Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Tidak Menyerah


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Plakkk...


Anisa menoleh ke arah Maira dengan cepat setelah ditampar. Matanya melotot menatap tajam ke arah Maira.


"Mbak! Kenapa tampar Anisa?" Tanya Anisa


"Kenapa Kau tanya!" Bentak Maira


Lalu...


Plakk...


Wajah Maira tertoleh ke arah kiri. Ia memegangi pipinya yang terasa panas itu dengan tangan kananya. Namun itu bukanlah kejutan yang sesungguhnya.


Di saat ia menoleh, terlihat wajah suaminya yang menatapnya dengan wajah merah padam.


"Mas..." Gumam kecil Maira


Air mata menggenang di pelupuk matanya. Maira berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh.


"Berani sekali kau menamparnya" Bentak Khoiruddin


Luluh lantak sudah pertahanan Maira. Sebuah air mata lolos membasahi pipi Maira dan hal itu menyebabkan air mata lainnya ikut jatuh. Terdengar juga suara isakan dari mulut Maira.


Namun 'tidak! Tidak lagi! Aku tidak mau mengalah lagi! Aku harus melawan!' Batin Maira


"Memangnya kenapa jika aku menamparnya? Dia telah melakukan kesalahan? Aku hanya menghukumnya!" Tegas Maira


"Iya! Kau boleh menghukumnya. Tapi katakan dulu apa kesalahannya, tidak bisakah kau membicarakan semuanya dengan baik - baik?" Ucap Khoiruddin


"Baik - baik kau bilang? Ohhh aku tahu. Karena dia melakukannya bersamamu, jadi sekarang kau melindunginya. Iya aku paham! Hahaha... aku tidak menyangka suamiku yang kemarin berjanji untuk tetap setia. Sekarang adalah orang yang pecundang, ia melanggar janjinya sendiri. Kalian berdua menjijikan!" Ucap Maira


"Apa yang kau bilang? Aku melakukan apa?" Tanya Khoiruddin


"Kau! Kau masih bertanya? Teganya dirimu... hikss... Aku membencimu... hikss..." Tangis Maira

__ADS_1


"Tenangkan dirimu... Oke... oke... aku mengaku bersalah. Aku minta maaf... aku tidak sengaja melakukannya... iya... Sudah cupp..." Usaha Khoiruddin untuk menenangkan Maira


Namun bukannya tenang. Maira justru semakin mengamuk. Ia bahkan sampai membanting bantal yang ada di sofa hingga yang membuat Khoiruddin membelalakan matanya adalah, ketika Maira membalikan meja untuk meluapkan emosinya.


Gubrakkk...


Meja pun terbalik. Anisa dan Khoiruddin terdiam. Mereka bahkan saling menatap satu sama lain karena tidak menyangka Maira berani melakukan hal ini.


Suara bantingan meja tadi menimbulkan suara yang sangat keras. Syifa yang ada di kamar atas, terkejut mendengar suara keras dari bawah.


"Umi!" Panggil Syifa lantaran takut


Ia beranjak bangun dari duduknya dan berjalan membuka pintu.


Ceklek...


Pintu terbuka. Syifa segera jeluar dari kamar dan menuruni anak tangga. "Umi! Abi!" Panggil Syifa


"UMI! ABI!" Panggil Syifa dengab nada lebih dikeraskan


Suara Syifa menggema ke seluruh ruangan. Khoiruddin dan Anisa memalingkan wajahnya dan menatap ke arah atas. "Syifa" Gumam Khoiruddin


"Syifa kenapa keluar?" Tanya Khoiruddin


"Tadi Syipa denar cuala kelas! Syipa atut..." Ucap Syifa dan langsung mengalungkan tangannya ke leher Khoiruddin


"Oohhh... tadi ada benda besar jatuh. Tapi nggak pa pa kok sudah di bersihkan. Syifa tadi kaget ya?" Ucap Khoiruddin


"Ehm.. ehm.." Ucap Syifa sambil menganggukan kepalanya


"Ya udah sini sama abi. Sekarang kita kembali ke kamar yuk! Abi buatin susu kita main barbie lagi!" Ucap Khoiruddin


"Ndak mau main balbi. Syipa bosan!" Jelas Syifa


"Ooohh... udah bosan. Ya udah kita lihat dvd saja yuk!" Ajak Khoiruddin


"Ehmm.... iya mau lihat maliposa." Jawab Syifa


Di ajaklah Syifa ke kamarnya oleh Khoiruddin. Di dalam sana Khoiruddin memasangkan dvd yang diinginkan putrinya barulah setelah itu, ia membuatkan susu.

__ADS_1


"Nih susunya..." Ucap Khoiruddin sambil memberikan botol susu kepada Syifa


Syifa langsung mengambilnya dan segera meminumnya. Khoiruddin masih di sana sambil meniman putrinya dengan memukul - mukul pelan bokong putrinya supaya cepat tidur.


"Abi!" Panggil Syifa


"Iya?" Jawab Khoiruddin


"Kakak kok beyum pulang?" Tanya Syifa


Barulah Khoiruddin ingat. Ia segera memeriksa jam ternyata sudah pukul setengah sebelas. Ternyata 2 jam tadi ia sibuk menenangkan dua wanita yang berada di rumahnya ini.


"Syifa! Syifa di kamar ini dulu ya. Jangan keluar! Abi mau jemput kakak dulu." Ucap Khoiruddin


Syifa hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya. Khoiruddin segera mengambil kunci mobilnya di kamarnya dan berlari keluar.


"Mau ke mana mas?" Tanya Anisa


"Jemput Gafar!" Jawabnya dengan terburu - buru


"Aku ikut!" Pinta Anisa


"Tidak usah. Akan bertambah rumit nanti. Kau urus dulu kakakmu akan mengurus anakku terlebih dahulh." Ucap Khoiruddin


"Tapi mas.." Ucap Anisa sambil memegang lengan Khoiruddin


Khoiruddin melepaskan genggaman itu. "Dengar! Ini semua ulahmu! Dan kau harus bertanggung jawab. Aku tidak ingin melihat Maira seperti ini di saat aku pulang nanti. Atau aku tidak akan sudi untuk bertemu denganmu lagi." Ancam Khoiruddin


"Tapi mas... mas!" Teriak Anisa


Sedangkan Khoiruddin tidak memperdulikan panggilan Anisa. Ia segera melajukan mobilnya untuk menjemput anaknya.


Sepeninggal Khoiruddin, Anisa masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya ia melihat Maira sudah berada di belakangnya.


"Oohh.. jadi begitu! Baik... aku mengerti. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Ada anak - anak bersamaku dan ia masih membutuhkan abinya. Aku akan berjuang untuk mereka." Ucap Maira


Bersambung...


Beri dukungan untuk Maira dalam perjuangannya yuk! Dengan like, komen, dan kalo bisa hadiah dan vote🙂

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2