KETABAHAN AISYAH

KETABAHAN AISYAH
Bab 51


__ADS_3

Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚


Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.


Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.


Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....


Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.


Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...



Hidayah Hijrahku (Tamat)


Dahsyatnya SHOLAWAT (Tamat)


Angkringan Cinta (Tamat)


Kopi Paste


Kesucian Syahadat ( Tamat)


Amanah Terindah


Kalam Hikmah


Bulan dan Bintang


Kang Tatang dan Asmah



Selamat Membaca ....

__ADS_1


💚💚💚💚💚💚


Pak Amin sudah sampai di padepokan Habib Quraisy. Pak Amin menceritakan kejadian tadi pagi yang berlangsung dramatis. Habib Quraisy dan Baihaqi menyimak semua yang di katakan oleh Pak Amin. Pak Main juga menjelaskan perihal Aisyah yang sudah ditemukan dalam keadaan hidup dan sehat.


"Saya harus berangkat malam ini juga. Pak Amin tolong siapkan tiket untuk dua orang. Saya dan Nadya akan berangkat kesana." ucap Baihaqi menitah Pak Amin.


Tepat bersamaan dengan waktu itu juga suara ponsel Baihaqi pun berbunyi. Fathan mencoba menghubungi Baihaqi. Baihaqi langsung mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum ... Kak Fathan. Maafkan saya, ponsel saya sempat rusak mati total." ucap Baihaqi sopan.


"Waalaikumsalam .. alhamdulillah Baihaqi. Akhirnya aku bisa menghubungimu secara langsung. Aisyah masih hidup dan saat ini sedang melahirkan. Doakan untuk Aisyah dan keselamatan Aisyah dan bayinya." ucap Fathan mantap.


"Subhanallah ... Alhamdulillah. Iya kak Fathan. Malam ini juga aku akan terbang ke Turki." ucap Baihaqi tegas.


"Kirimkan suara adzanmu Baihaqi agar aku perdengarkan untuk anakmu." ucap Fathan pelan.


"Baik Kak Fathan aku akan mengirimkan saat ini juga." ucap Baihaqi mantap.


Saat itu juga Baihaqi mengirimkan suara adzan untuk anaknya yang sedang dalam proses melahirkan.


Hati Baihaqi sudah tak karuan rasanya, antara haru, senang dan bahagia campur aduk. Baihaqi bahkan masih belum percaya bahwa Aisyah sudah ditemukan dan dalam keadaan hidup dan sehat. Apalagi saat ini Aisyah sedang melahirkan buah hatinya untuk dilahirkan ke dunia.


Tak sadar air mata itu sudah menetes di pipi Baihaqi. Bersamaan dengan bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Baihaqi membuka pesan berisikan video singkat ketika anaknya sudah lahir dan sedang diperdengarkan suara adzan yang dikirimkan.


Tenang, adem dan nyaman. Bayi mungil itu mendengarkan dengan seksama tanpa menggerakkan tubuhnya dan tanpa menangis. Bayi mungil dengan tingkat kemiripan 98 persen seperti Baihaqi kecil.


Waktu berputar sangat cepat. Kini Baihaqi sudah duduk manis di pesawat dengan tujuan Turki untuk bertemu istri dan anaknya. Nadya yang duduk sendiri dengan mendengarkan musik ditelinganya pun tampak bahagia dan senang karena akan bertemu Umi Aisyah dan adik bayi.


Ada perasaan was-was dan trauma saat menaiki pesawat terbang. Kejadian beberapa bulan lalu selalu menghampiri pikirannya.


Sekilas pikiran Baihaqi tertuju pada Anggie. Ya, Anggie ... wanita yang tengah mengandung entah dengan siapa. Pak Amin bertugas untuk menyelidikinya sebelum kepulangan Aisyah ke Indonesia agar tidak terjadi kesalah pahaman.


Sesuai anjuran Habib Quraisy, Anggie boleh diceraikan karena telah mengandung dengan pria lain selain suaminya. Baihaqi terus saja berpikir, sempat meminta bantuan Pak Amin untuk mengurus perceraian itu. Agar semua masalah pun selesai hingga kehidupannya kembali normal kembali bersama Aisyah tercintanya.


Pagi ini sesuai dengan amanat Pak Baihaqi terhadapnya. Pak Amin pun mengurus perceraian antara Pak Baihaqi dan Anggie. Tidak perlu ada lisan yang harus diungkapkan kepada Anggie. Cukup surat dari pengadilan agama yang berbicara tentang penyelesaian perkawinan keduanya.


Pak Amin segera kembali pulang ke.rumah Baihaqi dan memberikan salinan surat talak dari Baihaqi untuk Anggie. Surat yang asli sedang dalam proses karena harus ada sidang yang seharusnya dihadiri keduanya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?! Aku tidak terima dengan surat talak ini." ucap Anggie dengan sinis dan melempar surat itu ke sembarang arah.


Mbok Surti memungut surat itu, lalu meletakkan kembali ke atas meja.


"Ini adalah solusi terbaik Bu Anggie. Pak Baihaqi sengaja menyuruh saya, agar Bu Anggie bisa pergi dengan tenang. Pak Baihaqi akan tetap menafkahi Anda sesuai kesepakatan." ucap Pak Amin sopan.


"Bilang pada majikanmu itu!! Aku tidak akan pernah angkat kaki dari rumah ini. Walaupun Aisyah masih hidup, aku akan hidup bersama seperti dulu." ucap Anggie dengan kasar. Hormon ibu hamil memang tidak bisa ditebak. Kadang mellow dan kadang marah-marah tidak jelas dan tidak menerima kenyataan.


"Pak Baihaqi akan lama di Turki. Bisa jadi akan tinggal disana atau mungkin pindah." ucap Pak Amin memberikan informasi.


"Aku tidak peduli. Aku juga sedang hamil, dan ini adalah anaknya. Aisyah harus tahu, ini adalah anaknya!!" ucap Anggie dengan geram.


Hatinya kesal dan terenyuh, nasibnya kini sudah diujung tanduk. Lambat laun Baihaqi pasti akan mencari tahu ayah dari anak yang aku kandung, batinnya mulai bergejolak. Tapi bila tidak mempertahankan harga diri seperti ini, dirinya akan dibuang seperti sampah.


Dirinya sudah berpikiran buruk pada Baihaqi. Sejatinya Baihaqi hanya menginginkan perkawinannya di hentikan, terlebih saat ini Anggie mengandung dengan orang lain. Mungkin bila hidup dengan laki-laki yang mencintai Anggie, maka Anggie bisa bahagia.


Anggie masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamar dengan keras. Hatinya seperti tercabik cabik, mencintai seseorang yang sudah memiliki istri dan mencintai tulus istrinya tanpa celah.


Rasanya semesta masih ingin bermain-main dengan Anggie. Proses berhijrahnya pun gagal karena dirinya sendiri. Anggie tidak habis pikir bila harus pergi meninggalkan rumah ini. Kemana ia harus pergi.


Tinggal beberapa jam lagi, perjalanan Baihaqi pun berakhir di Bandara Turki. Fathan sudah berjanji akan menjemputnya dan langsung mengantarkan Baihaqi ke rumah sakit dimana Aisyah dirawat pasca melahirkan.


Baihaqi sudah menyiapkan nama untuk anak laki-lakinya itu. Semalaman dirinya tidak bisa tidur, selalu berdoa dan berdzikir untuk istri dan anaknya.


Kini kebahagiannya begitu lengkap dan sempurna. Penantian enam tahun itu bukan lagi sesuatu yang mudah. Memang benar ada pelangi setelah hujan badai. Ada hikmah dari setiap ujian yang diberikan kepada kita.


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.


Biar aku makin semangat menulisnya ...


Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.


Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.

__ADS_1


Ditunggu ya ...


Terima Kasih ....


__ADS_2