
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Kalian dicari, disini rupanya. Sedang apa? Allahuakbar ... Kita bantu dia adik kita?!" ucap Fathan dengan suara keras dan lantang.
Mereka bertiga pun panik dan cemas, pencariannya akhirnya mendapatkan hasil walaupun baru satu adiknya yang ditemukan.
Tandu penyelamatan pun sudah mengangkat Baihaqi dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Kondisinya sungguh mengenaskan. Satu puing badan pesawat menancap bagian punggungnya. Darah segar masih mengalir, wajahnya sangat pucat dan terlihat lemas karena kekurangan darah.
Posisi Baihaqi di telungkupkan hingga luka menganga di punggungnya terlihat jelas. Menurut dokter harus segera mungkin dilakukan operasi.
__ADS_1
Zhein, Suci dan Fathan pun berbagi tugas. Suci bertugas menemani Baihaqi dan satu asisten Aisyah dirumah sakit. Sedangkan Zhein dan Fathan serta dua orang asisten Asiyah pun masih mencari keberadaan Aisyah di sekitar laut terjadinya kecelakaan.
"Hidup atau mati, Aisyah harus ditemukan." ucap Fathan lantang.
Satu Minggu kemudian ...
Kondisi Baihaqi pun semakin membaik. Operasinya lancar tidak ada masalah. Campur tangan Allah SWT memang sangat diyakininya, saat semua orang tidak ada yang selamat, Baihaqi masih selamat dari tragedi kecelakaan besar itu walaupun kondisinya saat itu parah dan mengenaskan.
Tubuhnya sudah kembali stabil dan normal, hanya saja masih harus istirahat agar jahitan pada lukanya benar-benar mengering dan sembuh total.
"Suci ... Adakah kabar mengenai istriku Aisyah." tanya Baihaqi pelan.
"Belum ada Bai. Makan dulu, biar perawat yang menyuapimu." ucap Suci pelan dan lembut.
Suci pun menyiapkan makanan untuk sarapan pagi Baihaqi dan memanggil perawat untuk menyuapi Baihaqi. Satu asistennya sedang ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan mereka. Suci pun menyalakan televisi dan menyimak informasi berita tentang pencarian korban kecelakaan pesawat.
Dari tiga ratus penumpang termasuk awak kapal hanya ditemukan dua ratus tujuh puluh orang dan sisanya belum diketemukan atau dinyatakan hilang sementara. Karena sudah dua minggu pencarian hasilnya tidak bertambah. Yang selamat dan terluka parah ada lima orang termasuk Baihaqi. Mereka adalah saksi hidup yang bisa menceritakan kejadian itu yang terbilang cepat dan begitu dahsyat.
Semua orang sudah putus asa mencari keluarganya yang belum juga diketemukan walaupun itu hanya jenazahnya saja.
Zhein dan Fathan pun sudah tampak lelah dan menyerah. Ingin rasanya mengakhiri pencarian ini, pencarian yang tidak ada hasil dan tanda-tanda jejak yang tertinggal. Laut pun sudah bersih tidak seperti dua minggu yang lalu.
Semua puing-puing pesawat pun sudah dibawa menggunakan truck besar. Koper-koper penumpang yang tidak diambil oleh keluarganya pun di jadikan satu oleh tim SAR untuk penyelidikan lebih lanjut.
Menurut tim SAR akan mengakhiri pencarian tiga hari ke depan karena sudah satu minggu ini tidak ada penemuan korban baru selama pencarian.
Lemas sudah rasanya kedua kakak beradik itu mendengar kabar dari tim SAR.
"Apakah bisa ditambahkan satu minggu lagi untuk pencarian korban. Lihatlah cincin adikku Aisyah ditemukan disekitar batu karang besar itu dekat suaminya ditemukan disebelah sana." ucap Fathan pelan dan menunjukkan arah ditemukannya benda tersebut.
"Mungkin korban tenggelam didasar laut atau dinyatakan hilang." ucap salah satu anggota tim SAR tersebut.
"Maafkan kami Pak. Sesuai instruksi atasan kami, tiga hari lagi masa pencarian dihentikan dan kasus tragedi kecelakaan pesawat dianggap selesai, kecuali urusan penggantian rugi langsung datang ke kantor maskapai penerbangannya." ucap anggota tim SAR yang lain ikut menanggapi.
Fathan dan Zhein pun mengangguk lemah. Tinggal tiga hari waktu mereka, tapi bagaiman jika tidak diketemukan jenazahnya. Mereka sudah mengira bahwa Aisyah pasti sudah tidak bernyawa, tidak ada yang selamat apalagi bertahan hidup selama dua minggu tanpa bantuan orang dan asupan makanan.
Zhein pun menghubungi Suci yang sedang menemani Baihaqi di rumah sakit dan memberikan informasi tentang selesainya misi pencarian tim SAR pun akan berakhir tiga hari lagi.
"Mas Zhein, aku berharap semoga masih ada kesempatan menemukan selama tiga hari ini." ucap Suci pelan dalam sambungan teleponnya.
"Bagaimana kondisi Baihaqi?" tanya Zhein kepada Suci.
"Kondisinya membaik, tapi lebih baik memang dirujuk ke rumah sakit di Singapura untuk pemulihan luka di punggungnya." ucap Suci pelan menginformasikan kepada Zhein.
__ADS_1
"Tiga hari lagi kita akan bawa Baihaqi. Buat surat rujukan dan pesankan tiket pesawatnya." ucap Zhein dengan penuh semangat.
-DI RUMAH BAIHAQI-
Anggie dan kedua asisten rumah tangganya pun tidak henti-hentinya menangis mendengar kabar kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Baihaqi dan Aisyah saat melakukan perjalanan ke Tokyo Jepang.
Hidupnya seakan berhenti saat itu juga, keduanya sudah dianggap kakak oleh Anggie. Tanpa mereka berdua, dan tanpa kebaikan mereka berdua, entah apa yang terjadi dengan Anggie.
Anggie membaca daftar korban yang meninggal dan yang terluka parah dan daftar korban yang dinyatakan hilang.
Satu per satu Anggie pun membaca berita surat kabar yang menjadi langganan setiap pagi.
"Astaghfirullah ... Mbok Surti ... Pak Baihaqi selamat dan saat ini ada di rumah sakit. Apa aku harus kesana menemui Bapak." tanya Anggie kepada Mbok Surti yang baru saja menghampirinya.
"Kalau Ibu Aisyah gimana Non Anggie." tanya Mbok Surti yang sudah bisa bernapas lega karena Baihaqi selamat namun masih cemas karena belum mendengar kabar tentang Aisyah istri majikannya.
"Sebentar Mbok saya cari dulu." jawab Anggur pelan.
Anggie pun mencari daftar nama Aisyah Maharani disana namun nihil, berkali-kali diulang dan dibaca. Ada satu kolom daftar korban yang belum ditemukan atau dinyatakan hilang, ada nama Aisyah Maharani. Tangan Anggie pun menunjuk nama itu dan mengeja berulang kali agar tidak salah.
"Astaghfirullah ... Mbok ... Kak Aisyah belum ditemukan. Bagaimana ini, Kak Aisyah sedang mengandung." ucap Anggie pelan dan mulai menangis sesegukan.
Dalam hatinya merasa berdosa dan bersalah kepada Aisyah. Kalaupun Aisyah tidak ditemukan bagaiman nasibnya nanti. Sudah tentu Baihaqi tidak menyukainya, terlebih menikahi hanya untuk menutupi aib dirinya sendiri.
"Kita berdoa saja Non. Semoga Ibu Aisyah juga selamat, beliau orang yang sangat baik dan penyayang." ucap Mbok Surti yang ikut berkaca-kaca mengingat kebaikan majikannya itu.
Tangisan keduanya pun pecah dan saling terdiam membisu seakan dada mereka sesak karena janggalan dosa yang melukai hati selembut Aisyah.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1