KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 63


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Pagi ini, Joe dan Anggie terbang ke Kairo. Mereka masing-masing punya misi tersendiri. Mereka berdua sama-sama diam menikmati perjalanan dan memikirkan misinya masing-masing.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Joe dan Anggie sudah sampai di Kairo. Sesuai dengan apa yang telah disepakati antara Bima dan Joe, semua kebutuhan dan fasilitas Joe dan Anggie selama disana terpenuhi dengan baik.


Jangan lupakan kamera cctv dan pengawal yang siap mengawal Anggie untuk tidak bertindak bodoh dan bertindak macam-macam selama di Kairo.


"Joe, apa-apaan ini semua, kamera dimana-mana dan pengawal yang dari tadi tidak berhenti mengikuti kita. Kita mau liburan Joe, bukan seperti tahanan." ucap Anggie dengan kesal. Anggie berjalan mendahului Joe dengan perut yang sedikit menonjol ke depan karena kehamilannya.


"Ini ku lakukan karena aku mencintaimu Anggie, aku tidak mau kehilangan kamu." ucap Joe pelan dan berjalan mengikuti langkah Anggie.


"Bukan seperti ini yang aku minta Joe. Bebaskan aku, biarkan aku yang menentukan hidupku sendiri. Kamu tidak lebih dari Suami Kasihanku saja. aku menikah karena anak ini." ucap Anggie tegas.


Bagaimana rasanya dikatakan seperti itu, kesabaran seorang pria pun ada batasnya. Saat harga dirinya diturunkan karena rasa kasihan, sedangkan dia benar-benar berjuang untuk wanita yang di cintainya, maka saat itulah seorang pria bisa berubah menjadi murka. Bahkan amarahnya bisa melebihi seseorang yang sedang kalap.


Joe sudah naik pitam, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, kedua matanya menatap tajam ke arah Anggie. Satu tangannya menarik tangan Anggie dengan kasar dan dibawanya wanita itu ke dalam kamar apartemennya.


Anggie berteriak sangat keras bahkan semakin keras hingga suaranya pun terdengar di seluruh ruangan apartemen.


Joe sudah murka, harga dirinya seperti di injak-injak dan dijatuhkan dari atas gedung, begitu sakit apa yang di ucapkan oleh Anggie. Joe sangat tahu, Anggie itu bukan tipikal wanita yang suka bercanda. Sudah dipastikan apa yang dia ucapkan itu adalah nyata dan itu yang Anggie rasakan saat ini. Hanya ada rasa kasihan, bukan menghargai atau mencoba mencintai.


"Lepaskan aku, Joe!! Brengsek kamu, aku ini istri kamu!! Harusnya kamu perlakukan aku dengan baik, dan aku juga sedang mengandung." ucap Anggie lantang. Anggie berteriak dan berusaha melepaskan diri sekuat tenaganya.


"Lepaskan katamu?? Aku sudah mencoba sabar, tapi kamu seakan tidak bisa menerima ini semua. CUKUP DENGAR TERIAKANMU ANGGIE!!. Disini tidak ada yang bisa mendengarkan kamu. Mulai sekarang, kamu tidak boleh keluar dari kamar. Sekali kamu mencoba keluar, aku pastikan kamu akan mati ditanganku." ucap Joe sinis lalu mengecup bibir Anggie singkat.


"Kamu gila, psikopat, bisa-bisanya mengurung istrimu disini." teriak Anggie histeris.


"Cukup Joe. Apa yang akan kamu lakukan??" ucap Anggie dengan suara keras.


"Layani aku, hingga aku merasa puas." ucap Joe pelan dengan tersenyum smirk.


"Jangan Joe. Tolong perutku keram Joe. Tolong Joe jangan. Joe ...... Arghh .." teriak Anggie yang lalu bungkam karena bibir Joe sudah terlebih dahulu membungkam bibir Anggie.


Joe semakin brutal dan berapi-api, dirinya seperti kerasukan setan yang menginginkan istrinya seperti wanita malam.


DI TEMPAT LAIN


Baihaqi dan Aisyah sudah duduk diranjang brankar. Beberapa hari ini, Aisyah harus rest karena pemulihan metabolisme tubuhnya. Baihaqi menyuapi istrinya dengan pelan dan telaten.


"Mas ... Apa yang sedang kamu pikirkan? Ada sesuatu?" tanya Aisyah pelan.


Baihaqi menyendokkan bubur di sendokknya lalu menyuapi istrinya dan menatap Aisyah dengan pandangan yang sangat teduh.


"Aku hanya memikirkanmu Humairah. Aku hanya rindu dengan sentuhanmu dan senyummu." ucap Baihaqi lembut dan tersenyum.

__ADS_1


"Mas setiap hari kita bertemu, bahkan kita bersentuhan, kita berbicara, apa itu masih belum cukup??" tanya Aisyah pelan.


"Bukan itu sayang. Aku ingin segera kembali ke Indonesia, dan kita akan menjadi keluarga yang utuh, sakinah mawadah warahmah." ucap Baihaqi pelan.


Aisyah tersenyum manis, walaupun setengah wajahnya masih tertutup perban dan Aisyah belum diperbolehkan banyak menggerakkan wajahnya.


"Aku mencintaimu dari dulu hingga saat ini dan sampai kita menua nanti." ucap Aisyah lembut.


"Kamu mau memaafkan aku, Aisyah. Segala kekurangan dan kekhilafanku selama ini yang mungkin membuat hatimu kecewa, atau secara tidak sengaja aku sudah menyakiti hatimu Humairah." ucap Baihaqi pelan dan masih setia menyuapi Aisyah dengan pelan.


"Aku selalu memaafkanmu Mas, sebelum kamu meminta maaf pun aku sudah memberi maaf, karena kamu adalah laki-laki baik yang patut aku pertahankan. Kamu tidak pernah menyakitimu Mas. Malahan aku yang kadang membuatmu kacau dengan segala permintaan anehku." ucap Aisyah lembut. Satu tangannya memegang wajah Baihaqi lalu mengusapnya dengan pelan.


"Terima kasih Aisyah. Kamu benar-benar istri yang Sholehah dan hatimu begitu mulia. Bagaimana aku tidak jatuh cinta kepadamu setiap hari. Kamu itu selalu membuat hatiku berdebar-debar." ucap Baihaqi pelan.


"Mas Baihaqi. Ini rumah sakit, bukan kamar tidur kita." ucap Aisyah tersenyum lalu menjawil dagu Baihaqi.


"Jangan memancingku seperti itu, aku bisa khilaf nanti Aisyah. Disini kita hanya berdua, tidak ada yang lain. Aku bisa berbuat kapan saja tinggal mengunci pintu, hayooi." ucap Baihaqi menggoda Aisyah.


"Ampun Mas Bai. Jangan ya, aku harus istirahat Mas." ucap Aisyah pelan dan memohon ampun agar tidak terus digoda.


Baihaqi bangkit berdiri dan meletakkan mangkok kosong bekas bubur Aisyah di balas sebelah brankar. Lalu berjalan menuju Aisyah dan berpura-pura membuka kancing bajunya seakan ingin menerkam Aisyah saat itu juga. Wajahnya terlihat bernafsu.


Aisyah menatap tajam Baihaqi, lalu mengeratkan pakaian gamisnya dengan kedua tangannya. Bibirnya tidak bisa berucap dan hanya terdiam. Saat wajah Baihaqi semakin dekat dan semakin dekat, Aisyah memalingkan wajahnya menjauh dari wajah Baihaqi.


"Humairah ... aku masih punya akal sehat. Kenapa kamu begitu takut dengan suamimu ini?" ucap Baihaqi pelan. Satu tangannya memegangi wajah Aisyah untuk menghadapnya.


Aisyah hanya terdiam, wajahnya memerah karena malu dan sudah berprasangka buruk. Baihaqi mendekati wajah Aisyah dan mengecup bibir ranum itu.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...

__ADS_1


Terima Kasih ....


__ADS_2