Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Bukan Anak Muda Lagi


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Oohh.. jadi begitu! Baik... aku mengerti. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Ada anak - anak bersamaku dan ia masih membutuhkan abinya. Aku akan berjuang untuk mereka." Ucap Maira


"Mmm...mmm... mbak?" Ucap Anisa membeo


"Ya, kenapa?" Ucap Maira lalu berhenti sejenak untuk mengambil napas. "Sshhtt... kau pikir aku bodoh? hah! Tidak nyatanya tidak! Aku akan mengambil kembali apa yang kau rebut! Kau dengar itu!" Ucap Maira


"Hah?" Ucap Anisa


Maira langsung pergi dari sana. Ia masuk ke dalam kamar putrinya untuk menenangkan hatinya.


Sedangkan Anisa, Ia masih membeku di tempat berusaha mencerna ucapan kakaknya. "Merebut kembali? Memangnya aku mengambil apa darinya?" Gumamnya


"Aisshhh... sudahlah. Yang terpenting, sekarang dia tidak mengamuk seperti tadi. Jadi Mas Khoir tidak akan marah lagi xixixi." Ucap Anisa. "Oh... ya... lebih baik aku masak dulu. Nanti Mas Khoir pulang tinggal makan. Kasihan dari pagi belum makan." Ucapnya lagi


Anisa bergegas menuju dapur. Saat melewati meja makan. Ternyata sudah ada makanan yang tersaji di atas meja yang ditutup. Dibukanya tutup itu, terlihat lauk dan nasi yang telah Maira masak tadi subuh.


"Lohh... sudah ada toh." Ucap Anisa. "Ya udah aku hangatin aja." Ucapnya lagi.


Anisa menata kembali lauk yang sudah ia panasi di atas meja. Ia juga membuat sambal karena ia adalah orang yang jika makan harus ada sambal di sana.


Dari luar terdengar suara deru mesin. Sudah pasti itu Khoiruddin. Benar saja! Saat Anisa menghampiri mereka. Khoiruddin dan Gafar memasuki ruangan.


"Assalamualaikum." Ucap mereka


"Wa'alaikum salam." Jawab Anisa


Gafar meraih tangan bibinya dan menciumnya. Sedangkan Anisa melakukan hal serupa terhadap Khoiruddin. Gafar yang masih tidak mengerti apa - apa hanya terdiam dan tersenyum saat bibinya melihat ke arahnya dengan senyuman.


"Yuk Gafar! Kita naik ke atas dan ganti baju. Baru setelah itu kita makan." Ucap Khoiruddin kepada putranya yang kini sedang ia gendong.


"Hihihi... baik abi." Ucap Gafar ketika abinya menggendongnya.


Dibawanyalah Gafar ke kamarnya. Khoiruddin memutar engsel pintu dan pintu pun terbuka. Terlihat Maira yang memeluk putrinya dengan keadaan menangis. Sedangkan Syifa sendiri nampak tidak peduli dan ia fokus pada layar televisi yang memutarkan kartun itu.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka. "Adik..." Panggil Gafar


"Hah... kakak..." Sahut Syifa


Gafar meminta turun dari gendongan abinya dan Syifa langsung berlari ke arah kakaknya. Maira segera bangkit dari posisi tidurnya dan menghapus air matanya. Khoiruddin tahu itu, namun ia nampak seolah tak peduli.


Ia sibuk melihat interaksi antara kedua anaknya. Mereka berdua berceloteh ria, hingga membuat Khoiruddin tertawa karenanya.


"Hahaha... kalian berdua ada - ada saja. Sudah! Ayo Gafar kita ganti baju dulu. Nanti seragamnya kotor." Ucap Khoiruddin


Maira yang kini duduk di atas kasur, sedang sibuk memperhatikan interaksi antara ayah dan anak.


'Sebenarnya hati umimu ini sedang sakit nak. Tapi melihatmu tertawa dikala bersama ayahmu. Ibu rela menahan rasa sakit ini sampai tak tahu kapan. Hanya untuk kalian.' Batin Maira


"Nah... sudah!" Ucap Khoiruddin


Mereka bertiga asyik bermain sendiri dan Maira hanya menjadi penonton mereka. Maira akui bahwa Khoiruddin merupakan ayah yang pengertian kepada anaknya. Oleh karena itu, ia masih mengurungkan niatnya untuk meminta cerai. Ia akan berusaha agar Anisalah yang diceraikan oleh Khoiruddin.


...


Tiba - tiba seseorang mengetuk pintu. Ya! Orang itu adalah Anisa. Ia langsung masuk ke dalam kamar itu. Semua orang langsung menatap ke arahnya. Maira langsung berpaling dari Anisa dan menatap ke arah lain.


"Halo ponakan - ponakan bibi..." Sahut Anisa. "Duh serunya bermain. Sampai suaranya terdengar dari bawah." Ucap Anisa lagi


"Iya tah? Itu tadi cualanya kak Gafal." Jawab Syifa


"Ohh iya... bibi boleh ikut nggak?" Ucap Anisa


"Boleh..." Jawab Gafar dan Syifa


Akhirnya mereka berempat bermain bersama dan melupakan keberadaan Maira. Karena merasa jenuh, Maira memilih untuk keluar dari kamar itu. Ia memilih pergi ke ruang tamu. Terlihat meja masih terbalik di sana dan bantal - bantal yang berserakan di lantai. Tanpa berniat membereskan itu. Maira langsung mendudukan bokongnya di sofa.


Khoiruddin yang melihat Maira keluar. Ia berpamitan pada kedua anaknya. "Abi ke bawah dulu ya! Kalian main yang baik! Jangan nakal dan jangan sampai bertengkar!" Ucap Khoiruddin


"Iya abi." Jawab Gafar


Khoiruddin turun ke bawah untuk menemui Maira. "Umi!" Panggilnya saat berada di anak tangga


Maira menoleh ke arah sumber suara. Namun hanya sesaat, karena ia langsung kembali ke posisi semula.

__ADS_1


...


Khoiruddin kini berada di samping Maira. Ia duduk pas di sebelah kanan Maira. Namun Maira masih beroaling darinya.


"Umi..." Panggil Khoiruddin


"_"


"Umi..." Panggil Khoiruddin lagi


"Hmm..." Jawab Maira acuh


"Jadi, kenapa tadi pagi umi marah dan sampai mengamuk seperti itu?" Tanya Khoiruddin


"Ckk... kau masih bertanya kenapa? Teganya dirimu!" Ucap Maira


"Baiklah... abi tidak tahu kenapa kamu bisa marah seperti itu. Apa karena ada Anisa di sini?"


Maira hanya diam saja dan masih berpaling. "Baiklah abi akan jelaskan. Anisa ke sini tadi malam. Ya itu benar! Tapi ia ke sini untuk meminta obat, karena ia semalam badannya demam. Jadi aku kompres juga ia. Dan tidak terasa aku juga tertidur di sana! Makanya aku tadi bangun kesiangan." Jelas Khoiruddin


Maira kini melihat ke arah suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Heh.. cerita yang bagus." Ucap Maira


"Apa maksudmu? Aku sudah menjelaskannya bukan? Tak ada lagi alasan untuk marah padaku. Kau marah padaku tanpa ada alasan yang jelas. Itu sangat memuakkan mi! Kita sudah bukan anak muda lagi. Tolong katakan dan jelaskan padaku apa alasannya. Urusanku bukan hanya untuk membujuk rayumu saja!" Ucap Khoiruddin


"Tanpa alasan kau kata? Aku memiliki alasan yang jelas Mas! Apa yang kau katakan tadi. Semalam Anisa demam, dan kau mengompresnya di kamar. Dan kalian hanya berdua saja di kamar itu. Apa itu bisa dipercaya? jika kau hanya mengompresnya." Ucap Anisa


"Ya kenyataannya memang begitu. Memangnya kau mengharapkan apa?" Tanya Khoiruddin


"Cihh... tapi aku tidak percaya!" Ucap Maira


"Huffttt... abi harus apa? Agar umi percaya." Ucap Khoiruddin frustasi


"Hikss..." Maira tidak menjawab dan justru kembali menangis


"Baiklah jika umi masih marah pada abi. Abi menyerah! Abi tidak tahu lagi harus apa. Abi ke atas melihat anak - anak." Ucap Khoiruddin


Maira yang ditinggal begitu saja. Semakin terisak. "Kau kini berubah abi..." Ucapnya


Bersambung...

__ADS_1


Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman - teman yang sedang menjalankannya.


__ADS_2