
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Tangis Aisyah pun pecah dan memeluk Bu Maryam dengan sangat erat. Rasa sakit di punggung dan kakinya sudah tidak dirasakan lagi. Saat ini hatinya benar-benar kacau dan hancur sehancurnya.
Bu Maryam pun mengusap lembut lengan dan punggung Aisyah. Memberikan kekuatan yang lebih untuk wanita sebaik Aisyah.
__ADS_1
SATU BULAN KEMUDIAN ...
Kondisi Aisyah pun semakin baik dan stabil, dan sudah mulai membiasakan diri untuk bergerak ringan seperti berjalan, membereskan kamar dan menyapu.
Perutnya makin membuncit dan gerakan halus sang anak pun mulai sering terasa bergerak di dalam perutnya. Aisyah kini makin menguatkan dirinya dengan dzikir dan sholawat. Melegakan hatinya agar tetap sabar, tulus dan ikhlas menerima takdir yang sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT.
"Aisyah, apa kegiatanmu pagi ini?" tanya Bu Maryam saat membuat sarapan.
Aisyah pun memberhentikan aktivitas menyapunya dan tersenyum manis ke arah Bu Maryam yang juga sedang menatapnya.
"Aku ingin mencari pekerjaan Bu Maryam, tidak mungkin aku mengandalkan Bu Maryam setiap saat, terlebih aku akan melahirkan dalam waktu dekat, minimal aku bisa membelikan pakaian untuk bayiku nanti." ucap Aisyah pelan dan lembut.
"Aisyah ... Harus berapa kali, aku bicara, kamu sudah aku anggap seperti anakku sendiri." ucap Bu Maryam meninggi.
"Tapi, Bu Maryam,.aku ingin mandiri, karena setelah anak ini lahir, ada kemungkinan aku akan pulang ke Indonesia. Tapi ... " ucapan Aisyah pun terhenti. Mengingat Baihaqi sudah memiliki istri lain dan kemungkinan mereka bersatu itu pasti ada.
"Aisyah ... Kenapa?! Apa kamu masih memikirkan suamimu?. Dengarkan aku baik-baik, kalau itu memang milikmu, pasti akan kembali lagi, namun kalau itu memang bukan milikmu maka kamu akan dijauhkan secara perlahan." ucap Bu Maryam memberi nasihat.
Aisyah pun mengangguk pelan dan begitu pasrah lalu melanjutkan aktivitas menyapunya, dan berusaha menghilangkan pikiran buruk yang malah mengganggunya.
-RUMAH BAIHAQI, INDONESIA-
Baihaqi sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Pak Amin yang menjemput majikannya itu. Sepanjang perjalanan, pikiran Baihaqi pun melayang dan selalu tertuju ke arah Aisyah. Butiran tasbih tidak pernah terlepas dari tangannya, terus saja berdzikir dan bermunajat untuk mendapatkan keajaiban.
Sejatinya Baihaqi merasakan bahwa Aisyah itu belum meninggal, Aisyah hidup seperti dirinya. Namun pernyataan itu selalu di tepis oleh Zhein dan Suci serta Fathan, yang menganggap Aisyah harus diikhlaskan.
Baihaqi hanya terdiam seribu bahasa, tidak ada suara ataupun hembusan napas kasar yang terdengar oleh Pak Amin. Sesekali matanya memandang ke arah luar dan menatap keindahan Kota Semarang.
"Pak Baihaqi mau makan dulu atau mau langsung pulang?" tanya Pak Amin dengan lembut dan sopan.
Pertanyaan itu kemudian membuyarkan lamunan Baihaqi yang menatap indah Kota Semarang yang sudah hampir beberpaa bulan Ia tinggalkan.
Baihaqi pun menghela napas panjang dan tersenyum tipis kepada Pak Amin yang terus menatap Baihaqi menunggu jawaban sang majikan melalui kaca spion tengah.
"Kita makan ditempat biasa Aisyah mengajak kita makan bersama." ucap Baihaqi pelan. Terlihat guratan penyesalan dan kesedihan di wajah Baihaqi.
"Di Rumah Makan Sate Sapi biasa Pak?" tanya Pak Amin menegaskan.
" Iya Pak Amin, tempat biasa." ucap Baihaqi mantap. Kedua matanya tertuju pada jalanan yang ramai dan lampu-lampu yang mulai menampakkan cahayanya.
__ADS_1
Pak Amin yang mendengar jawaban Baihaqi pun langsung membelokkan arah mobilnya ke Rumah Makan kesukaan Aisyah.
Baihaqi dan Pak Amin turun dari mobil dan berjalan dengan langkah pelan. Ia selalu ke tempat ini bersama istri kesayangannya. Namun, kali ini Baihaqi harus berbesar hati untuk datang sendiri dan menikmati lezatnya sate sapi itu sendiri. Apakah rasa lezatnya akan sama? Saat Aisyah ada disampingnya dengan Aisyah yang kini sudah meninggalkannya?
Mata Baihaqi pun mulai basah dan memerah, mengenang kembali perjalanan terakhir dari Yogyakarta ke Semarang setelah acara Keluarga Besar Atmojo di Rumah Kak Suci dan Mas Zhein.
Kebahagiaannya menanti buah hati yang telah hampir enam tahun ini ditunggu pun telah pupus harapannya. Apa jadinya aku nanti, bila hidupku sudah tergantung pada Aisyahku ...?
Seorang pelayan mendatangi meja Baihaqi dan menanyakan pesanan apa yang akan dipesannya. Dirasa pesanannya sudah lengkap dan cukup, pelayan itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan Baihaqi.
Lima belas menit menunggu pesanan dan akhirnya tersaji di meja makan. Wangi Bakaran Sate Sapi itu menyeruak ke hidung Baihaqi hingga jiwa laparnya pun meronta-ronta untuk segera menikmatinya. Baihaqi pun memakan dengan pelan dan diam seribu bahasa. Sesekali menyeka matanya yang basah agar buliran air mata itu tidak turun ke pipinya.
"Pak Baihaqi sepertinya kurang berselera dan tidak bersemangat." tanya Pak Amin yang masih mengunyah sate sapi yang lembut itu.
Baihaqi mendongakkan kepalanya, wajahnya sembab karena harus makan dengan menangis. Baihaqi mencoba tersenyum namun itu sulit, karena hatinya masih sesak mengingat kejadian itu yang begitu cepat.
"Pak Amin pernah mengalami di posisi saya bukan. Mungkin bedanya, jasad terakhir istri Pak Amin ada, sedangkan Aisyah melihat jasadnya pun tidak, aku rindu padanya bahkan sangat rindu pada Aisyahku tersayang. Aku kehilangan bahkan jiwaku sebagian pun seakan hilang terbawa oleh Aisyah. Hidupku sudah sangat tergantung pada Aisyahku, Pak Amin." ucap Baihaqi pelan dan terbata bata.
Rasa sate sapi itu pun tak terasa nikmat di lidahnya, hanya untuk mengobati rasa rindunya kepada Aisyah yang menyukai sate sapi. Hidupnya benar-benar seakan berhenti mengingat saat ini Aisyah sudah tidak ada lagi disisinya, menemani hari-harinya.
"Saya mengerti Pak Bai. Dan saya bisa merasakan kepahitan saat ditinggalkan. Namun masih ada Bu Anggie yang selalu setia menunggu kepulangan Pak Bai. Saya rasa perubahan Bu Anggie pun sangat signifikan, sekarang beliau begitu baik dan lemah lembut semenjak Bu Anggie harus kehilangan bayinya." ucap Pak Amin menjelaskan dengan pelan.
Baihaqi pun menyimak ucapan Pak Amin dan hanya menghela napas panjang lalu menghembuskan napasnya itu dengan pelan. Baihaqi pun bahkan lupa dengan keberadaan Anggie, karena selama ini baginya Anggie itu tidak pernah ada. Hatinya terlanjur kecewa kepada keluarga Anggie, hanya demi menuruti keinginan Aisyah untuk menutupi aib gadis itu maka Baihaqi pun menerima pernikahan itu. Lalu sekarang bagaimana? Bahkan mereka akan tinggal bersama dengan ikatan yang sudah pasti halal dan SAH.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....
__ADS_1