
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Nadya ini termasuk anak yang jarang bicara dan sulit bergaul. Tapi saya lihat, Nadya nyaman dengan Mbak Aisyah. Kalau memang Nadya ingin main kemari untuk menemani Mbak Aisyah tidak apa-apa. Saya bisa mengerti." ucap Hanyfah dengan mantap.
"Terima kasih Hanyfah. Aku bahagia sekali jika memang Nadya mau bermain disini." ucap Aisyah pelan.
"Nadya mau disini sama Tante Aisyah?" tanya Bunda hanyfah pelan.
Nadya pun mengangguk dengan semangat.
"Boleh Bunda?" tanya Nadya pelan dengan menatap ke arah Bundanya.
"Nanti biar saya antarkan pulang Mbak Hany. Biarkan main disini dulu. Kebetulan saya lagu tidak ada pekerjaan." ucap Aisyah lembut.
"Baiklah aku tinggal dulu Aisyah, panggil aku Hanyfah atau Hany, umur kita tidak jauh berbeda." ucap Hanyfah pelan.
"Baiklah Hanyfah." ucap Aisyah pelan.
"Aku permisi Aisyah. Nadya kamu jangan nakal ya sayang." ucap Hanyfah pelan.
Hanyfah pun pamit undur diri untuk pulang ke rumah. Sementara Nadya tengah asyik memainkan boneka milik Aisyah.
"Nadya suka dengan bonekanya? boleh di bawa pulang kok. Panggil saja Tante dengan panggilan Umi Aisyah." ucap Aisyah pelan.
__ADS_1
"Iya Umi, Nadya sangat senang. Umi ada kertas, Nadya ingin menggambar." ucap Nadya pelan
"Nadya suka menggambar? Umi ambilkan kertas dan pensil warna, sebentar ya sayang." ucap Aisyah pelan menuju kamarnya untuk mengambil kertas dan pensil warna sisa hadiah untuk acara di Ponpes beberapa bulan yang lalu.
Aisyah pun memberikan peralatan untuk menggambar itu kepada Nadya, dan Nadya mulai menggambar.
Aisyah sangat senang dan bahagia bila memang Allah SWT menitipkan amanah dan anugerah terindah untuknya.
"Non Aisyah, ada telepon dari butik." ucap Mbok Surti sedikit mengagetkan Aisyah yang sedang melamun.
"Iya Mbok. Terima kasih. Temani Nadya sebentar." ucap Aisyah lembut.
Langkah kakinya berjalan cepat untuk segera menerima telepon dari orang kepercayaannya itu.
"Assalamualaikum... Hallo Andini bagaimana?" tanya Aisyah pelan.
"Waalaikumsalam... Bu Aisyah, mau ke butik atau saya yang ke rumah? baju kebaya pesanan Bu Handoko untuk Minggu depanbelum full Payet, tadi Bu Handoko mampir untuk memastikan." ucap Andini sopan dari seberang.
"Bawa ke rumah Andini. Hari ini, saya tidak bisa ke butik, sedang ada tamu." ucap Aisyah menjelaskan.
"Baiklah Bu Aisyah saya akan kesana, setelah pekerjaan saya selesai. Assalamualaikum..." ucap Andini pelan.
"Iya Andini. Saya tunggu. Waalaikumsalam..." ucap Aisyah pelan.
Aisyah pun kembali menemani Nadya yang sedang asyik menggambar, sekilas Aisyah pun melihat gambar dan sedang di buat oleh Nadya.
Nadya tampak fokus dan menulis maksud dari gambar itu.
"Sudah selesai Umi.... " teriak Nadya cukup keras. Sebuah kertas diberikan kepada Aisyah.
"Coba Umi lihat sayang. Hemmm ini bagus, coba jelaskan arti gambarmu ini?" tanya Aisyah pelan kepada Nadya.
"Ini gambar Nadya, sedang digandeng oleh Umi Aisyah dan Papa." ucap Nadya terputus, karena Nadya belum mengenal suami Aisyah.
"Papa? Papa siapa Nadya?" tanya Aisyah lembut.
"Papanya Umi... namanya siapa?" tanya Nadya pelan sambil menunjuk ke arah foto Aisyah dan Baihaqi di figura yang menggantung pada dinding.
"Ohhh Papa? Itu namanya Papa Baihaqi. Panggil saja Papa Bai." ucap Aisyah yang langsung paham dengan maksud Nadya.
Nadya pun mengangguk pelan dan menulis kembali nama Papanya itu.
Aisyah pun tersenyum manis, Nadya baru mengenalnya sekitar tiga jam yang lalu tapi terasa sudah bertahun-tahun mengenalnya.
"Assalamualaikum.... Humairah..." tanya Baihaqi pelan dan menatap ke arah Nadya.
"Waalaikumsalam.... Mas Bai, katanya pulang larut malam?" ucap Aisyah langsung menghampiri Suaminya dan mencium punggung tangan suaminya dengan sopan.
Melihat pemandangan itu, Nadya pun menghampiri Baihaqi dan mencium tangan Baihaqi dengan sopan.
Baihaqi pun berlutut dan mensejajarkan pandangannya terhadap Nadya.
"Assalamualaikum cantik... namanya siapa?" tanya Baihaqi lembut.
__ADS_1
"Waalaikumsalam... Papa Bai. Aku Nadya anak dari Bunda Hanyfah dan Abi Arif." ucap Nadya dengan sopan.
"Oke Nadya sedang bermain?" tanya Baihaqi pelan.
"Iya Papa, Umi Aisyah memperbolehkan aku bermain di sini dan Bunda Hany pun sudah mengijinkan Nadya untuk bermain disini. Papa tidak suka dengan Nadya?" tanya Nadya dengan polos. Wajahnya sendu dan sedikit kecewa.
Menyadari kesalahannya, Baihaqi pun memeluk Nadya dengan erat dan mengusap punggung anak itu dengan lembut, kemudian mencium kedua pipi anak itu.
"Nadya boleh panggil Papa. Papa Bai. Nadya mau apa?" tanya Baihaqi pelan.
Aisyah pun ikut terharu melihat suaminya yang begitu erat memelukku Nadya seolah merindukan anak di dalam keluarga kecilnya. Buliran kristal itupun luruh begitu saja. Pandangannya pun langsung di alihkan ke sembarang arah.
"Papa Bai. Nadya ingin Es Krim cokelat, boleh?" ucap Nadya pelan dan sedikit memohon.
"Boleh.... Ayok kita ke minimarket untuk membeli es krim cokelat kesukaan Nadya." ucap Papa Baihaqi pelan.
Baihaqi pun melihat Aisyah yang sedang menghapus air matanya yang jatuh ke pipinya.
"Humairah... kamu tidak perlu bersedih. Mungkin ini awal yang baik, dengan datangnya Nadya, kamu bisa terpancing untuk mengandung lagi. Karena kasih sayang seorang ibu akan di uji pada saat sedang mengurus anak anak yang datang kepadanya." ucap Baihaqi menenangkan.
"Iya Mas. Aisyah tahu, Mas begitu menginginkan seorang anak. Pelukan terhadap Nadya adalah pelukan rindu, dan aku paham sekali Mas." ucap Asiyah pelan.
Baihaqi pun menempelkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Aisyah.
"Jangan bahas hal ini buka akan menyakitimu. Kamu selalu disampingku saja aku sudah bahagia Aisyah. Mungkin Allah SWT punya cara lain untuk membuat kita bahagia." ucap Baihaqi pelan.
Aisyah pun hanya tersenyum, hatinya terasa perih dan pedih. Mendengar ucapan Baihaqi yang selalu menenangkan hatinya dan batinnya membuat rasa bersalahnya pun semakin besar. Tapi tidak mungkin juga membiarkan suaminya menikah kembali. Aisyah tidak akan sanggup melakukan itu, harus berbagi suami di rumah yang sama dan itu sangat menyakitkan.
"Humairah... aku beli es krim untuk Nadya? ada yang ingin kamu pesan sayang?" tanya Baihaqi pelan.
"Aku sedang ingin kepik singkong balado Mas." ucap Aisyah pelan.
"Baiklah aku belikan khusus untukmu dengan rasa cinta dan sayang." ucap Baihaqi lembut, satu matanya mengedip menggoda Aisyah.
Aisyah pun tersenyum dan terkekeh. Seperti biasanya Baihaqi adalah pria lucu yang sering membuat Aisyah tersenyum dan tertawa lepas dengan segala tingkah lakunya yang di luar dugaan.
Kepergian Baihaqi dan Nadya dengan menggunakan motor pun tidak luput dari pandangan Aisyah yang ikut mengantarkan sampai depan teras rumah. Mungkin begini rasanya bila mempunyai anak, akan di sibukkan dengan minta sesuatu ketika papanya datang setelah bekerja. Dan itu hal wajar dan sangat membahagiakan.
Tapi... Mas Baihaqi sudah pulang. Ada apa?..... gumam Aisyah dalam hatinya.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
__ADS_1
Terima Kasih ....