KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 22


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku


Dahsyatnya SHOLAWAT


Angkringan Cinta


Kopi Paste



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Setelah subuh Aisyah sudah sibuk memasak di dapur, di bantu oleh Mbok Surti. Baihaqi memang hanya ingin makan makanan yang di masak oleh Asiyah bila dirumah, kecuali Aisyah sakit.


Tangannya yang mungil sudah lincah memotong dan memasukkan sayur dalam panci dan menambahkan bumbu sederhana ciri khas Aisyah. Bau sedap sudah mengelilingi seluruh ruangan rumah.


Menu pagi ini adalah sayur sop bakso dengan ayam goreng krispi. Teh hangat madu dan kerupuk udang yang harus ada di toples setiap kali makan. Ini kerupuk favorit Baihaqi.


"Assalamualaikum ... sayang Humairah ..." ucap Baihaqi menghampiri Aisyah yang masih menyeduh teh hangat. Satu kecupan mesra mendarat di pipi chubbynya.


"Waalaikumsalam ... Mas Bai duduk dulu di meja makan ya." ucap Aisyah pelan.


Baihaqi hanya menurut dan duduk di tempat biasa. Baru saja duduk, Anggie langsung duduk di sebelahnya untuk mengambil simpati dan mengusap perutnya yang masih rata. Sambil terlihat mual dan seperti mau muntah.


Aisyah hanya menatap dari kejauhan dan mengedipkan satu matanya kepada Mbok Surti.


"Nyonya Anggie ... kenapa? Anda mual? biar saja pijit." ucap Mbok Surti pelan.


"Aku tidak apa-apa Mbok, tapi bau sop ini membuatku mual." ucapnya kemudian dengan nada tinggi.


"Aku tidak memaksamu untuk makan apa yang aku masak. Kamu boleh memasak sesukamu. Dan ini uang belanja hari ini untuk kamu bila menu disini kurang kamu sukai." ucap Aisyah pelan. Jiwa besarnya sudah terlatih sehingga Aisyah hanya menanggapi dengan datar, dan memberikan uang lembaran merah.


Anggie pun menerimanya dengan sedikit kasar. Lalu mengadu kepada Suaminya yang duduk di sebelahnya agar lebih mengasihani dan memperhatikannya.


"Pak Bai ... uang segini mana cukup untuk ke kampus, makan dan sebagainya." ucapnya mengadu sambil menarik lengan Baihaqi


"Lepaskan aku Anggie. Seharusnya dari awal aku tidak mengasihani kamu. Kalau bukan paksaan istriku, aku tidak mungkin menikah lagi. Aku menikahimu untuk menutup aibmu saja, bukan untuk hal yang lain. Cobalah bersikap wajar dan hargai Aisyah istriku yang sudah baik kepadamu." ucap Baihaqi pelan.


Anggie pun cemberut, caranya yang salah pasti hasilnya pun tidak sesuai keinginannya. Mencintai tapi memiliki sepihak, bagaimana rasanya jika harus seperti ini.

__ADS_1


"Humairah ... kamu akan ke butik?" tanya Baihaqi pelan dan menerima piring dan lauk pauk yang sudah ada dalam piring.


"Tidak Mas Bai. Hari ini aku berjanji ingin menemani Nadya bermain dirumah dan mengajarinya menulis." ucap Aisyah pelan.


"Bukankah acara event Fashion Show sebentar lagi? Kamu tidak mempersiapkannya?" tanya Baihaqi pelan dan menyendokkan satu suapan ke dalam mulutnya.


"Semua baju yang akan di luncurkan sudah aku kirim Mas Bai. Kemarin asistenku sudah ke sana untuk memberikan baju yang akan diperagakan." ucap Aisyah pelan.


"Baiklah kalau memang sudah selesai semua. Aku hanya ingin semuanya lancar Aisyah. Kamu sudah minum susu hamil?" tanya Baihaqi pelan.dan menatap wajah istrinya.


"Belum Mas Bai ... nanti saja." ucap Aisyah yang juga makan sop bakso itu dengan lahap.


"Pelan pelan Aisyah. Nanti kamu tersedak." ucap Baihaqi menjawil hidung Aisyah.


Anggie hanya mendengus dan menghembuskan nafas dengan kasar. Hatinya cemburu melihat kemesraan Suaminya dengan Istri Tuanya. Anggie juga ingin di perhatikan dan di manja, bukankah Anggie juga sedang mengandung. Kenapa harus diperlakukan beda. Hanya itu yang ada di pikirannya. Bahkan Anggie pun sudah lupa bahwa dia mengemis untuk di nikahi oleh Baihaqi.


Baihaqi sudah berangkat ke kampus dengan mobilnya, sedangkan Anggie diantar oleh Pak Amin. Keduanya tidak berangkat bersama, ada rasa canggung dan aneh menurut Baihaqi bila harus berdua dengan Anggie.


Pagi ini Aisyah sudah duduk di ruang keluarga bersama Nadya. Mereka terlihat kompak dan bahagia. Nadya belajar menulis dan membaca dengan Aisyah. Usianya baru saja menginjak lima tahun tapi daya ingat dan tingkat kecerdasannya begitu tinggi.


Setiap sore belajar mengaji dengan Baihaqi dan sekarang sudah bisa Sholawatan dan Hafal beberapa surat pendek.


Murottal Al Qur'an selalu di perdengarkan di rumah Baihaqi melalui kotak speaker kecil khusus memutarkan ayat-ayat Suci Al-Qur'an. Dengan begitu baik Nadya dan Anak yang sedang di kandung Aisyah pun ikut mendegar Ayat-ayat Suci Al Qur'an tersebut.


Baihaqi menginginkan anaknya kelak menjadi Hafiz Qur'an. Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya menjadi anak yang Sholeh ataupun Sholehah, yang taat beragama dan beribadah, yang bisa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan baik dan benar hingga orang yang mendengar pun menjadi menangis.


"Umi ... Benarkah tulisan Arab yang aku buat?" tanya Nadya pelan ketika Aisyah masih ikut melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Aisyah pun membuka kedua matanya dan menegakkan duduknya lalu menerima buku yang di sodorkan oleh Nadya.


"Sini Umi lihat sayang." ucap Aisyah lembut.


"Sayang ... ini bagus sekali, siapa yang mengajarkan kamu Nak?" tanya Aisyah pelan.


"Papa Bai, Umi." Jawabnya singkat dengan tersenyum.


"Nadya mau makan sama Umi. Dedek Bayi di perut Umi mau makan, tapi di temani sama Kakak Nadya. Nadya mau temani Umi??" tanya Aisyah sambil memegang perutnya.


"Nadya akan punya adik Umi? Laki atau Perempuan? Tapi Nadya ingin adik laki-laki dan perempuan." ucap Nadya pelan dan ikut mengusap perut Aisyah yang masih rata.


"Laki-laki atau perempuan sama saja sayang, yang penting sehat dan sempurna." ucap Aisyah pelan dan terkekeh melihat tingkah Nadya yang semakin hari semakin lucu.


"Umi ... Aisyah ingin kentang goreng dan nugget ayam, pakai nasi sedikiiiiit saja." ucap Nadya memilih makanannya sendiri.


"Oke sayang. Umi akan goreng kentang dan nugget ayam kesukaan Nadya, tapi pakai sayur sedikiit saja." ucap Aisyah dengan mengedipkan satu matanya kepada Nadya.


Sejak kecil Nadya atau anak-anak seusianya harus makan makanan yang bergizi, banyak sayur mayur dan buah-buahan. Ini sebagai imunitas tubuh mereka. Disaat tubuh sudah berkecukupan vitamin dan mineral maka kondisi tubuh anak akan selalu fit dan tidak mudah sakit.


Nadya pun menganggukan kepalanya dan mengangkat jempol tangannya ke arah Aisyah tanda setuju. Aisyah dan Nadya by pun menuju dapur dan mulai menggoreng kentang dan nugget. Ada mbok Surti yang menyiapkan meja dan piring untuk santap menjelang siang.


"Mbok Surti ... di kulkas ada buah apa saja. Kok tiba-tiba pengen jus buah." tanya Aisyah pelan. Satu tangannya tetap menggoreng kentang agar tidak gosong.


"Ada mangga kweni dan semangka saja Non Aisyah." ucap Mbok Surti sambil mencari-cari buah apa yang ada di dalam kulkas.


"Boleh mangga kweni Mbok. Kasih susu putih saja, jangan ditambahin gula ya." titah Aisyah pelan. Kentang goreng sudah diangkat dan kemudian melanjutkan menggoreng nugget ayam berbentuk hewan dinosaurus dan alphabet.


Semua makanan sudah terhidang di meja makan. Aisyah dan Nadya pun sudah nampak kelaparan melihat makanan tersebut. Aisyah mengambil nasi, kentang goreng, nugget ayam dan sayur bayam sedikit. Lalu di letakkan di depan Nadya.

__ADS_1


"Ini sayang. Mau makan sendiri atau Umi suapi?" tanya Aisyah lembut.


"Nadya makan sendiri saja Umi. Kata Papa Bai, Umi Aisyah tidak boleh lelah, bila sedang menyuapi adik di perut, Nadya harus bisa makan sendiri dan melihat adik makan dengan lahap." Ucap Nadya dengan jujur dan polos.


Sontak Aisyah dan Mbok Surti pun ikut tersenyum lalu tertawa pelan. Tingkah anak sekarang itu macam macam, mereka kadang lebih kritis dalam berbicara sehingga kadang tampak bijak dan dewasa, tapi kadang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Oke anak Umi yang pintar dan cantik sudah besar harus bisa makan sendiri. Kan sudah mau punya adik kecil." ucap Aisyah lembut dan mengusap kepala Nadya pelan.


Aisyah pun menyeruput jus mangga kweni itu. Rasanya sungguh nikmat dan segar di kerongkongan yang mulai mengering.


"Kok belum dimakan sayang?" tanya Aisyah yang ditatap Nadya dengan wajah sendu.


"Umi ... kita belum berdoa sebelum makan. Kita berdoa dulu ya." ucap Nadya pelan mengingatkan.


"Astaghfirullah ... Maafkan Umi sayang. Umi lupa, Umi sudah haus sejak tadi. Baiklah sekarang kita berdoa ya." ucap Aisyah sambil menengadahkan kedua tangannya di depan wajahnya lalu membacakan dia sebelum by makan di ikuti oleh Nadya.


Biasakan lakukan yang baik, dengan begitu anak dan anggota yang lain pun akan mengikuti hal hal yang baik pula.


"Enak sayang makanannya?" tanya Aisyah kepada Nadya di sela sela makannya.


Nadya nampak begitu antusias dan lahap saat memakan makanan di depannya hingga minta tambah dua kali.


"Ini enak sekali Umi. Tapi sayang ..." ucapan Nadya pun terhenti.


"Kenapa sayang? Bukankah sayur itu enak?" tanya Aisyah lembut.


Nadya pun menggelengkan kepalanya, dan mengangkat kepalanya menatap Aisyah.


"Mama Hanyfah tidak bisa memasak Umi." ucap Nadya lirih.


"Boleh Umi ajarin Mama Hany?" Tanya Aisyah lembut.


Nadya menggelengkan kepalanya lagi.


"Mama Hany, hanya boleh tidur dan rebahan saja Umi. Mama Hanyfah tidak boleh beraktivitas lama." ucap Nadya pelan.


Aisyah pun kaget mendengar penuturan Nadya yang begitu polos dan jujur. Memang Aisyah sudah tahu tentang penyakit yang di derita Hanyfah, tapi apakah sampai separah itu hanya diperbolehkan tidur dan rebahan saja.


"Nadya jangan menangis. Ada Umi disini sayang." ucap Aisyah pelan.


Nadya pun memeluk Asiyah dengan erat. Matanya pun ikut basah, melihat kesedihan Nadya.


"Apakah Mama Hanyfah akan mati, Umi?" tanya Nadya tiba tiba.


Aisyah hanya terdiam dan memeluk Nadya penuh kasih sayang.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2