Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Terlambat


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Khoiruddin pergi menuju masjid di TPA yang dia dirikan. Sudah dua hari, ia berdiam di sana. Di dalam sana, ia menangis tersedu - sedu. Tak ada yang berani mendekatinya karena ia dikenal dengan kegalakannya.


Beberapa orang menatap iba pada Khoiruddin. Ya, semua orang sudah tahu kabar ditalaqnya Anisa.


Setelah salat isya' masjid akan digunakan sebagai tempat ngaji tafsir. Khoiruddin segera menyingkir ke teras masjid. Ia hanya melamun menatap langit yang gelap.


Dari kejauhan nampak seorang gadis yang melihatnya kasihan. Ia mendekati Khoiruddin dan memberikan sapu tangannya.


"Usapi air yang menetes di pipimu itu abi!" Ucap Siti sambil menatap setengah iba.


Khoiruddin mengambil sapu tangan itu dan menggunakannya untuk mengusap air matanya. Yang entah kenapa tak mau jua berhenti.


"Kenapa engkau menangis? Bukannya memang tak ada cinta untuknya darimu. Atau? Kau berbohong saat ku tanya?" Sarkas Siti


"Bukannya aku bohong. Tapi... entah kenapa rasanya sesakkk sekali di sini." Jawab Khoiruddin sambil memegangi dadanya.


Mendengar jawaban gurunya. Siti memutar bola matanya nampak jengah.

__ADS_1


"Oohh... ayolah abi! Di dunia ini masih banyak cerita yang indah. Yang... mungkin saja kau lupakan hanya setetes kesedihan menghampiri." Jeda Siti untuk menarik napasnya. "Sekarang fokuslah pada keluargamu. Anak dan istrimu juga tengah berduka di rumah besar itu." Ucap Siti


"Apa yang terjadi?" Tanya Khoiruddin


"Kau akan mengetahuinya jika kau pulang." Jawab Siti dan meninggalkan Khoiruddin di teras masjid.


Dari dalam masjid terdengar para muridnya sedang melantunkan bacaan Al - Quran. Ia menutup matanya dan meresapi ayat - ayat yang berdengung di telinganya.


Hanyut bak tenggelam di samudera. Khoiruddin kini merintih menyesali segala perbuatannya. Mulai dari berbohong, berzina, dan bahkan dosa - dosa lainnya pun terlihat di dalam ingatannya.


Ia segera berdiri. Membasuh mukanya agar terlihat lebih baik. Benar kata muridnya, masih banyak cerita yang indah telah terjadi. Namun rasa syukur terhadap apa yang telah ia miliki masih kurang atau bahkan belum ada.


Dengan langkah lebar, ia berjalan kembali pulang. Untuk meminta maaf kepada anak - anaknya terlebih kepada istrinya. Yang selama ini telah sabar menerima perlakuan buruk darinya. Ia bahkan berjanji pada diri sendiri. Akan bersujud di kaki istrinya sampai kata maaf terucap dari bibirnya.


Tak ingin berpikir negatif, Khoiruddin mengetuk pintu itu berkali - kali. Namun, tak ada jua sahutan dari dalam.


Badannya kinj luruh ke bawah dibarengi air mata yang terus berjatuhan. Terlambat adalah kata yang pas untuk Khoiruddin saat ini.


Kata maaf selalu terucap di bibirnya yang bergetar. Kalimat meminta mapun kepada Tuhannya pun tak luput ia ucapkan.


Namun sayang beribu sayang, Maira dan anak - anaknya. Kini telah meninggalkannya sendiri dalam lubang kegelapan penyesalan.

__ADS_1


Angin malam yang dingin menembus baju Khoiruddin. Walau begitu, ia sudah mati rasa. Bersama perginya anak istrinya.


Di malam itu, ia bersahabat dengan kegelapan dan kedinginan. Hingga tubuhnya yang lelah itu. Tak mampu menanggungnya dan berakhir tumbang dengan mata yang terpejam.


"Maira kembalilah!" Gumamnya sebelum akhirnya semua berwarna gelap.


...


Para warga yang sedang ronda malam. Terkejut melihat sosok yang tertidur di depan pintu yang tak lain adalah Khoiruddin.


"Kasihan ya!" Ucap salah seorang warga


"Iya, tapi ya.. itu akibat yang harus dia rasakan!" Seorang warga yang lain ikut menimpali.


"Aisshh... sudah - sudah. Sekarang ayo kita berjaga lagi. Biarkan saja dia di situ. Besok pasti anaknya pulang." Ucap warga


"Itu pun kalo mau hahaha..." ucap warga lain


Semua menyetujui yang di ucapkan warga ke tiga ini. Mereka melanjutkan ronda malamnya dan meninggalkan Khoiruddin begitu saja.


Bersambung...

__ADS_1


Maafkan author yang tidak bisa rajin up🙏. Karena author menulis hanya disaat mood saja🙏. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih bagi yang sudah menunggu❤️


__ADS_2