KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 74


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....

__ADS_1


💚💚💚💚💚💚


Sesuai janji Anggie kepada Nadya. Malam ini mereka berdua berjalan menuju supermarket terdekat untuk sekedar berjalan-jalan dan membeli es krim strawberry kesukaan Nadya.


Mereka berdua berjalan bersama seperti Ibu dan anak yang sedang menikmati kebersamaan dalam malam.


'Betapa nikmat, hidup senyaman ini tanpa ada rasa benci dan dendam. Rasa itu tiba-tiba saja hilang terlebih melihat Pak Baihaqi yang sudah tidak berdaya lagi seperti itu.' batin Anggie di dalam hati.


Malam itu berakhir dengan kegembiraan seorang Nadya yang bisa mendapatkan es krim strawberry kesukaannya dengan Anggie. Mereka pun pulang menuju arah apartement milik Aisyah di seberang jalan.


"Hei ... Kamu wanita bercadar hitam?!" teriak lantang seorang laki-laki bertubuh besar dan berlari menghampiri Anggie.


Anggie yang merasa dirinya memakai cadar hitam pun menengok ke arah belakang. Satu orang bertubuh besar dan berkulit hitam berlari mengejar Anggie. Wajah Anggie tampak pucat di balik cadarnya.


Tidak jauh dari sana, sepasang mata menatap ke arah keduanya secara bergantian dibalik mobilnya. Laki-laki bertubuh besar itu langsung menarik lengan Anggie dengan sangat kasar.


Nadya yang tampak kebingungan hanya bisa menangis melihat Anggie dibawa oleh dua orang bertubuh besar yang tidak dikenal masuk ke dalam mobil di sudut jalan.


Melihat Anggie yang bersusah payah melepaskan genggaman tangan kekar itu dan berteriak-teriak memanggil nama Nadya. Satu orang menangkap tubuh Nadya dari belakang dan menggendong anak perempuan kecil itu yang ketakutan dan menangis.


Fathan menatap tajam ke arah Anggie yang tengah hamil besar diseret paksa oleh dua orang bertubuh besar itu dan dimasukkan ke dalam mobil.


Dalam hati Fathan hanya bisa beristighfar dan mendoakan semoga tidak terjadi apa-apa terhadap Anggie. Sejauh ini Fathan sangat detail mengumpulkan informasi tentang Anggie dan Joe Suaminya. Perlahan akar masalah pun terkuak dengan jelas.


Fathan yang baru saja melihat rekaman cctv di area jalan penembakan Baihaqi sudah mengantongi nama pelaku yang melakukan penembakan yang tidak tepat sasaran itu hingga mengakibatkan Baihaqi terkena peluru nyasar yang hampir menembus jantung dan paru-parunya.


Mobil hitam itu sudah pergi dengan kencang, Fathan hanya mengingat nomor plat mobil yang digunakan oleh kedua pria bertubuh besar itu. Sambil menggendong Nadya yang masih memeluk erat Fathan.


Fathan memang sengaja mencari keberadaan Nadya, karena masih kurang percaya kepada Anggie yang terlihat sok baik dan perhatian kepada Aisyah, Nadya dan Azzan. Saat pengasuh Nadya berkata, Nadya pergi bersama Anggie ke supermarket terdekat untuk membeli es krim strawberry kesukaan Nadya, Fathan langsung mencari Nadya ke supermarket tersebut.


Memang waktu yang tepat dan sangat pas, saat Fathan tiba di lokasi, saat itu juga kejadian Anggie di bawa oleh dua orang bertubuh besar. Entah suruhan siapa, entah Anggie memiliki musuh atau ada kaitannya dengan Joe atau mungkin ini semua berkaitan dengan masa lalu Raina istrinya.


Sejak berumah tangga, kehidupan rumah tangganya selalu saja di teror oleh orang-orang yang tidak dikenal. Sudah berapa kali Fathan juga akan di celakai, namun semua itu tidak pernah berhasil.


Malam ini, Aisyah masih terjaga dari tidurnya dan sesekali. Setelah sholat malam dan bersujud sangat lama kemudian memohon keajaiban untuk kesembuhan Suaminya.


Butiran tasbih tidak pernah lepas dari genggaman jarinya. Jarinya terus saja menggulirkan butiran tasbih itu hingga ujung ke ujung dan terus saja begitu. Bibirnya sudah basah karena dzikir dan sholawat serta doa-doa yang Aisyah panjatkan kepada Allah SWT.

__ADS_1


Air matanya sudah kering, sudah tidak bisa meneteskan buliran kristal yang bisa meredamkan suasana hatinya. Namun hatinya masih terasa sakit dan sesak setiap kali melihat ke arah kaca besar yang didalamnya sudah ada Baihaqi yang tergolek lemah dan tidak berdaya. Sudah banyak selang yang tertancap di sekujur tubuh Baihaqi untuk membantu merangsang detak jantungnya. Nafasnya tidak terasa sama sekali, dadanya pun tidak terlihat seperti masih hidup. Mungkin bisa dikatakan Baihaqi seperti mayat hidup yang harus diikhlaskan.


Aisyah kembali lagi duduk di ruang tunggunya dan masih lengkap menggunakan mukenanya, berharap saat shubuh tiba, Baihaqi mengajaknya sholat shubuh berjamaah. Walaupun itu semua hanya angan-angan dan entah kapan bisa terwujud. Nyawa Baihaqi sudah benar-benar di ujung tanduk. Mungkin saat ini ia sedang merasakan sakratul maut, saat malaikat pencabut nyawa memang sudah datang dan hendak mencabut nyawa Baihaqi.


'Apa yang harus aku perbuat Ya Rabb ... Apa yang harus aku sedekahkan agar bisa menyembuhkan Mas Baihaqi suamiku ... Apa yang harus aku amalkan untuk menebus dosa Mas Baihaqi suamiku. Bagaimana aku bisa menjadi seorang istri yang sholehah bila aku saja takut akan kematian suamiku sendiri. Aku tahu, seharusnya aku tidak boleh mencintai yang terlalu berlebihan kepada makhluk sesamaku yang sama-sama makhluk ciptaanMu Ya Rabbku ...' batin Aisyah lirih.


"Aisyah ... " panggil Raina pelan yang sudah duduk disampingnya.


Entah kapan wanita itu datang hingga Aisyah pun tidak menyadari kedatangan Raina di sampingnya.


Aisyah menoleh ke arah samping tepat menatap wajah Raina yang terlihat bersih dan bercahaya. Baju putih seragam dokternya pun terlihat berkilau bagai cahaya. Senyumnya mengembang sangat manis dan ramah. Satu tangannya menyentuh kedua tangan Aisyah yang masih memegang tasbih.


"Kak Raina ... Sejak kapan Kakak ada di sini?" tanya Aisyah pelan dan terbata bata karena kaget bukan main.


Raina hanya tersenyum manis dan menganggukan kepalanya dengan pelan. Lalu menatap ke arah kaca tembus pandang ruangan Baihaqi di rawat.


"Kamu harus kuat Aisyah. Semua itu sudah menjadi takdirmu. Apapun itu terimalah kenyataan hidupmu dengan tabah dan ikhlas. Kesabaranmu sedang di uji oleh Allah SWT. Jangan putus berdoa dan memohon ampunan Aisyah. Mungkin ada dosa yang kamu lupakan Aisyah." tanya sosok Raina kepada Aisyah dengan lembut.


"Dosa yang aku lupakan?? Dosa terhadap suamiku??" tanya Aisyah dengan penuh semangat.


Raina hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan menatap Aisyah dengan wajah sendu.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....

__ADS_1


__ADS_2