
Selamat Membaca
...
Keesokan harinya. Setelah sarapan pagi, Khoir akan mengantar anak - anaknya berangkat ke sekolah. Kecuali Gafar, ia sudah bisa mengendarai sepeda motor. Dan saat usianya 17 tahun. Ia diantar Khoiruddin untuk mengurus SIM juga KTP.
Pak Soleh juga tengah bersiap untuk kembali pulang. Barang - barang yang berisi pakaiannya sudah tertata rapi di dalam ransel. Ransel itu tergeletak di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Ayah akan pulang hari ini?" Tanya Khoiruddin
"Iya, ayah pulang hari ini. Mungkin sebentar lagi langsung berangkat." Jawab Pak Soleh
"Loh kok mendadak?" Ucap Khoiruddin
"Ya mau gimana lagi. Rumah tidak ada yang huni. Takutnya nanti ada yang nyariin ayah. Eh ayah malah nggak ada. Itu juga, kebon. Kebon ayah juga nggak ada yang ngerawat. Jadi, ayah harus pulang." Pak Soleh menjelaskan.
"Yaa... padahal Zahra masih mau main sama kakek." Ucap Zahra dan langsung memeluk kaki kakeknya
Pak Soleh menyambut hangat pelukan Zahra. Ia mengangkat Zahra ke gendongannya. Dicium pipinya hingga membuat sang empunya menggelitik tertawa.
"Kakek harus pulang. Besok kalo liburan, minta abimu untuk antar ke rumah kakek. Nanti di sana kita mancing ikan di sungai bersama. Ya?" Ucap Pak Soleh
"Iyaaa...." jawab Zahra
Maira muncul dari belakang. Ia memberikan kotak makan yang sudah ia taruh ke dalam tas kecil. Diberikannya tas itu kepada Pak Soleh.
"Ini yah. Makanan jika ayah capek berkendara nanti. Bisa istirahat sambil makan." Ucap Maira
Pak Soleh pun menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih nak. Semoga kalian semua hidup dengan bahagia." Doa Pak Soleh
"Aamiinn..." ucap semua orang
__ADS_1
Pak soleh pun berangkat begitu juga dengan anak - anak. Maira mengantar mereka sampai teras rumah. Semua orang saling melambaikan tangannya tanda perpisahan.
Semua orang telah pergi dan rumah kembali sepi. Begitulah kata hati Maira. Saat akan masuk ke dalam rumah. Matanya tak sengaja melihat Anisa yang berlari kencang memasuki rumahnya. Maira mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah dan berlari menyusul adiknya.
...
Tanpa mengetuk pintu dan salam. Maira langsung nyelonong ke dalam. Ia menuju ke kamarnya dan Khoiruddin saat ia masih tinggal di sana.
Hueekkk.... huuueeekkk...
Suara orang muntah. Semakin membuat Maira khawatir. Dengan tangan gemetar, Maira membuka pintu kamar mandi itu.
Benar saja, terlihat dengan jelas. Bahwa, Anisa muntah. Maira dengan cepat mengambil tisu yang ada di kamar dan dengan sabar mengusap mulut Anisa.
"Kamu ini habis makan apa? Kok bisa muntah begini?" Tanya Maira
Anisa tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya. Karena tenaganya sudah habis terkuras untuk mengeluarkan isi perutnya.
Dirasa sudah keluar semua isi perutnya. Maira dengan hati - hati membantu Anisa untuk berbaring di atas tempat tidur. Dengan telaten pula, ia mengoleskan minyak kayu putih di sekitar pelipis Anisa.
Khawatir? Tentu saja. Mau bagaimanapun juga mereka kakak beradik.
Dengan perlahan, Anisa sudah bisa bernapas dengan normal. Ia mulai menjawab pertanyaan kakaknya satu persatu.
"Aku nggak tahu mbak. Sejak semalem badanku meriang. Aku nggak ngasih tahu mas Khoir, karena aku tahu di sana ada ayahnya. Jadi, aku nggak mau memgganggu temu kangen mereka." Ucap Anisa.
Ia menjeda bicaranya dengan menarik napas dalam. Entahlah, akhir - akhir ini. Ia merasa sesak napas. Apalagi di saat malam tiba. Di saat ia akan tidur. Dada terasa sangat berat, seolah - olah ada orang yang menekan dadanya hingga membuat ia sesak. Ia juga sering terbangun di malam hari karena itu.
"Tadi pagi aku ke pasar. Saat sampai di depan rumah bu RT. Tiba - tiba saja perutku merasa nggak enak. Dan benar saja, aku muntah. Untung sudah di rumah." Ucap Anisa
"Sejak kapan kamu muntah?" Tanya Maira
__ADS_1
"Baru saja." Jawab Anisa
"Ada keluhan lain? Misal, kepala pusing. Tiba - tiba saja kepengin sesuatu dengan sangat?" Tanya Maira
"Pusing ada. Aku juga merasa sesak napas akhir - akhir ini. Nggak tahu kenapa." Ucap Anisa
"Kapan terkahir kamu haid?" Tanya Maira
Deg...
'Jujur tidak ya?' Batin Anisa
Maira yang melihat Anisa termenung, menyadarkannya tidak sabar mendengar jawabannya.
"Nis! Nisa!" Panggil Maira
"Hah!? Apa mbak?" Tanya Anisa
"Sudah haid?" Tanya Maira
"Ehh... ehmmm... su... sudah... bulan lalu." Jawab Anisa
"Sudah kamu periksakan ke dokter?" Tanya Maira
Anisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Ini hanya praduga mbak ya. Kamu jangan nyalahin mbak kalo ini salah!" Ucap Maira
"Emang kenapa mbak?" Tanya Anisa
"Mungkin aja kamu hamil." Ucap Maira dengan nada terbata - bata
__ADS_1
"Hamil," gumam Anisa
Bersambung...