
Selamat Membaca
...
"Itu... itu... itu karena Nisa iseng aja pak hehehe." Ucap Anisa cengengesan
Berbeda dengan Pak Surya yang napasnya terlihat tersengal - sengal karena menahan marah kepada putrinya itu. Melihat raut wajah bapaknya yang menakutkan. Anisa segera berlari masuk ke kamarnya dan menguncinya kembali.
Ceklek... (Suara pintu terkunci)
"Hufftt... legaa." Ucap Anisa sambil mengelus dadanya.
Ia lalu berbaring kembali di atas kasur dan bermain ponselnya. Sedangkan di luar Pak Surya sedang mengatur napasnya agar teratur kembali. Setelah berkurang rasa amarahnya, Pak Surya segera pergi meninggalkan kediamannya dan menuju ke belakang. Entah apa yang ia kerjakan.
🌼🌼🌼
2 minggu kemudian...
Hari ini kediaman Pak Surya sedang ramai orang disana sedang memasak. Maira dan Anisa sedang pergi ke pasar diantar oleh Khoiruddin dengan mobilnya.
__ADS_1
Ia memilih cuti untuk hari ini. Karena akan ada acara penting dikeluarga Pak Surya. Oleh karena dia sudah menjadi anggota keluarga disana, ia menganggap memiliki kewajiban untuk membantu keluarga istrinya itu.
"Sini dek biar mas aja yang bawa. Kasian nanti dedeknya." Ucap Khoiruddin yang langsung mengambil kantong kresek berisi bahan untuk memasak. "Makasih ya mas." Ucap Maira dengan menampakkan senyuman manisnya.
"Ishhh... kalo mau pamer kemesraan tuh jangan disini. Bikin orang iri aja, huh!" Ucap Anisa dan langsung meninggalkan Khoiruddin dan Maira yang saling memandang.
Setelah berputar - putar mencari dan membeli bahan yang dibutuhkan. Akhirnya semua sudah terbeli dan mereka kembali ke parkiran.
Khoiruddin sibuk memasukkan satu persatu belanjaan ke dalam bagasi. Sedangkan Maira sudah masuk dan duduk nyaman di samping kemudi. Sedangkan Anisa juga sedang membantu Khoiruddin untuk memasukan belanjaannya, karena beberapa kantong belanjaan dia yang membawa.
"Nih." Ucap Anisa ketus
Khoiruddin hanya menatap datar Anisa. Semenjak kejadian pagi itu, Khoiruddin tidak pernah berbicara kepada Anisa. Hal itu membuat Anisa sebal dan akhirnya membuat rasa benci kepada kakak iparnya itu.
Buru - buru Anisa berlari dan membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Setelah dirasa semua sudah di dalam dan tidak ada yang ketinggalan. Khoiruddin menjalankan mobilnya kembali ke rumah mertuanya.
...
Di rumah Pak Surya telah tersaji berbagai hidangan yang terlihat sangat enak dan menggugah selera setiap orang yang melihat. Terdengar suara deru mesin yang pasti itu milik menantunya.
__ADS_1
Dengan buru - buru Pak Surya segera menarik paksa Anisa dan membawanya ke dalam kamarnya. "Aduh.. duh pak. Kenapa kok ditarik gini? Emang Anisa salah apa?" Protes Anisa
Namun Pak Surya hanya diam saja dan terus menarik Anisa ke dalam. Maira yang melihat itu tentu tidak tinggal diam. Ia juga membantu adiknya dengan berusaha membujuk bapaknya supaya bicara yang pelan kepada adiknya.
Namun usaha Maira gagal. Karena khawatir, Khoiruddin menyuruh Maira agar beristirahat di kamarnya. Maira pun menurut, karena ia sesungguhnya merasa lelah. Mungkin karena efek kehamilannya itu yang membuat ia merasa mudah lelah.
Di dalam kamar. Anisa sedang dirias oleh MUA yang telah disewa oleh Pak Surya. Awalnya ia memberontak namun karena ancaman dari bapaknya "Kamu kalo tidak mau dirias. Bapak akan kirim kamu ke desa x supaya bisa hidup mandiri. Mau kamu?" Ucap Pak Surya yang mampu membuat Anisa menurut.
Setelah selesai dirias. Anisa tidak langsung diizinkan keluar, hal itu membuat ia sebal karena dia tidak akan tahu untuk apa acara ini. Hingga ketika ia merasa ngantuk. Seseorang memanggilnya dan menyuruhnya untuk keluar kamar, siapa lagi kalau bukan kakaknya, Maira.
...
Di ruang tamu telah berkumpul layaknya keluarga besar dengan pria tampan yang sedang menatap ke arah Anisa. Anisa yang awalnya sedikit terkejut, akhirnya memilih untuk menundukkan kepalanya. Dengan perlahan Maira mendudukan adiknya di kursi yang sudah disiapkan. Ia juga kembali duduk di samping suaminya.
"Nah... ini dia putri keduaku. Bagaimana menurut pendapat kalian?" Ucap Pak Surya
"Ooohh... yang ini cantik. Tapi ya saya kembalikan lagi keputusan itu kepada anak saya Omar. Bagaimana Omar? Apa kamu menyukainya?" Tanya orang itu yang bernama Bram
"Sss... sa... saya suka dia terlihat sangat cantik." Ucap Omar dengan nada yang bergetar menandakan ia grogi.
__ADS_1
"Tapi... apakah Anisa mau menikah dengan saya?" Pertanyaan Omar sontak membuat mata Anisa membulat sempurna.
Bersambung...