Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Ayah & Anak


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Setelah salat isya' , Maira kini sedang membantu Zahra yang tengah belajar. Gafar dan Syifa juga belajar dan saling membantu satu sama lain.


Di tengah - tengah kegiatan itu. Khoiruddin baru kembali dari rumah keduanya.


"Assalamualaikum." Ucapnya saat memasuki rumah


Semua orang menoleh ke arah Khoiruddin dan menjawab salamnya.


"Wa'alaikum salam."


Khoiruddin menampilkan senyumnya melihat kerukunan anak - anaknya. Namun, senyumnya memudar ketika melihat ke arah Ayahnya berdiri.


Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju dapur. Di sana Khoiruddin menyibukan dirinya dengan membuat teh hangat untuknya. Tanpa ia sadari. Pak Soleh mengikutinya dari belakang.


"Sedang apa kau?" Tanya Pak Soleh mengejutkan Khoiruddin


"Ayah! Terkejut Khoir." Ucap Khoiruddin dengan mengelus dadanya. "Ini sedang buat teh. Kalo nyuruh Mai nggak bisa. Karena dia sekarang sedang sibuk menemani anak - anak belajar." Ucapnya lagi

__ADS_1


"Ohhh... ayah juga mau." Ucap Pak Soleh


...


Teh sudah siap, dan Khoiruddin segera menuangkan air yang baru saja mendidih itu ke dalam gelas yang berisikan racikan teh. Di bawa dengan kedua tangannya. Dan diletakan dengan hati - hati di atas meja makan yang ada di sana.


Sluurppp... Pak Soleh menyeruput teh itu tanpa meniupnya.


"Ditiup dulu yah. Masih panas loh." Ucap Khoiruddin memperingatkan


"Halah... udah biasa." Ucap Pak Soleh


"Gimana? Baik aja kan dia?" Tanya Pak Soleh


Khoiruddin tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya. Di dalam hatinya sangat berbunga. Pikirnya, ayahnya sudah membuka hatinya untuk menerima keberadaan Anisa sebagai istrinya.


"Alhamdulillah baik yah. Kalo ayah ingin, aku bisa memberitahu Nisa ayah akan ke sana." Ucap Khoiruddin


"Hah! Siapa yang bilang ayah akan ke sana?" Ucap Pak Soleh


Sontak senyum Khoir pun hilang. Diganti dengan ekspresi bingungnya.

__ADS_1


"Khoir kira ayah sudah bisa menerima Nisa sebagai istri Khoir. Maaf yah!" Ucap Khoiruddin


"Kamu ini! Maaf! Maaf! Maaf mulu! Kapan terealisasinya? Dulu kamu bilang minggu depan. Minggu depan jadi bulan depan. Depan! Depan! Depaaannn... terus, ayah capek Ir!" Ucap Pak Soleh


Khoiruddin menundukan kepalanya. Ia sudah mengerti ke mana jalan cerita yang akab terjadi.


"Dulu, sewaktu ayah mendengar kabar kamu menikah lagi. Sudah sangat membuat ayah terkejut nak. Dan yang lebih parah lagi! Kamu menikah dengan Anisa! Yang notabenenya adalah adik iparmu. Ayah sangat malu nak." Ucap Pak Soleh dan berhenfi sejenak. "Ayah mohon - mohon sama nak Maira supaya jangan menuntut cerai. Ayah juga bersujud di makam Pak Surya. Meminta maaf bahwa anakku yang sangat aku banggakan! Yang aku percayai akan mendapatkan masa depan yang indah. Ternyata tak lain adalah seorang pria yang tak bisa menahan nafsunya!" Ucap Pak Soleh yang kemudian ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Suara isakan Pak Soleh. Membuat Khoiruddin mengangkat kembali wajahnya. Hatinya teriris disaat mendengar orang yang membesarkannya itu telah ia sakiti.


"Yah..." panggil Khoiruddin


"Sudah cukup nak! Cukup! Kali ini ayah menyerah. Semoga anak - anakmu selalu bahagia. Sudah... itu saja. Ayah tidak berharap lebih akan hubunganmu itu. Kini fokuslah pada anakmu. Gafar sudah besar, sebentar lagi lulus dari SMA. Pikirkanlah untuk masa depan mereka. Ayah sendiri melihat Maira juga tidak begitu pusing akan keputusanmu yang sudah basi untuk ditunggu itu." Ucap Pak Soleh


Setelah mengatakan beban pikirannya. Pak Soleh lamgsung beranjak dari sana meninggalkan Khoiruddin yang duduk termenung memikirkan perkataan ayahnya.


'Ayah benar! Di sini aku yang bersalah.' Gumamnya


Dia pun mengacak - acak rambutnya. Menunjukan betapa stresnya ia untuk menyelesaikan masalah ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2