
Selamat Membaca
...
Pagi haei di kediaman Khoiruddin, telah datang beramai - ramai orang. Para warga akhirnya menyepakati untuk menikahkan mereka berdua dikarenakan mereka dituduh telah melakukan zina. Pak Penghulu dihadirkan untuk mengikat kedua insan ini.
Khoiruddin masih berusaha untuk mencari jalan keluar lainnya selain pernikahan. Namun, warga menolak mentah - mentah dan tetap kekeh untuk menikahkan mereka. Pukul 10.00 pagi Pak Penghulu telah tiba. Dan warga sudah meneriaki Khoiruddin agar segera melakukan ijab kabul.
SAH!
Terdengar dari suara para warga. Semua warga telah bersuka cita. Berbeda dengan para mempelai, mereka justru menampakkan wajah sedihnya. Setelah acara ijab kabul selesai. Para warga memilih untuk meninggalkan rumah Khoiruddin. Terdengar tangisan dari Gafar dan Syifa, Khoiruddin bergegas untuk memeluk mereka.
Setelah tenang, Khoiruddin segera meletakkan mereka ke tempat tidur supaya lebih nyaman. Khoiruddin menutup pintu dengan pelan supaya tidak menimbulkan suara. Pintu tertutup rapat dan Khoiruddin langsung menarik tangan Anisa dan membawanya ke ruang tamu.
"Dengar Nis! pernikahan ini alangkah baiknya kita sembunyikan dulu dari Maira. Dan maaf aku tidak bisa memenuhi tugasku sebagai suami terhadapmu." Ucap Khoiruddin dan langsung meninggalkan Anisa yang masih terdiam
Tanpa sadar air mata membasahi pipi Anisa. Namun dengan cepat ia hapus, karena apa yang dibicarakan oleh kakak iparnya yang sekarang telah menjadi suaminya itu benar. Kakaknya tidak boleh mengetahui kabar ini, akan sangat menyakiti hatinya jika itu terjadi.
Hari sudah sore. Dan azan magrib telah berkumandang. Maira baru saja keluar dari taksi. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke sopir. Tidak lupa ia juga mengucapkan terima kasih.
Maira mengetuk pintu dan membuka pintu. Terlihat anak - anaknya sedang bermain kejar - kejaran di ruang tamu. Juga Khoiruddin yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia masih fokus melihat layar laptop hingga tidak menyadari jika dirinya datang.
Maira mengembangkan senyumnya dan segera menghampiri anak - anaknya. Ia memeluk dan menciumi mereka secara bergantian. Khoiruddin yang baru saja menoleh ke arah Maira, segera menyambut hangat kedatangan istrinya.
"Bagaimana kabar bapak?" Tanya Khoiruddin
__ADS_1
"Bapak sudah lebih baik. Hanya saja kondisinya masih buruk." Jawab Maira
"Yang sabar. Kamu sudah makan?" Tanya Khoiruddin
"Belum." Jawab Maira
"Ya sudah kita makan dulu. Kebetulan aku tadi menyuruh Anisa memasak lumayan banyak malam ini." Ucap Khoiruddin
"Hm... tapi aku mau mandi dulu." Ucap Maira
"Iya." Ucap Khoiruddin
Maira segera masuk ke kamarnya dan mandi. Setelah itu ia menuju ke dapur untuk membantu adiknya.
"Hanya tinggal ini saja mbak." Jawab Anisa
"Ya sudah mbak bantu nata aja ya." Ucap Maira
"Iya mbak." Ucap Anisa
Maira dengab telaten menata makanan yang sudah masak di atas meja. Setelah semua siap, Maira memanggil kedua anaknya dan suaminya untuk santap malam.
Di meja makan itu terdengar suara ribut dari si kecil. Membuat suasana yang semula hening menjadi ramai. Maira tersenyum melihat kedua tingkah anaknya. Sedangkan Anisa, ia mencuri - curi pandang ke Khoiruddin
...
__ADS_1
Pagi harinya, Maira sibuk mempersiapkan keberangkatan Gafar untuk sekolah dan juga suaminya. Setelah selesai ia sedikit membersihkan rumahnya. Namun alangkah terkejutnya ia mendengar celotehan dari Syifa.
"Mi nanti kalau Syifa udah dede mau nikah sama tatak." Ucap Syifa
"hei... ya tidak boleh dong sayang. Kan Syifa masih kecil, lagipula itu kakak Syifa. Tidak boleh kita menikah dengan saudara kita sendiri." Ucap Maira
"Tenapa ndak oleh? Belalti Syifa ndak oleh nitah dong?" Tanya Syifa
"Boleh tapi dengan orang lain ya." Jelas Maira
"Ohh... nanti olangnya batal ngomong saya telima nitah dan kawinnya Syifa... telus apa Umi?" Tanya Syifa
"Hahaha... kamu ini masih kecil. Tahu darimana hal begitu hahaha..." Ucap Maira
"Tenapa Umi. Syifa tahunya dali Abi. Temalin Abi main nitah - nitahan cama tante." Ucap Syifa
Degg...
Senyum Maira memudar seketika. Ia bertanya sekali lagi kepada putrinya dan Syifa menjawab dengan kalimat yang sama.
Seketika air mata lolos dan membasahi pipinya. Syifa yang melihat uminya menangis langsung berlari menuju uminya untuk menenangkannya. Bahkan ia ikut menangis karena merasa bahwa uminya menangis karena dia.
"Kenapa?"
Bersambung...
__ADS_1