Kenapa api itu sudah berada tepat di depan wajahnya dengan pelatuk yang sudah ditarik dan tinggal di lepaskan pasti langsung mengenai sasaran untuk membunuh Mikael.


"Joe?!" jawab Mikael pelan.


"Iya, aku Joe. Laki-laki yang ingin kamu bunuh saat sore itu. Kamu memang penembak jitu, tapi sayang, Tuhanku masih sayang kepadaku hingga peluru itu meleset dan hinggap bersarang di tubuh orang lain," ucap Joe pelan menjelaskan.


"Maafkan aku, Joe. Ini semua perintah burha atas permintaan Bram. Aku hanya menjalankannya tugas," ucap Mikael lirih.


Jie menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya terlihat tampak sangat bengis dan kejam.


"Sahabatku juga kamu bunuh. Dia Edward, sahabatmu," ucap Joe meninggi sedikit menggertak.


"Maafkan aku, Joe. Aku tidak tahu itu Edward. Aku pikir ada penyusup yang akan mengganggu. Aku hanya sedang bertugas menunggu Burhan yang sedang berada didalam mobil," ucap Mikael dengan jujur.


Joe sekilas melihat mobil Burhan yang terlihat diam terpaku dan sedang terlihat bergoyang-goyang.


"Apa yang Burhan lakukan disana?!" tanya Joe dengan tegas dan menggertak keras.


Mikael menggelengkan kepalanya. Tentu tidak mungkin Mikael berkata jujur, bahwa Burhan sedang bermain-main dengan anggie, istri Joe.


"Entahlah, apa yang sedang dilakukannya," ucap Mikael beralasan. Dirinya benar-benar sudah bingung dan kehabisan akal.


Keringat Mikael sudah bercucuran dan membasahi tubuh hingga kaosnya pun sudah basah karena peluh yang terus-menerus mengucur. Tubuhnya terasa sesak dan engap hingga Mikael agak kesulitan bernapas.

__ADS_1


"Kamu berbohong!! Lihat mobil itu bergoyang-goyang, pasti ada wanita di dalamnya!! Anggie dimana?!" tanya Joe dengan tatapan tajam.


__ADS_2