
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku (Tamat)
Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)
Angkringan Cinta (Tamat)
Kopi Paste
Kesucian Syahadat ( Tamat)
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Bulan dan Bintang
Kang Tatang dan Asmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Aisyah dan Anggie datang ke lokasi tempat penembakan. Di sana hanya terlihat beberapa makanan jatuh berceceran, salah satunya makanan kesukaan Aisyah.
Deg deg deg ....
Aisyah mengedarkan pandangannya ke seluruh taman dan ke seluruh jalan disekitar taman. Aisyah pun menarik lengan Anggie dan menggenggam tangan Nadya erat.
"Lihat, itu lelaki berbadan kekar yang mencari kamu dan Joe. Lebih baik kita pergi dari sini, nanti kita cari Joe dan Mas Baihaqi." ucap Aisyah pelan.
__ADS_1
Anggie terlihat panik dan hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Anggie mendorong kereta bayi Azan untuk menutupi perutnya yang buncit sedangkan Aisyah berjalan menggandeng Nadya.
Wajah Aisyah tampak gusar dan cemas. Jikalau yang terkena tembakan itu Mas Baihaqi, karena sampai sekarang Mas Baihaqi tidak terlihat batang hidungnya.
Aisyah dan Anggie berjalan menuju apartemen Aisyah yang tidak jauh dari taman.
"Kita ke rumah dulu, baru nanti mencari Mas Baihaqi dan Joe." ucap Aisyah pelan. Hatinya cemas, tapi sebisa mungkin Aisyah menutupi kekhawatirannya dengan diam.
"Iya Kak Aisyah." ucap Anggie lirih. Terlihat jelas wajah Anggie begitu ketakutan dan memerah. Sat tangannya masih mengeratkan pada kerudung Aisyah.
"Kamu takut?" tanya Aisyah kepada Anggie pelan.
"Sangat takut, aku tidak tahu harus bagaimana?" jawab Anggie pelan.
Aisyah dan Anggie terus berjalan hingga sampai di apartemen Aisyah. Disana sudah ada Kak Fathan menunggu di depan apartemen Aisyah.
Aisyah berlari kecil menghampiri Kak Fathan. Tentu tidak biasanya Kak Fathan datang ke apartemen Aisyah jika tidak ada keperluan yang mendesak.
"Assalamualaikum, ada apa Kak Fathan." ucap Aisyah pelan menyapa.
"Waalaikumsalam, Aisyah. Kita masuk sebentar bisa?" ucap Kak Fathan pelan.
"Boleh Kak. Ayo masuk." ucap Aisyah pelan.
Aisyah, Anggie dan Kak Fathan pun masuk ke dalam.
"Ini Anggie, mantan istri Mas Baihaqi, Kak Fathan." jawab Aisyah mengenalkan.
"Oh ini yang namanya Anggie? Kamu sedang hamil?" tanya Kak Fathan ke arah Anggie yang ikut duduk di sofa itu dengan perasaan was-was.
"Iya Kak." jawab Anggie dengan kepala menunduk.
"Untuk apa kamu kesini lagi? Ingin menggangu rumah tangga adikku Aisyah?!Hah!! jawab!!" ucap Kak Fathan ketus karena sudah terpancing emosi.
"Tidak Kak. Aku sudah menikah, dan aku mencintai suamiku. Aku hanya sedang bingun, maka aku minta tolong kepada Kak Aisyah." ucap Anggie dengan jujur.
"Tidak usah beralasan kamu!! Baihaqi tertembak itu karena kamu!!" ucap Kak Fathan dengan marah dan emosi sambil menunjuk ke arah Anggie.
Bagaikan tersambar petir Aisyah mendengar ucapan Kak Fathan.
"Apa yang kamu ucapkan itu benar Kak? Suamiku tertembak?? Jawab Kak??" ucap Aisyah menangis sesegukan.
Fathan langsung memeluk Aisyah, lalu mengusap punggung Aisyah dengan lembut.
"Itu benar Aisyah. Baihaqi tertembak, dan saat ini sudah ada di rumah sakit. Kondisinya sangat parah, sepertinya sebelumnya sempat dianiaya." ucap Fathan terbata-bata.
Memberikan kabar duka dan mengenaskan seperti ini sangatlah sulit. Belum lagi respon yang kita beri kabar langsung terkena serangan jantung, bisa lebih fatal akibatnya.
__ADS_1
"Pak Baihaqi ... Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Anggie dengan panik.
"Dia koma, Aisyah kamu yang sabar menghadapi ini." ucap Fathan pelan.
"Tidak mungkin Kak Fathan. Mas Baihaqi gak mungkin. Gak mungkinnnnnnn!!" teriak Aisyah keras.
"Maafkan aku Aisyah. Raina baru saja memberitahukan kepadaku. Ada seseorang yang dianiaya dan tertembak, ternyata Baihaqi." ucap Fathan pelan.
"Tidak mungkin suamiku. Dia gak punya musuh Kak Fathan. Lalu siapa yang menembaknya. Astaghfirullah ..." ucap Aisyah menangis dengan keras. Wajahnya terlihat pucat dan sendu, tangannya terus mengepal dan memukul dada Fathan untuk meluapkan kekesalannya dan kesedihannya.
"Sudah Aisyah, kamu harus sabar, itu semua takdir." ucap Fathan pelan. Matanya ikut basah saat memeluk Aisyah dengan lembut.
"Lalu, bagaimana dengan Joe ya?" ucap Anggie lirih.
Perutnya yang besar diusap-usap dengan gerakan memutar. Bayi didalam perutnya menendang-nendang sejak tadi. Seperti sedang memberikan informasi tentang sesuatu hal yang terjadi.
"Kenapa harus Mas Baihaqi, Kak Fathan. Kenapa harus Mas Baihaqi. Orang yang begitu baik dan perhatian dengan keluarga. Baru saja aku merasakan kehangatan keluarga kecilku seutuhnya. Tapi, Allah sudah merenggutnya kembali. Apa dosaku?!!" ucap Aisyah keras berteriak.
"Aisyah ... Jangan seperti ini." ucap Fathan lembut.
"Aku gak kuat menanggung beban ini Kak Fathan, Aku gak kuat. Aku sekarang bisa merasakan saat ini bagaimana Mas Baihaqi mencari aku saat belum ditemukan. Sudah pasti hancur, kecewa, menyesal, sedih dan rindu. Iya kan??" ucap Aisyah keras kepada Fathan.
"Kalau kamu seperti ini terus, aku tidak akan membawamu ke rumah sakit untuk menemani Baihaqi." ucap Fathan dengan tegas.
Leleran air mata Aisyah sudah tak terbendung lagi, lirih begitu saja dengan derasnya. Aisyah terduduk lemas dilantai, pelukannya pada Fathan pun terlepas begitu saja seperti tak bertenaga. Kepalanya di rebahkan dilantai, kepalan tangannya terus saja di pukul-pukulkan ke lantai.
"Kak Aisyah jangan seperti ini." ucap Anggie yang ikut terduduk dilantai dan memeluk Aisyah penuh ketulusan.
"Aku gak sanggup Anggie. Ini lebih berat daripada saat mengikhlaskan Mas Baihaqi untuk menikahi kamu. Apa aku sanggup melewati ini semua?" ucap Aisyah lirih sekali. Hatinya benar-benar patah, asanya sudah pupus seketika.
"Kak Aisyah pasti sanggup melewati ini semua. Kak Aisyah pasti bisa tegar dan tabah mengahadapi ujian ini. Kita sama-sama mendoakan untuk kesembuhan Pak Baihaqi. Aku antar ke rumah sakit Kak, untuk menemui Pak Baihaqi." ucap Anggie pelan.
"Terima kasih Anggie, kamu sudah menguatkan aku. Kak Fathan bisa kita ke rumah sakit sekarang?" ucap Aisyah pelan.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
__ADS_1
Terima Kasih ....