
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku (Tamat)
Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)
Angkringan Cinta (Tamat)
Kopi Paste
Kesucian Syahadat ( Tamat)
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Bulan dan Bintang
Kang Tatang dan Asmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Joe dan Pak Amin pun berjabat tangan tanda kesepakatan mereka. Karena pertemuan ini semua ada titik terang dan semua ada solusi terbaik, dan semuanya saking di untungkan. Tapi entah dengan Anggie, bagaimana nasibnya setelah ini.
Pagi ini Anggie sudah terbangun, kepalanya masih sedikit pusing dan nyeri di perutnya sudah tidak terasa. Anggie mengamati keadaan di sekitar, ada infus yang terpasang di tangan kirinya. Di sebelahnya ada Joe yang tertidur pulas dengan satu tangan melingkar di perut Anggie.
__ADS_1
Anggie pun terkejut dan mengangkat tangan tersebut dan menjauhkannya. Joe pun samar membuka matanya yang masih terasa berat dan kepalanya sedikit pusing karena kurang istirahat. Semalaman harus menemani Anggie yang menginggau dengan keras memanggil nama Aisyah.
"Bangun Joe. Pergi kamu dari sini. Aku gak mau lihat kamu lagi, pergi dari hidupku." teriak Anggie dengan keras.
Mendengar teriakan yang keras dan lantang. Joe pun terbangun dan berdiri di samping brankar Anggie. Memegang kedua tangan Anggie.
"Maafkan aku Anggie. Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan kepadamu. Aku siap bicara dengan suamimu dan menanggung semua konsekuensinya." ucap Joe dengan mantap.
Namun Anggie tidak sepemikiran dengan Joe.
"Kamu itu gila Joe. Aku cinta dengan Pak Baihaqi sudah lama Joe. Kini aku sudah berhasil mendapatkan tempat walaupun menjadi yang kedua. Sekarang kamu datang mau mengakui semuanya. Apa itu bukan gila!!!" ucap Anggie dengan marah.
"Lupakan Pak Baihaqi, Anggie. Masih ada istrinya Aisyah. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Aisyah. Kecuali ... " ucapan Joe terhenti. Hatinya masih sedih selalu mendapat penolakan dari Anggie yang secara terang terangan.
"Kecuali apa?! Kecuali Aisyah MATI!! Itu kan maksudmu?? Ohh aku jadi punya rencana nih. Ucapanmu membuatku berpikir jadinya." ucap Anggie dengan senyum sumringah. Dalam pikirannya sudah membuat rencana busuk.
"Cukup Anggie. Lupakan Pak Baihaqi. Menikahlah denganku, aku akan membahagiakanmu sayang." ucap Joe lembut.
"Lupakan Pak Baihaqi!!!! Wow sejak kapan kamu bisa memerintah ku Joe. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Lak Baihaqi. Cukup meracuni otakku untuk meninggalkan Suamiku tercinta. Rencanamu tidak akan sukses Joe. Lebih baik kamu pulang saja." teriak Anggie dengan suara yang amat keras.
"Sadar Anggie!! Cukup kamu ngehalu dan menghayal dengan semuanya. Lihat ini surat talak dari suami kamu." ucap Joe keras dan menunjukkan surat talak yang dititipkan lewat Joe untuk Anggie.
Anggie menatap surat itu dengan nanar dan sedih. Surat itu benar-benar sampai ke tangan Joe. Anggie menarik napas dalam dan menghembuskan napas itu pelan. Dia harus menenangkan pikirannya. Anggie berpikir keras mencari cara untuk menyingkirkan Aisyah dan berusaha hanya dia seorang milik Baihaqi.
Anggie pun mengambil ponselnya dan mencari nomor Baihaqi dan meneleponnya.
Sudah beberapa kali ponsel Baihaqi berbunyi diatas meja. Baihaqi tertidur pulas di Sofa dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Sedangkan Aisyah tidur di kasur bersama Azan dan Nadya.
Mereka terlalu lelah semalaman begadang karena Azan terus menangis setelah mendapatkan imunisasi dari rumah sakit.
Aisyah terbangun karena suara ponsel yang tidak kunjung henti. Aisyah berjalan menghampiri ponsel yang ada di atas meja. Terlihat jelas, nama Anggie tertera di layar ponsel. Aisyah pun mengangkat ponsel itu dan mulai berbicara dengan Anggie.
"Assalamualaikum ... Anggie ada apa?" tanya Aisyah dengan suara yang amat lembut.
Anggie terdiam sejenak mendengar suara wanita yang begitu lembut dari seberang. Seharusnya Baihaqi yang mengangkat teleponnya mungkin Anggie akan sedikit bermanja-manja pada suaminya itu. Napasnya dihembuskan dengan kasar pertanda ia sedang kesal.
"Waalaikumsalam ... Kak Aisyah... Bagaimana kabarmu?! Masya Allah akhirnya Kak Aisyah selamat dari kecelakaan itu." ucap Anggie menjawab pelan.
"Iya Anggie. Alhamdulillah ... Anakmu apa kabar? Laki-laki atau perempuan?" tanya Aisyah pelan.
Sedikitpun Aisyah tidak punya perasaan buruk terhadap Anggie, yang ada perasaan iba karena Mas Baihaqi sudah menalaknya.
"Anakku meninggal Aisyah. Waktu itu aku keguguran, tapi sekarang aku sedang mengandung lagi usianya sudah dua bulan Aisyah." ucap Anggie lembut.
__ADS_1
Aisyah pun tercengang mendengar ucapan Anggie yang polos. Aisyah menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Kamu sedang mengandung Anggie? Tapi kenapa Mas Baihaqi menalak kamu?" tanya Aisyah pelan.
"Ini yang mau aku tanyakan Kak Aisyah. Kenapa Pak Baihaqi mau menalak saya, disaat saya sudah mengandung lagi. Saya sedang di rumah sakit Kak Aisyah. Saya mengalami stres dan harus bed rest beberapa hari karena ditakutkan kandunganku akan bermasalah." ucap Anggie pelan.
"Lalu kamu sama siapa disana Anggie?" tanya Aisyah cemas.
"Aku sendirian Kak Aisyah. Aku takut sekali." ucap Anggie pelan dengan nada bersedih.
Dalam hatinya ia tertawa lepas. Anggie senang bisa memasuki kehidupan Aisyah kembali. Dalam drama ini Aisyah yang bisa mengendalikan Baihaqi.
"Anggie ... nanti saya telp Pak Amin dan Mbok Surti untuk menemani kamu ya." ucap Aisyah lembut.
"Kak Aisyah ... Pak Baihaqi ada? Anggie ingin bicara sebentar mengenai kandungan Anggie." ucap Anggie pelan.
"Kenapa Anggie. Mas Baihaqi baru saja tertidur. Ada apa katakan saja, nanti saya sampaikan." ucap Aisyah lembut.
"Kak Aisyah ... Boleh Pak Baihaqi kembali ke Indonesia menemaniku disini saat aku mengandung. Anak ini butuh sosok Ayah." ucap Anggie pelan.
Tut ... Tut .... sambungan telepon pun dimatikan sepihak oleh pihak Anggie.
"Hallo ... Anggie ... Anggie.... Hallo..." ucap Aisyah memanggil nama Anggie dengan keras hingga Baihaqi pun terbangun dan berjalan menuju Aisyah di balkon kamar.
Kedua tangan Baihaqi melingkar di perut Aisyah yang sedang cemas dan khawatir.
"Ada apa sayang ... Humairah ..."ucap Baihaqi lembut. Kepalanya mencari kenyamanan di ceruk leher Aisyah.
Baihaqi begitu merindukan Aisyah. Sangat rindu dan bahkan rindu. Berkumpul setiap hari tidak cukup mengobati rasa rindunya. Tubuhnya membutuhkan penyatuan yang lebih intim.
"Aku menginginkanmu Humairahku ...." ucap Baihaqi pelan.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
__ADS_1
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....