
Selamat Membaca 🌹🌹
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" kamu udah lama kerja di cafe itu? " yanya khoiruddin.
" ehmm nggak sih. Baru hampir 4 bulan aku kerja di sana. " jawab Maira.
"dan seperti yang kamu lihat waktu itu. Sebelum itu aku juga pernah tidak sengaja memecahkan piring dan gelas di ruang VVIP. Mangkanya aku dimarahi seperti itu. " ucapnya dengan nada sedih.
"sudah tidak apa - apa. Jangan sedih lagi. Mmm... bagaimana kalo kita berteman mulai sekarang?" Ucap Khoiruddin bersungguh - sungguh.
"berteman? Mmm... memangnya kamu tidak malu punya teman kayak aku?" tanya Maira
"mengapa aku harus malu? Kamu kan bukan seorang kriminal kan?. Ucap Khoiruddin.
"mm... tapi kan aku hanya pelayan cafe saja dan aku juga tidak berpendidikan tinggi sepertimu." ucapnya dengan kepala menunduk.
" Mai dengarkan aku. Ini sudah jaman modern kayak gini. Sudah tidak ada yang berpikir kesitu. Jadi jangan malu jadi diri sendiri ya. " ucap khoiruddin dengan menggenggam tangan Maira.
Maira yang mendengar itu seketika mengangkat kepalanya untuk melihat mata Khoiruddin. Dan yang dia lihat adalah kesungguhan membuat pipinya merona bahagia.
Percakapan mereka terhenti karena pesanan mereka sudah siap. Setelah itu mereka menghabiskan makanannya. Dan setelah itu Khoiruddin mengantar Maira kembali ke kost - annya.
"terimakasih ya sudah mengantar. Dan juga untuk salepnya. " ucap Maira saat sudah tiba di depan kostnya.
" hem iya tidak masalah. Terimakasih juga untuk makan malamnya. " ucap Khoiruddin
" iya sama - sama. Kalo begitu aku masuk dulu ya. " ucap Maira dan segera berjalan masuk ke dalam kost. Namun langkahnya terhenti karena ucapan khoiruddin.
" tunggu..." teriak Khoiruddin. Maira pun membalikkan bdannya dan berjalan menghampiri Khoiruddin yang masih di atas sepeda motornya.
" iya ada apa? " ucap Maira
" besok kamu berangkat kerja jam berapa? " tanya Khoiruddin.
" ehmm sekitar pukul 7. memangnya kenapa?" tanya Maira.
"ahh tidak papa. "
" kalo gitu aku masuk dulu ya. Udah malam nggak enak dilihat tetangga." ucap Maira berpamitan.
"iya. "
"kamu hati - hati kalo pulang. " ucap Maira lalu langsung masuk ke dalam kostnya.
" hem" jawabnya dengan menganggukan kepalanya tidak ketinggalan pula senyumannya.
Setelah masuk. Maira langsung membasuh kakinya dan bersiap untuk tidur. sebelum itu ia menelpon ayahnya mengabari bahwa ia sudah mentransfer uangnya.
"halo bapak.. "
__ADS_1
"halo sayang. Ada apa malam - malam telepon bapak? Apa ada masalah? "
"tidak ada masalah pak. Maira telepon karena Maira mau mengabari kalo Mai sudah mentransfer uangnya. Maaf pak hanya ada segitu. "
" alhamdulillah. Tidak apa - apa nak. Itu sudah cukup, harusnya ayah yang minta maaf. Karena tidak bisa memenuhi kebutuhan anak - anak bapak. " ucapnya di sana sesegukan.
" sudahlah pak. Jangan menangis ya. Ini bukan salah bapak kok. Maira bersyukur punya bapak yang penyayang seperti bapakku ini. Menurutku tidak ada bapak yang lebih hebat daripada bapak."
Ayahnya Maira disana tersenyum penuh haru sampai menitikan air matanya.
" kau memang putri kebanggaan bapak. "
" hahaha iya bapakku sayang. Kalo begitu Maira pamit ya. Ini sudah malam, bapak jangan tidur larut malam. "
"hahaha harusnya bapak yang berkata seperti itu. Jangan tidur larut malam sayang. "
" iya pak. Assalamualaikum. "
"Wa'alaikumsalam. "
setelah panggilan diputus. Maira segera tidur mengumpulkan energi untuk bekerja esok pagi.
*****
Di tempat lain..
Khoiruddin di tengah perjalanannya menghentikan kendaraannya, karena ada yang bergetar dari sakunya.
Tit..
"nak kamu kemana saja? Sudah lama sekali kamu pergi beli martabak. biasanya juga tidak selama ini. Kamu tidak apa - apakan? " tanyanya dengan cemas.
"khoir baik - baik saja yah. Ini khoir jalan mau pulang. "
"hem baiklah. Kalo begitu cepatlah pulang. Ayah sudah lapar. "
"Hehehe iya yah. Assalamualaikum. "
"Wa'alaikumsalam. "
Setelah itu khoiruddin segera melajukan kembali menuju rumahnya.
*****
15 menit kemudian dia sudah sampai di depan rumahnya..
Tok... Tok... Tok..
Ceklek..
"nak darimana saja? Kenapa lama sekali? " tanya Pak Soleh khawatir.
__ADS_1
" Khoir habis beli martabak. Ini" ucapnya sambil mengangkat kantong kresek yang isinya martabak.
" baiklah. Masuklah. "
Khoiruddinpun masuk dan langsung menuju dapur. Ia meletakkan kantong kresek itu di piring di atas meja makan.
" yah kalo gitu Khoir mau salat dulu. Setelah itu Khoir langsung tidur. "
Pak Soleh yang mendengar itu mengerutkan dahinya merasa aneh dengan perkataan anaknya itu.
" kok langsung tidur. Bukannya kamu juga belum makan. Apa kamu tidak lapar? " tanya Pak Soleh.
" ehmm anu yah. sebenarnya tadi Khoir ketemu sama temen Khoir terus kita makan diluar yah. Hehehe maaf ya yah." ucapnya sambil tengkuknya yang tidak gatal.
Pak Soleh yang mendengar penuturan putranya membulatkan matanya.
"ehmm maaf yah. Khoir salah. "
"hufft..." Pak Soleh hanya menghela napasnya berat. Emang mau gimana lagi pikirnya.
"hem iya. "
" terimakasih ayah. Kalo begitu khoir masuk dulu. "
"iya."
Di kamar Khoir segera melaksanakan salat sunnah dan setelah itu ia tidur.
*****
Pak Soleh yang sudah menyelesaikan kegiatan makannya ia segera membereskan bekas makannya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar anaknya untuk mengecek keadaan putranya.
Pak Soleh memang setiap malam selalu mengecek keadaan Khoiruddin. Karena dulu sewaktu Khoiruddin masih kecil ia mengalami demam sejak semalam dan baru diketahuinya saat pagi hari.
Dan mengakibatkan anaknya itu menginap di rumah sakit selama 3 hari. Semenjak saat itu, ia selalu mengecek kondisi dari putra semata wayangnya itu. Agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Ceklek...
Ia menghampiri anaknya yang sudah terlelap tidur. Ia melihat putranya tidur dengan posisi terlentang dan selimutnya sudah terlempar dari tempat semula.
Pak Soleh yang melihat itu. Mengambil selimut dan menyelimuti anaknya. Setelah itu ia duduk di samping kasur dan mengelus kepala putranya sambil berkata.
" nak kau selalu mengingatkan ayah akan mendiang ibumu. Ayah bersyukur karena sedikit mengobati rindu ayahmu kepada ibumu. "
Yang dikatakan Pak Soleh memang tidak salah. Wajah dari anaknya itu mirip sekali dengan mendiang ibunya. Mulai dari mulut, hidung dan kelopak matanya semua persis seperti mendiang ibunya.
"semoga kau selalu sehat dan bahagia nak"
Cupp....
Pak Soleh tersenyum melihat anaknya tersenyum. Setelah itu ia keluar dan menuju kamarnya untuk mengistirahakan tubuhnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=>
jangan lupa like dan komen. Terimakasih 😊