KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 55


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


"Mas, gimana kabar Anggie dan Bayinya? Sehat? Laki atau perempuan?" tanya Aisyah penuh selidik.


Baihaqi meletakkan sendok dan piringnya di meja. Hatinya kecewa sekali, disaat Baihaqi ingin melupakan semua tentang Anggie yang telah sukses membuat rumah tangganya menjadi kurang harmonis. Tatapan Baihaqi tajam ke arah Aisyah.


Aisyah sangat paham betul dengan tatapan Baihaqi. Tatapan penuh rasa kesal dan kecewa. Matanya langsung terasa panas dan basah, lehernya pun tercekat dan sulit sekali ingin berbicara.

__ADS_1


"Apa aku salah bicara Mas?" tanya Aisyah dengan terbata-bata.


"Bisa tidak kamu tidak membicarakan dia. Disini hanya ada aku, kamu, Nadya dan Azan. Itu saja yang kamu pikirkan." ucap Baihaqi tegas.


"Ta ... ta ... pi... Anggie itu istrimu Mas?" ucap Aisyah pelan. Hembusan nafas kasarnya pun terdengar, rasa sakitnya mulai muncul lagi. Mengingat apa yang dilakukan suaminya dengan Anggie selama dirinya belum ditemukan.


"Cukup Aisyah!! Aku tidak ingin mendengar apapun tentang dia. Cukup semua pengorbanan kami Aisyah yang tetap ingin nama baikku dikampus tidak tercoreng. Aku sedang mengurus perceraianku dengan Anggie." ucap Baihaqi lantang.


Aisyah langsung mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah Baihaqi meminta penjelasan, sebenarnya ada apa selama dirinya tidak ada.


"Kamu ingin menceraikannya? Kamu sudah mengurusnya??" tanya Aisyah pelan.


Satu tangannya memegang tangan Baihaqi dan meminta jawaban yang pasti dan jelas.


"Jawab Mas!!" tanya Aisyah dengan tidak sabar. Dirinya benar-benar penasaran dengan hal ini.


Baihaqi pun berlutut didepan Aisyah dan membalas genggaman tangan itu hingga menyatu satu sama lain.


"Aku hanya mencintaimu Aisyah. Sesuai janjiku, jika sudah waktunya aku pasti menceraikannya, dan inilah waktu yang tepat aku menceraikan dia. Aku hanya ingin bahagia bersamamu dan anak-anak kita tanpa ada wanita lain dan orang lain. Aku ingin memuliakanmu sebagai istri dan tetap menjadi bidadari surgaku selamanya. Kamu mau kan Aisyah ....?" ucap Baihaqi pelan dan mencium punggung tangan Aisyah lembut secara bergantian.


"Tolong mengerti perasaanku Aisyah ... Berbuat baik itu diwajibkan, namun bila menyakiti diri sendiri, maka hukumnya juga jadi gak baik." ucap Baihaqi pelan.


Air mata Aisyah sudah luruh. Hatinya sesak bercampur bahagia. Baihaqi hanya menginginkannya bukan yang lain.


"Ta .. Pi .. Mas....." ucapan Aisyah berhenti. Rasa sesak itu semakin menjadi karena dirinya kini tidak sempurna seperti dulu.


"Makasih Mas ... Aku sangat senang sekali, aku bahagia dengan semua ini. Aku terharu Mas, aku takjub dengan semua pernyataanmu Mas." ucap Aisyah pelan. Mengusap rambut Suaminya dengan lembut.


Baihaqi pun memeluk perut Aisyah dengan Azan yang berada ditengah. Sungguh bahagia, namun tetap ada ganjalan bila semuanya tidak terpecahkan dan tidak dijelaskan dengan jelas.


"Papa ... Umi .... kenapa menangis??" ucap Nadya pelan sambil membawa piring kosong.


"Anak papa sudah selesai makannya pintar sekali. Lihat Dede Azan juga sudah selesai sarapan." ucap Baihaqi lembut.


Piring kosong itu diambil oleh Baihaqi dan diletakkan di meja. Nadya pun duduk di pangkuan Baihaqi.


"Hai .... kak Nadya dan Aby ..." celoteh Aisyah menggunakan suara khas anak-anak.


"Kok Dede Azan panggil Papa Bai, Aby?? Nadya panggil Aby juga biar sama kayak dede Azan. Boleh kan By?" ucap Nadya pelan kepada Baihaqi.


"Boleh sayang. Aby lebih senang jika Nadya memanggil Aby. Umi dan Aby, Nadya jika ada sesuatu langsung bilang ke Aby atau ke Umi ya sayang. Jangan pernah dipendam." ucap Baihaqi pelan dan mengecup pucuk kepala Nadya.


"Aku bahagia Mas. Sangat Bahagia." ucap Aisyah yang begitu saja mengungkapkan isi hatinya.


"Umi ... Aby akan selalu menjaga Umi. Apapun resikonya, apapun ujiannya. Kita akan selalu bersama. Aby, umi, Nadya dan Azan. Selalu bersama." ucap Baihaqi pelan. Lalu mereka berpelukan bersama dan menangis bahagia.

__ADS_1


Kalau boleh meminta, waktu berhenti disaat kita berbahagia. Tapi semesta tetap memutar waktu, tetap menguji dengan wajar dan sesuai kemampuan kita.


RUMAH BAIHAQI


Di tempat yang berbeda. Anggie sedang mengurung dirinya di kamar. Kemarin surat talak dari pengadilan agama sudah datang. Anggie wajib datang untuk melakukan sidang. Surat itu masih ada ditangannya, dirinya benar-benar tidak menyangka jika Baihaqi tega menceraikannya.


'Bila saja ada Kak Aisyah, sudah tentu aku akan dibelanya. Tidak mungkin menjadi gembel dijalan atau menjadi pemuas nafsu ayahku kembali. Arrrghhhhhhhhh ..... AKU HARUS GIMANA!! kandunganku akan semakin besar.' ucap Anggie setengah berteriak di dalam kamarnya.


Dirinya benar-benar frustasi, terpuruk dan tidak ada gairah hidup. Matanya sudah bengkak karena menangis terus dari semalam.


Mbok Surti dan Pak Amin sebenarnya sudah kesal dengan Anggie, tapi sebelum ada ketok palu memang Anggie adalah istri Baihaqi yang seluruh keinginannya harus dituruti dan dipenuhi.


"Non Anggie sudah ada keluar kamar belum?" tanya Pak Amin yang sedang sarapan di dapur.


"Belum, tadi hanya memanggil, minta dibuatkan mie goreng rasa keju." ucap Mbok Surti tanpa merasa ada yang salah dengan ucapannya.


"Memang ada mie goreng rasa keju? Kok saya baru denger Mbok?" tanya Pak Amin pelan sampai tersedak dan menghentikan makannya.


"Gak ada Pak Amin. Mbok bikin aja mie goreng atasnya parut keju terus campur jadi satu. Beres." ucap Mbok Surti pelan tanpa dosa.


"Itu Non Anggie gak marah. Biasanya kalau gak sesuai suka marah-marah gak jelas." ucap Pak Amin pelan.


"Nyatanya gak ada komentar, berarti doyan." ucapannya terhenti mendengar teriakan sang Nyonya dari kamar tidurnya.


"MBOKKKK SURTIIIIIIII!!!!" teriak Anggie lantang.


Mbok Surti pun langsung menghentikan mencuci piring dan mencuci tangannya. Ada rasa panik, cemas dan takut menyelimutinya.


"Tuh ... kayaknya mulai perang nih." ucap Pak Amin mengingatkan.


"Waduh gimana ya Pak Amin. Masya Allah. Astaghfirullah .... Saya takut." ucap Mbok Surti terbata-bata.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...

__ADS_1


Terima Kasih ....


__ADS_2