KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 62


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....


💚💚💚💚💚💚


Semakin tinggi keimanan kita, ujiannya pun akan semakin beragam. Tapi yakinlah Allah SWT akan memberikan solusi terbaik bagi hambanya yang taat.


Hari ini adalah hari yang sudah dijadwalkan oleh Raina untuk melakukan operasi wajah Aisyah. Semua persiapan sudah dipersiapkan dengan baik. Aisyah pun sudah siap secara mental untuk menjalani operasi wajah tersebut.


Baihaqi yang selalu mensupport dan memotivasi Aisyah untuk terus yakin terhadap dirinya sendiri bahwa operasi ini akan berjalan lancar dan baik.


"Aisyah, wajahmu tampak tegang?" tanya Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Aku kepikiran anak-anak dirumah Mas Bai. Bagaimana mereka." tanya Aisyah pelan.


"Bohong ... Kamu takut ya? Ada aku Aisyah. Tenang." ucap Baihaqi pelan sambil merangkul tubuh Aisyah.


Aisyah sudah masuk ke dalam ruang operasi. Operasi diperkirakan sekitar tiga sampai enam jam tergantung dengan kondisinya.


Raina, Fathan dan Baihaqi menunggu di depan ruangan. Tetap saja ada perasaan takut dan was-was jika operasi tidak berjalan dengan lancar atau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita.


"Mas Fathan dan Kak Raina pamit mau sholat dulu. Titip Aisyah." ucap Baihaqi kepada kedua kakaknya dengan sopan.


"Silahkan Bai. Kita akan menunggu disini. Minta sama Allah SWT agar diberi kemudahan dan kelancaran." ucap Fathan dengan pelan.


"Aamiin ya Rabb ... Insya Allah Mas Fathan. Assalamualaikum." ucap Baihaqi sopan.


"Waalaikumsalam ..." jawab Fathan dan Raina serempak berbarengan.


Baihaqi berjalan menuju mushola kecil di pojok lorong rumah sakit. Di mulai dengan sholat hajat empat rakaat dengan dua kali salam. Setelah menyelesaikan sholat sunnahnya, Baihaqi pun mengambil mushaf kecil dari kantong jaketnya dan mulai membaca beberapa ayat suci Al-Quran. Lalu berdzikir. Baihaqi pun mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa memohon kelancaran dan kemudahan untuk semuanya.


Sekitar tiga jam kemudian, Baihaqi terbangun dari tidurnya. Ia sudah tertidur lebih dari dua jam di mushola kecil itu.


'Astaghfirullah aku tertidur saat berdzikir.' ucapnya pelan pada dirinya sendiri.


Baihaqi pun bergegas menuju ruang operasi, disana masih terlihat Kak Raina dan Mas Fathan masih setia menunggu Aisyah.


"Assalamualaikum Mas Fathan, Kak Raina ... Maafkan aku, tadi tertidur di Mushola saat berdzikir." ucap Baihaqi pelan.


"Waalaikumsalam ... iya Bai. Tadi sempat drop kondisinya karena efek obat bius. Tapi Alhamdulillah sudah normal kembali, hanya saja operasinya belum selesai." ucap Fathan pelan dengan senyum.


"Selamat operasinya berhasil, semuanya berjalan sangat baik dan lancar. Mungkin sekitar satu jam lagi pasien akan siuman." ucap Dokter yang keluar terakhir kalinya.


Semua mengucapkan Alhamdulillah, setelah mendengar ucapan dokter ada perasaan lega dan tenang.


DI TEMPAT LAIN


Tepat hari ini adalah hari bahagia bagi Joe namun tidak bagi Anggie. Joe merasa menang dengan usahanya untuk mendapatkan Anggie. Hanya jiwanya tapi tidak dengan cintanya. Itu lebih menyakitkan dibanding dengan orang yang berusaha untuk mencintai kita.


Bukan Joe namanya bila menyerah begitu saja. Semua usaha akan dia lakukan agar Anggie tetap bersamanya selama hidup.


"Joe ... kapan kita berangkat ke Kairo." ucap Anggie saat melepaskan baju pengantinnya.


"Lusa kita berangkat, karena tiket sudah dipesan." ucap Joe singkat sambil melepas semua pakaiannya.


"Kamu tidak membohongiku kan?" tanya Anggie pelan, kedua matanya menyipit dan menatap ke arah Joe yang terlihat santai.


"Untuk apa, anak buahku sedang menyiapkan tempat disana untuk kita tinggal. Kebetulan aku ada kerjaan disana." ucap Joe singkat.


"Oke ... Aku percaya, aku mau tidur dulu." ucap Anggie dengan ketus.

__ADS_1


Anggie sudah merebahkan diri di kasurnya dan terlihat lelap. Joe memandangi wajah Anggie yang kini benar-benar sudah menjadi miliknya seutuhnya.


Hanya saja ada satu hal yang masih Joe rahasiakan dari Anggie. Tapi rasa cinta dan rasa takut kehilangan Anggie pun telah membuat Joe buta akan semuanya. Yang Joe tahu adalah bagaimana caranya membahagiakan Anggie dengan materi yang berkelimpahan.


Joe bangkit berdiri dan pergi meninggalkan rumah untuk bertemu teman lamanya. Ya, di tempat biasa yang menjadi markas anggota genknya dahulu. Joe dengan langkah tegas memasuki markas tersebut.


Terdengar suara tepuk tangan dari seseorang yang sangat Joe kenal.


"Hai Joe. Akhirnya kamu datang juga." ucap Bima pelan kepada Joe.


"Hai Bang Bima. Apa kabarmu?" tanya Joe singkat.


"Sudah siap untuk berangkat ke Kairo?" ucap Bima pelan.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Joe kembali kepada Bima.


"Semua sudah aku siapkan lengkap. Anak buahku juga aku turunkan untuk menjaga istrimu. Tapi ingat, cinta sejatiku masih tertinggal disana. Dan sewaktu-waktu aku kembali kesana, jangan pernah kecewakan aku, Joe." ucap Bima sedikit ketus.


"Iya bang. Aku mengerti dan paham sekali." ucap Joe singkat.


"Tidak perlu menunggu lusa. Besok pagi kamu sudah bisa berangkat. Nanti aku transfer uang untuk biaya hidupmu bersama istrimu disana." ucap Bima pelan sambil mengutak-atik ponselnya.


Joe dan Bima adalah saudara sepupu. Mereka terlahir di Indonesia dan dibesarkan di Amerika. Perbedaan usia mereka cukup jauh sekitar sepuluh tahunan lebih.


"Baiklah aku kembali dulu untuk mempersiapkan diri." ucap Joe pelan kepada saudara sepupunya itu.


"Ini tiketmu. Ambilah." ucap Bima pelan sambil melempar amplop coklat di meja tepat didepan Joe duduk.


Joe mengambil amplop itu dan membukanya. Ada dua tiket dan kunci apartemen serta kunci mobil.


"Ada yang kurang?" tanya Bima pelan kepada Joe.


"Cukup Bang Bima. Aku rasa ini sudah lebih dari apa yang aku harapkan." ucap Joe singkat.


Joe membawa amplop itu dan bangkit berdiri kemudian pulang ke rumahnya.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2