
Selamat Membaca
...
"Apa! Aku tidak mengucapkan demikian." Ucap Siti
"Jika tidak, lalu mengapa abi marah pada umi?" Bentak Gafar
"Aku tidak--- ooo... aku mengerti. Ini kesalah pahaman. Ustaz! Saya mohon izin untuk menyelesaikan kesalah pahaman ini!" Ucap Siti
"Iya silakan." Jawab ustaz itu
"Ayo kita ke rumahmu! Aku akan menjelaskan semuanya pada Abi." Ucap Siti
"Lelucon macam apa ini?" Ucap Gafar
"Apa kau tidak kasihan pada Umimu?" Tanya Siti
"Tentu saja." Jawab Gafar
"Kalo begitu, ayo!" Ucap Siti
Dengan dibonceng Gafar. Mereka berdua sampai pada gerumbulan orang - orang yang mulai berkurang jumlahnya.
Gafar dan Siti segera masuk ke dalam rumah. Terlihat Maira dan Syifa berpelukan. Sedangkan Zahra sedang dibawa oleh tetangga. Agar tidak trauma akibat dari melihat pertengkaran orang tuanya. Dan Khoiruddin dengan napas tersengal - sengal menatap tajam ke arah Maira.
"Nah ini. Siti bisa kamu lihat di mana ia meletakannya?" Tanya Khoiruddin
"Bisa, tapi tidak di sini." Jawab Siti
"Apa maksudmu. Kau tadi yang bilang jika sosok itu mengatakan bahwa istriku yang menjadikanmu tumbal. Jadi, di mana dia menaruhnya? Agar aku cepat membuat dia bertaubat." Ucap Khoiruddin dengan tatapan nyalangnya.
"Iya, tapi bukan istrimu yang ini." Ucap Siti
"Maksudmu?" Tanya Khoiruddin
__ADS_1
"Maksudku? Memangnya istri abi hanya Umi Mai saja?" Ucap Siti
"Tidak.. tidak mungkin Anisa melakukan itu. Lagi pula ia tinggal bersamaku. Aku selalu mengawasinya. Tidak mungkin dia yang melakukannya." Ucap Khoiruddin
"Engkau butuh bukti Abi? Mari kita buktikan!" Ucap Siti yang langsung menarik tangan Khoiruddin
Para warga mengikuti Siti dan Khoiruddin pindah ke rumah kedua Khoiruddin. Di sana gantian Siti yang mengobrak - abrik benda yang ada di rumah itu.
Gafar dan Maira juga Syifa datang terakhir dan duduk di sofa. Sedangkan Khoiruddin terua membuntuti ke mana langkah Siti pergi.
"Ke mana wanita si*alan itu menaruhnya?" Gumam Siti
Tak segan - segan, Siti bahkan memecahkan beberapa vas yang ada di sana. Suara keributan itu membangunkan Anisa. Ia keluar dari kamarnya dengan keadaan yang kacau.
Betapa terkejutnya ia, melihat ruang tamunya penuh dengan warga. Juga kakaknya yang tengah menenangkan anaknya. Tambah terkejut pula ia melihat kehadiran Siti di depannya.
Ia terus mengucek matanya untuk mengecek penglihatannya. Berulang kali ia melakukannya. Dan Siti tak juga hilang.
'Berarti Siti masih hidup. Jadi-' batin Anisa
"Di mana kamu menyembunyikannya?" Tanya Siti
Anisa hanya melijat ke sekelilingnya. Melihat istrinya dibentak oleh Siti, Khoiruddin menjadi iba.
"Sudahlah nak. Ia sedang sakit. Sudah satu minggu ini dia tidak bisa berbicara. Kata dokter ia terkena stroke ringan." Jelas Khoiruddin
"Stroke ringan? Baguslah." Ucap Siti
Tanpa Anisa sangka, Siti membuka ruangan yang gunakan sebagai tempat persembahannya.
Klaakkk...
Pintu terbuka. Aroma bunga begitu menyengat di hidung. Siti memasuki tempat itu dan lagi, ia mengobrak - abrik tempat itu. Sedangkan Khoiruddin, ia membeku di tempat.
"DI MANA? DI MANA KAU MENYEMBUNYIKANNYA BAJ*NGAN?" Teriak Siti
__ADS_1
Gafar segera mengecek ke lantai atas untuk melihat keadaan. Sama seperti abinya, ia juga membeku di tempat.
"Tante..." gumamnya tak percaya
Karena tak jua ketemu. Siti akhirnya menggunakan indra penglihatannya untuk menemukan barang yang ia cari.
"Hemm... di situ rupanya." Gumamnya
Ia menuju anak tangga yang ke tiga dari bawah. Ia meminta bantuan kepada bapak yang tengah menonton mereka.
"Pak, bisa minta tolong untuk dibongkar!" Pinta Siti
Bapak itu memecahkan keramik anak tangga itu. Terdapat kayu di bawah meramik itu. Siti segera membuka dan di dalamnya terdapat kain berwarna merah yang terikat.
"Akhirnya... kau lihat kan abi. Justru yang serumah denganmulah yang melakukan ini. Jadi apa langkahmu selanjutnya." Ucap Siti
Isi dari kain merah itu adalah rambut Siti yang sengaja dipotong oleh Anisa disaat Siti menginap di sana.
"Tugasku sudah selesai. Aku pamit undur diri. Assalamualaikum." Ucap Siti
"Wa'alaikum salam." Ucap semua orang
Sepeninggal Siti, keadaan mulai tegang. Anisa mencoba untuk menyentuh Khoiruddin. Tetapi ia selalu menghindar.
"Menjauhlah dariku wanita biad*b! Kau sungguh menjijikan!" Ucap Khoiruddin
"Abi! Abi bisakah kau tenangkan dirimu?" Ucap Gafar yang berusaha menenangkan abinya
"Tidak! Dengarkan aku Anisa. MULAI MALAM INI AKU MENALAQ DIRIMU! Mulai malam ini kau haram bagiku." Ucap Khoiruddin dan pergi begitu saja dari sana.
Anisa mengejar Khoiruddin, namun ia justru terjatuh dari tangga. Khoiruddin bahkan tak peduli akan teriakan Maira yang meminta bantuan.
Untungnya masih ada beberapa warga di sana. Anisa ditolong oleh warga untuk diangkat ke kamarnya. Dan beberapa warga yang lain pergi untuk memanggil dokter.
Bersambung...
__ADS_1