KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
85


__ADS_3

Anggie membuka kedua matanya, otaknya bekerja dan telinganya mendengar suara Joe yang sedang mencari dirinya dan memanggil namanya.


Tubuh Anggie terhimpit diantara dua pohon besar dan tertutup dedaunan yang lebat. Ingin rasanya berteriak menjawab teriakan Joe, namun kerongkongannya seperti tercekat dan tidak bisa mengeluarkan suara.


Air mata Anggie sudah mengumpul di pelupuk kedua matanya. Pikirannya melayang mengingat kebaikan Aisyah. Aisyah yang pernah ikhlas di madu, karena kesalahan orang lain yang harus di pertanggung jawabkan oelh suaminya karena cinta buta.


Cinta Anggie yang bermula dari rasa kagum dan berkembang menjadi cinta yang penuh syarat dan obsesi. Banyak pelajaran yang diambilnya, dan hingga kini rasa bersalah itu masih menghinggapi di sanubari Anggie. Walaupun sudah meminta maaf berkali-kali, namun rasanya tidak semudah itu memaafkan atas kejahatannya selama ini.


Perutnya begitu keram tiba-tiba. Rasanya sangat sakit dan mulas beraturan.


'Arghhh ...' lirih Anggie menahan sakit di bagian bawah perutnya.


Joe masih berjalan mencari anggie, telinganya benar-benar dipasang agar mendengar suara lirih dan rintihan yang lolos dari bibir Anggie.


"Anggie!! Dimana kamu, sayang?" teriak Joe frustasi.


Sudah setengah jam, Joe berputar-putar mencari keberadaan Anggie. Tiba saatnya Joe berjalan ke arah dua pohon besar, tubuhnya seolah tertarik untuk mendekati pohon itu dan mencari anggie disana. Anggie terlempar cukup jauh, mobil Burhan jatuh dan hancur berkeping-keping di bebatuan keras dekat pohon-pohon besar


Tubuh Anggie semakin melemah, rasanya sudah tidak kuat menahan sakit di perutnya dan tidak kuasa lagi mengingat semua dosa-dosanya. Perbuatan buruknya seolah nyata ada di depan matanya, tatkala membuat Aisyah menangis karena semua keinginan gila Anggie untuk dinikahi oleh Baihaqi karena kecintaan Anggie yang membutakan segalanya.


Dari kejauhan Joe melihat satu tangan terangkat ke atas di antara dedaunan yang lebat menutupinya. Anggie memang sengaja sesekali melambaikan tangan agar ada yang melihat posisinya yang tersembunyi di balik semak-semak diantara dua pohon besar.


Joe berlari menuju semak-semak itu dan mendengar lirih rintihan yang begitu menyakitkan. Joe menerobos masuk ke dalam semak belukar itu, dan benar saja tubuh Anggie tergeletak dengan posisi terlentang.


"Anggie!!" teriak Joe keras sambil membuang dedaunan yang menutupi sebagian tubuh polos Anggie.


Tubuh Anggie tertancap di antara duri-duri semak belukar yang tajam. Bagian intimnya juga mengeluarkan darah. Kedua matanya berbinar melihat Joe datang untuk menolong dirinya.

__ADS_1


"Joe ..." ucap Anggie saat melihat Joe datang menghampirinya dengan suara lirih tertahan.


Joe langsung memeluk tubuh Anggie dengan penuh kasih sayang dan rindu. Jaketnya dilepaskan dan diberikan kepada Anggie untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun.


"Selamatkan anak kita," ucap Anggie lirih sambil mengusap perutnya yang masih terasa sakit.


"Tidak hanya anak kita, kamu juga harus selamat. Kita akan berkumpul bersama dan pergi dari kota ini, untuk hidup bahagia. Kamu mau kan?" tanya Joe sambil.mengecup kening Anggie dengan lembut.


Joe tidak perlu mendengar jawaban anggie. Joe berusaha melepaskan beberapa duri yang menancap pada punggung Anggie. Lalu, mengangkat tubuh istrinya itu menuju jalan raya. Agak kesulitan dengan medan yang gelap dan berhantu serta licin. Ditambah lagi jalan setapak menanjak, sambil membawa beban tubuh Anggie yang sedikit berisi itu.


Saat berada dalam gendongan Joe, Anggie pun menatap Joe, suaminya dengan senyuman manis.


"Terima kasih sudah menolongku. Kalau berat, istirahatlah dulu, aku kuat dan aku tidak apa-apa," ucap Anggie pelan.


"Tidak ada waktu lagi Anggie. Jangan hiraukan kekuatanku. Ini demi kita, semua kamu dan anak kita," tegas Joe sambil berjanji dengan napas sedikit terengah-engah.


Sesampai di jalan raya, tubuh Anggie mulai mendingin, wajahnya terlihat sangat pucat. Darah yang mengalir terus dari daerah intimnya, entah kenapa itu bisa terjadi.


Memang takdir Allah itu sudah ada sedemikian rupa. Ada sebuah truk kosong yang berhenti saat melihat Joe melambaikan tangannya untuk.meminta bantuan. Supir itu melihat sosok wanita hamil yang tergeletak dengan keadaan setengah telanjang tanpa busana.


Truk itu berhenti dan menepi. Lalu, menurunkan kaca jendela mobilnya dan menatap ke arah Joe yang terlihat cemas.


"Hei Bung!? Ada apa?" teriak supir truk itu lalu tatapannya berpindah pada sosok setengah tanpa busana.


"Tolong bantu, istriku akan melahirkan, berikan aku tumpangan untuk ke rumah sakit,' ucap Joe lantang berbicara kepada Supir truk itu.


Supir truk itu mengangguk dan membukakan pintu truknya. Melihat anggukan supir truk itu, Joe langsung tersenyum dan berbalik arah mengangkat tubuh Anggie dan menggendong wanita hamil itu. Supir truk menerima tubuh Anggie dari atas dan mendudukkannya disamping joknya.

__ADS_1


Supir truk itu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Anggie yang masih terlihat setengah telanjang itu.


"Terima kasih Pak," ucap Joe pelan saat naik dan duduk di samping Anggie yang sudah terbalut dengan selimut tebal.


"Sama-sama Bung. Kuta harus segera membawa istrimu, lihatlah sudah pendarahan seperti itu," ucap supir truk itu yang merasa iba dengan keadaan Anggie.


Supir truk itu memberikan satu botol air mineral dan makanan yang dapat di dalam kotak besar di bagian bawah.


"Berikan makan dan minum, agar istrimu memiliki tenaga," ucap Supir truk itu sambil melajukan truk besarnya dengan cepat.


Jarak tempuh menuju rumah sakit cukup jauh bisa memakan waktu dua jam lamanya. Maka itu, bila tidak diberikan makanan dan minuman, bisa-bisa Anggie kekurangan asupan gizi.


Dengan pelan Joe memberikan air minum agar bibir Anggie basah dan tidak pucat lagi. Sesekali Anggie merintih sakit pada bagian intimnya dan bagian bawah perut. Rasanya ada yang menyedak untuk keluar.


"Sakit Anggie? Mana yang sakit? Biar aku usap pelan," ucap Joe lembut kepada Anggie.


Rasanya tidak tega melihat wajah pucat pasi, dengan tubuh mulai kaku dan mendingin, seperti mayat hidup.


"Sakit Joe, seperti ada yang mau keluar," ucap Anggie pelan sambil menunjuk ke arah bagian intimnya.


"Makan dulu, biar tubuhmu bertenaga," ucap Joe pelan dan membukakan satu bungkus roti yang di cuil sedikit untuk di suapkan kepada Anggie.


Anggie menerima satu suapan cuilan roti itu yang di kunyah perlahan sambil menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Napas Anggie memburu, dan menahan rasa ingin ke belakang. Dari arah perutnya terus menyedak ingin keluar.


"Joe, aku sepertinya ingin melahirkan, aku tidak kuat lagi, rasanya ingin segera dikeluarkan. Bantu aku, Joe," ucap Anggie menahan nyeri.


Joe makin cemas dan panik mendengar ucapan Anggie. Joe tidak pernah melihat orang yang melahirkan, tahunya hanya dibawa ke Rumah sakit karena itu urusan dokter. Tapi, kini Joe dihadapkan kenyataan yang sangat sulit.

__ADS_1


Supir truk itu juga terlihat cemas dan bingung. Kebetulan anak gadisnya seorang bidan, pernah suatu kali melihat anak gadisnya itu latihan praktek membantu persalinan seorang ibu dengan sebuah boneka.


__ADS_2