KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 43


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku


Dahsyatnya SHOLAWAT


Angkringan Cinta


Kopi Paste


Kesucian Syahadat


Amanah Terindah


Kalam Hikmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


"Pak Baihaqi, mau ke atas?! Ke kamar Bu Aisyah?!" tanya Risa kembali.


Baihaqi masih setengah sadar mendegar pertanyaan Risa. Risa pun mengulang kembali pertanyaan itu dan mendapat jawaban anggukan pelan dari Baihaqi.

__ADS_1


Sedangkan di situasi berbeda, Aisyah yang sudah mendapatkan izin Bu Maryam pun pergi untuk mencari pekerjaan. Seperti biasa Aisyah menggunakan gamis panjang dan hijab yang menjuntai hingga ke bagian pinggangnya. Cadar tidak pernah lepas dari wajahnya, terlebih wajahnya sudah rusak karena kecelakaan pesawat itu.


Pagi ini Aisyah tampak bersemangat dan antusias berjalan menyusuri pertokoan dan restaurant untuk mencari lowongan pekerjaan. Baginya pekerjaan ini adalah satu-satunya harapan untuk membiayai anaknya ketika lahir nanti.


Tepat di depan pintu restaurant tempat Aisyah beristirahat pun ada sebuah papan yang mencari seorang pelayan perempuan untuk bekerja dari pagi hingga sore hari. Tanpa berpikir panjang Aisyah pun masuk ke dalam untuk mendaftar lowongan pekerjaan itu.


Langkahnya penuh semangat walaupun saat ini Aisyah tengah mengandung dengan usia kandungan tujuh bulan. Aisyah berbicara dengan seseorang yang bekerja disana untuk bisa memenuhi pemilik restaurant.


Aisyah menaiki tangga menuju ruangan pemilik restaurant. Tangannya pun terangkat untuk mengetuk pintu yang bertuliskan ruang manager.


"Assalamualaikum ..." ucap Aisyah pelan sambil mengetuk pelan pintu itu.


"Waalaikumsalam ... " terdengar suara perempuan menjawab salam Aisyah.


Pintu pun dibuka oleh si pemilik restaurant, tubuh mungil dengan pakaian casual tertutup menjadi ciri khas wanita di balik pintu itu. Aisyah pun terkejut saat menatap dua bola mata milik Raina. Aisyah terdiam, takut bila dirinya sudah dianggap mati oleh suami dan keluarganya. Aisyah hanya menunduk dan berbicara tanpa menatap kedua netra Raina.


Ingin rasanya Aisyah berlari karena malu dengan wajah buruknya saat ini, namun kakinya tidak kuasa melakukannya. Hanya pekerjaan inilah yang mampu menghidupinya nanti untuknya dan anak yang dikandungnya.


"Maaf saya ingin melamar pekerjaan sebagai pelayan disini." ucap Aisyah pelan dan lirih. Suaranya sengaja dibuat agak mendayu-dayu agar tidak terkenali.


"Bolehkah aku melihat wajahmu? Siapa namamu?! Kedua matamu membuatku teringat kepada adik iparku." ucap Raina pelan. Raina sedikit curiga dengan tatapan Aisyah yang sedikit berbeda.


Aisyah hanya diam dan tidak menjawab. Hatinya basah bahagia, karena menemukan keluarganya, namun Aisyah pun bersedih tatkala ia sudah bukan wanita yang sempurna seperti dahulu. Parasnya yang cantik kini sudah tiada, hanya luka dan koreng diwajahnya yang menutupi sebagian wajahnya. Degub jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya, ketakutan Aisyah tidak diterima kembali di keluarga besar Suaminya.


Gerakannya begitu cepat hingga memeluk wanita yang sedang mengandung itu. Dilepasnya cadar milik Aisyah untuk menatap lekat betulkah itu Aisyah adiknya yang telah hilang dan dianggap mati.


Satu tangan Aisyah pun mencekal tangan Raina untuk tidak membuka cadarnya. Matanya sudah basah dan tampak buliran kristal itu satu per satu menetes ke pipinya dan menghilang di balik cadarnya. Perutnya yang membuncit pun mengganjal aktivitas pelukan kerinduan kedua wanita tersebut.


"Jangan dibuka Kak. Wajahku tidak seperti dulu lagi. Aku bukan Aisyah yang dulu lagi." ucap Aisyah terbata bata dan sesegukan hingga bahunya pun bergetar dengan hebat.


"Aisyah ... kami mencari mu kemana-mana, tapi kami tidak menemukanmu. Hampir setiap malam Baihaqi menelepon kami menanyakan perkembangan pencarian dirimu Aisyah. Pulanglah kami semua merindukanmu." ucap Raina dengan lembut lalu memeluk Aisyah yang sudah terduduk dengan lemas.


Deg ....


Deg ....


Deg ....


Mendengar nama Suaminya disebut pun hatinya makin basah dan teriris perih sekali. Suatu kesalahan fatal Aisyah menyuruh suaminya untuk menikah demi menutup aib gadis yang jelas-jelas mencintai Baihaqi dengan segala obsesinya. Sekarang apakah dirinya masih yang dipentingkan dalam kehidupan Baihaqi?!! Apalagi seharusnya saat ini adalah waktunya Anggie melahirkan anaknya, mungkin Baihaqi akan sibuk mengurus istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa Aisyah?! Apa yang kamu pikirkan?!" tanya Raina pelan dan lembut. Diusapnya punggung Aisyah dengan pelan.


Aisyah pun menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sesekali tangannya mengusap perutnya dengan gerakan memutar. Perutnya akan terus menerus bergerak gerak bila mendegar nama Baihaqi di sebut. Apakah anak ini juga merindukan Abinya?!


Tangisannya pun kembali pecah dengan memeluk erat Raina. Baju Raina pun sudah basah karena air mata keduanya yang tak kunjung habis.


"Aku akan membantumu hingga persalinanmu nanti, setelah itu kamu bisa melakukan operasi pada wajahmu. Aku punya teman yang bisa membantu. Jangan risau Aisyah yang terpenting, hari ini aku bahagia menemukanmu." ucap Raina pelan dan terbata bata.


Mereka berdua tidak sadar pintu ruangan itu masih terbuka lebar, ada Fathan yang berdiri di sisi pintu ruangan itu. Air matanya sudah jatuh sedari tadi, dan berulang-ulang di sekanya air mata itu agar tidak nampak kelemahannya sebagai seorang pria.


"Aisyah Maharani ..." ucap Fathan setengah berteriak.


Aisyah dan Raina pun menengok ke sumber suara, disana sudah ada Fathan yang berdiri dengan wajah yang hampir tidak percaya, bahwa Aisyah masih hidup dan mereka diketemukan oleh sebuah proses dan waktu.


Aisyah menatap Kakaknya Fathan. Mereka beradu pandang seolah-olah mereka bisa merasakan kepedihan yang dirasakan masing-masing.


"Kak Fathan?!!!" panggil Aisyah pelan.


Aisyah hanya terduduk lemas, tubuhnya tiba-tiba saja lemah dan lemas sangat berbeda saat Aisyah berangkat tadi pagi yang begitu semangat dan antusias.


Fathan pun melangkah menuju Aisyah dan memeluk adik perempuannya itu. Mereka begitu bahagia menemukan Aisyah kembali dengan selamat kekurangan satu apapun.


"Aisyah ... Aisyah ... kamu Aisyah adikku kan?!!" ucap Fathan dengan derai air mata yang terus luruh berjatuhan ke pipinya.


"Aku Aisyah, Kak Fathan. Aisyah Maharani ... Aku masih hidup Kak!! Aku dan anakku masih hidup ..." ucap Aisyah menangis hingga pandangannya pun mulai menggelap dan tidak sadarkan diri.


Aisyah ...... !!!!!!


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2