
Selamat Membaca
...
Bulan April di mana pada bulan itu banyak sekali kompetisi yang diadakan di berbagai tempat. Salah staunya adalah lomba berceramah.
Saat ini wakil dari TPA yang didirikan oleh Khoiruddin pun ikut serta dalam memeriahkannya. Khoiruddin mengirim satu peserta, yaitu Siti untuk mengikuti lomba tersebut.
Dikarenakan tempat lomba dekat dengan rumah Khoiruddin. Akhirnya diputuskan bahwa, Siti akan menginap di rumah Khoiruddin. Karena perlombaan akan dimulai pagi pukul 8 tepat. Dan diharapkan semua peserta hadir sebelum waktunya.
"Masih mau tambah lagi apa enggak? Kalo nambah ambil aja. Nggak usah sungkan." Ucap Khoiruddin
"Udah kenyang abi." Jawab Siti dengan mulut yang masih penuh dengan makanannya
"Kalo makan tuh dihabiskan dulu baru ngomong." Tegur Khoiruddin
"Hehehe... " Siti hanya membalas dengan cengiran dan sedikit cengengesan
Khoiruddin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah salah satu murid favoritnya. Awal mula mereka dekat adalah. Di mana Khoiruddin membela habis - habisan Siti dikala ia akan dipukul oleh suaminya.
Mula dari rasa simpatisan hingga kini. Siti akhirnya ia anggap anaknya sendiri. Walaupun bagi Siti tidak seperti itu. Baginya Khoiruddin adalah guru yang sangat jahat. Karena ia sering dipukul olehnya.
Bukan tanpa alasan Khoiruddin melakukannya. Ia melakukan itu sebagai bentuk latihan untuk Siti. Siapa tahu suaminya akan melakukan kekerasan terhadapnya lagi. Tanpa ia sadari membuat rasa jengkel dan sedikit benci pada diri Siti.
Setelah makan malam. Siti membantu Anisa untuk membereskan bekas piring - piring kotor. Niat hati ingin mencucinkan sekalian. Namun, pengusiran yang ia dapat.
"Sudah sana! Nanti nyucinya tidak bersih lagi." Usir Anisa
"Yaa..." Jawab Siti dan beranjak pergi dari sana
Terdengar suara dumel dari Anisa. Tapi Siti cuek saja. Toh dia yang mengusir tadi.
__ADS_1
Anisa akhirnya memilih untuk menonton televisi di ruang tamu. Namun, ketika Anisa datang. Ia memilih untuk pergi ke kamarnya. Karena ia tahu, pasti nanti akan ada drama lagi antara ia dan Anisa.
"Abi, Siti ngantuk. Siti mau bobok dulu. Selamat malam." Ucap Siti
"Loh kok cepet. Ya udah cepetan tidur. Besok bangun pagi." Jawab Khoiruddin
"Hem..." Gumam Siti
Disaat Siti melewati Anisa. Ia memandang Anisa dan Anisa memandangnya kembali. Disaat itulah, Siti memutar bola matanya dengan malas dan tak lupa juga membuat wajah yang mengejek.
"Aisshhh... menyebalkan!" Gerutu Anisa
"Kau ini ada apa? Semenjak dari tadi wajah murung mulu. Sepet tau nggak mata memandang." Keluh Khoiruddin
"Isshh..." Gerutu Anisa lagi dengan memutar bola matanya malas. Ia memilih mendiamkan Khoiruddin karena moodnya sedang buruk.
Di dalam kamar, Siti membuka lembaran kertas yang telah diberikan oleh guru pembingbingnya untuk dihafalkan, sebagai persiapan lomba. Ia melatih berbicaranya di depan cermin.
Berulang kali ia berusaha memejamkan matanya. Namun gagal jua. Ia berbaring ke kanan. Baring ke kiri, tak jua membantu.
Akhirnya ia memutuskan untuk jalan - jalan sebentar mengelilingi rumah gurunya itu. Namun...
Saat tiba di sebuah kamar. Yang entah ia tidak tahu apa fungsinya. Siti mencium bau yang aneh yang mengarah ke kamar itu. Baunya campuran antara anyir darah dan seperti beberapa daging busuk. Juga tikus yang sudah mati.
"Ehmm... baunya nggak enak." Ucap siti, "Ada apa memangnya di dalam sini?" Ucapnya lagi
Ia memutar knop pintu. Namun gagal. "Sepertinya dikunci dari dalam." Gumamnya
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu Khoiruddin bangun atau Anisa. Tak ada yang ia lakukan selain berdiri di depan pintu itu. Berharap pintu itu terbuka.
Dan benar saja. Setelah lama menunggu. Knop pintu berputar dan terbuka.
__ADS_1
Ceklekk....
Pintu terbuka. "HAH!" Ucap seseorang yang baru keluar dari sana
Sontak hal itu membuat Siti juga terkejut. "Tante? Tante ngapain di dalam sana? Dan terus tadi bau apa? Nggak enak banget." Ucapnya
"Heh dengar ya! Kamu nggak perlu tahu apa yang saya lakukan di dalam sana. Dan tadi bau apa? Nggak ada bau apa - apa. Dasar tukang fitnah!" Ucap Anisa
"Hihhh... jelas - jelas tadi bau busuk bangeeettt... Tante jorok banget sih. Kamarnya nggak pernah dibersihin. Wlekk..." Ejek Siti
"Enak aja kamu kalo ngomong. Kamarnya saya bersihin ya setiap hari. Orang nggak ada bau. Masih aja dibicarain." Ucap Anisa
"Hiihhh..."
Siti memperhatikan lagi penampilan dari Anisa. "Wah habis mandi besar nih. Tapi ngapain mandi di sini? Bukannya kamar Abi Khoir tuh di sana ya? Atau..." Ucap Siti
"Atau apa?" Tanya Anisa
"Atau tante selingkuh ya! Dan selingkuhan tante ada di dalam sana." Ucap Siti dan melihat ke arah dalam kamar. Namun seketika, ekspresi Siti berubah. Ia menatap tajam Anisa.
Sedangkan Anisa, ia segera menutup pintu kamar itu. "Ngapain intip - intip! Nggak sopan tahu!" Ucap Anisa
"Tante! Tante tukang santet ya?" Ucap Siti
Anisa jengah dengan kelakuan Siti. Akhirnya ia jawab ia saja, agar si Siti segera pergi dari hadapannya.
"Hiii... pantes mukanya serem. Ahahaha..." Ejek Siti dan ia segera lari dari sana
"Awas kamu ya!" Ucap Anisa kesal
Tanpa Siti ketahui. Anisa tersenyum jahat di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung...