KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 68


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Aisyah sejak tadi terdiam, sambil menggendong Azan dan berdiri di depan jendela kamarnya. Sinar matahari pagi yang bagus untuk pertumbuhan tulang bayi Azan.


Baihaqi masuk ke dalam kamarnya, lalu menghampiri Aisyah yang masih saja melamun. Tangan Baihaqi melingkar di pinggang Aisyah, kepalanya di ditempelkan di ceruk leher istri cantiknya itu.


"Humairah, apa yang sedang kamu pikirkan? Dari pagi ku lihat hanya menatap jendela kamar, ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Baihaqi dengan lembut. Bibir Baihaqi menyentuh bagian leher Aisyah hingga membuat tubuh istrinya itu kembali kegelian dan meremang.


"Mas ... Aku sedang menggendong Azan lho." ucap Aisyah pelan.


"Jawab aku, jangan mencari tema lain Aisyah." ucap Baihaqi pelan makin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku kemarin bertemu Anggie, dan hari ini aku berjanji untuk menemuinya di tempat yang sama Mas. Ada sesuatu yang ingin Anggie ceritakan padaku, entah tentang apa itu." ucap Aisyah pelan. Pandangannya masih sama, menatap jalanan lewat kaca jendela kamarnya.


Baihaqi sontak melepaskan pelukannya dan memutar badan Aisyah ke hadapannya.


"Jangan bilang, saat ini kamu akan menemuinya?" tanya Baihaqi pelan.


Aisyah hanya menganggukkan kepalanya tanda benar.


"Aku memang ingin menemuinya, boleh Mas?" tanya Aisyah pelan kepada suaminya yang juga menatap lekat netranya.


"Apa yang ada di pikiranmu Aisyah. Kamu tidak pernah berpikir, jika Anggie akan masuk ke dalam rumah tangga kita lagi?" tanya Baihaqi sedikit meninggi.


"Jangan suudzon Mas. Aku bisa merasakan apa yang saat ini sedang Anggie rasakan." ucap Aisyah singkat.


"Aku ikut. Kau tidak ingin kamu bertindak bodoh hingga orang banyak memanfaatkan kebaikanmu Aisyah." ucap Baihaqi pelan.


"Iya Mas, aku akan tetap waspada. Hanya saja aku cemas dan khawatir terhadap Anggie." ucap Aisyah pelan menjelaskan kepada Baihaqi.


"Baiklah. Aku mengerti, ganti bajumu Aisyah. Kita akan pergi ke taman sekarang." ucap Baihaqi pelan.


DI TEMPAT LAIN


Di kantor kepolisian, sudah dua belas jam Edward dan beberapa partner kerjanya di BAP. Polisi masih mengejar Joe dan yang lainnya untuk diambil informasinya.


Edward tampak begitu tenang menjawab setiap pertanyaan. Edward mengaku sebagai koki yang bekerja bersama Joe selama beberapa bulan terakhir ini. Mau sampai kapanpun, identitas Joe tidak boleh bocor ke orang yang salah.


"Kamu tidak mau mejawab, siapa dalang dari ini semua??" tanya seorang Polisi kepada Edward.


Para Polisi hanya terdiam dan mencari pertanyaan yang kira-kira bisa menjebak Edward.


Edward dan beberapa temannya sudah dimasukkan ke dalam sel. Tentu sudah tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya keajaiban.


"Permisi Pak, boleh saya menjenguk Edward." tanya Anggie pelan sambil mengusap perut buncitnya.


"Bisa Bu. Tunggu disini." ucap petugas polisi yang sedang berjaga.


Lima menit kemudian, Edward pun datang ke ruang besuk. Sudah ada Anggie yang datang menggunakan hijab dan baju panjang yang menutupi seluruh tubuh dan auratnya. Edward menatap Anggie tanpa berkedip, karena memastikan ini Anggie Sang Majikan atau bukan. Bukan hanya pakaiannya saja yang berbeda namun ada sesuatu yang membuat Anggie menjadi sosok yang berbeda saat ini.


"Nyonya Anggie..." ucap Edward lirih.


"Tolong jangan panggil aku Anggie atau sebutan Nyonya. Panggil Aku Nastiti." ucap Anggie setengah berbisik.


"Baiklah .... Nastiti." ucap Edward sedikit canggung.


Anggie meletakkan beberapa kantung plastik berisi makanan, minuman dan kebutuhan Edward serta teman-teman seperjuangannya.


"Ada titipan dari Joe." ucap Anggie pelan dengan memberikan satu surat.


"Maaf sudah merepotkan. Salam untuk Tuan Joe." jawab Edward singkat.

__ADS_1


"Joe ada di parkiran. Kami pindah lagi Edward. Kali ini kami meninggalkan jejak dari anak buah kami. Aku rasa, salah satu anak buah kita ada yang membuka rahasia ini." ucap Anggie pelan.


"An ... Kamu tahu dari mana Nastiti." tanya Edward singkat.


"Biarkan aku dan Joe menjalani kehidupan yang lurus. Tanpa ada diktator ataupun provokator. Aku dan Joe pasti akan mengeluarkan kamu Edward." ucap Anggie pelan.


"Iya Nastiti." ucap Edward lirih.


"Tolong jangan beritahu yang lain, aku dan Joe datang kemari." ucap Anggie pelan.


"Baik Nastiti." ucap Edward singkat.


"Aku harus pergi Edward. Beberapa hari lagi, aku akan datang dan membebaskan kamu." ucap Anggie pelan.


"Terima kasih Nastiti." ucap Edwar pelan.


"Aku permisi pulang dulu. Assalamualaikum." ucap Anggie pelan. Lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Edward yang masih duduk di kursi besuk.


"Waalaikumsalam Nastiti." ucap Edward sangat lirih.


Betapa Edward menyesali perbuatannya selama ini. Menjauhi keluarganya dan agamanya demi harta duniawi. Kini semua sudah berubah, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa merubah takdir seseorang kecuali Allah SWT.


DI TAMAN


"Kamu yakin Anggie? Disini kalian berjanji akan bertemu?" tanya Joe pelan.


"Iya Joe. Disini aku bertemu Kak Aisyah dan aku ingin menemuinya kembali. Kita harus bertobat Joe." ucap Anggie dengan pasrah.


Perutnya yang semakin besar membuat pergerakannya juga tidak bisa selincah dahulu. Rasa cepat lelah dan capek ditambah lagi keram pada kaki dan pinggang membuat semua itu nikmat yang harus disyukuri.


"Baiklah kita tunggu saja disini." ucap Joe pelan. Mereka berdua harus sedikit mengganti gaya berpakaiannya. Joe memakai topi dan kaca mata hitam.


Tadi malam mereka sepakat untuk merubah diri, dan meninggalkan bisnis haram Joe. Mereka meninggalkan anak buah mereka secara diam-diam. Meninggalkan semua pakaian dan barang-barang lainnya. Joe dan Anggie hanya membawa dompet saja. Ponsel juga tidak dibawa. Benar-benar ingin melepaskan semuanya.


"Joe ... Bisa belikan makanan itu untukku. Anak kita menginginkan itu." ucap Anggie lembut kepada Joe.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...

__ADS_1


Terima Kasih ....


__ADS_2