
Selamat Membaca
....
POV Anisa ON~
Di malam aku mengajak suamiku untuk makan malam. Bukan! Bukan suamiku. Lebih tepatnya suami kakakku untuk makan malam. Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin berbicara dengannya mengenai hubungan yang rumit ini.
Betapa terkejutnya aku saat ia menyetujui ajakanku. Jujur hal itu membuat hatiku bahagia. Namun lagi - lagi, aku tidak boleh terlena. Ini hanya kebahagiaan semu. Fokus! fokus pada tujuan awal!
Aku menyajikan banyak sekali makanan. Bukan untuk apa. Aku hanya ingin memasak banyak makanan itu, karena di rumah ini ada 4 penghuni ditambah lagi aku. Jadi aku memasak banyak untuk mereka. Namun beribu sayang.
Ketidaktauan diriku membuat semuanya bertambah rumit. Dengan beraninya aku tadi melakukan hal itu. Bodoh! Sangat bodoh! Aku menyesalinya, sungguh! Aku sadar itu semua murni kesalahanku.
Dan sekarang, di meja makan ini. Makanan masih tersisa banyak. Bahkan ada beberapa makanan yang tidak kami sentuh. Mbak Maira juga para keponakanku tidak jua turun untuk makan malam. Hal itu membuat hatiku merasa teriris. Perih! Tolong, ini perih sekali!
Mungkin kalian semua tidak akan ada yang percaya padaku. Tapi sungguh! Aku tak berbohong! Percayalah itu.
Setelah makan malam selesai. Ku lihat Mas Khoir meneguk minumannya dengan cepat. Dan setelah itu. Ia berkata padaku bahwa ia akan memutuskan hubungannya denganku. Dan tepat malam itu, tak ku sangka ia akan langsung menalakku sebelum aku mengatakan sesuatu.
Entah kenapa ucapan talaknya menusuk hatiku. Sakit! Sangat sakit! Namun aku kuasai kembali pikiran ini. Aku menghapus air mata yang sebentar lagi menetes itu. Ku palingkan wajahku dan ku usap dengan jariku supaya ia tak melihatnya. Kenapa? Karena aku malu?
Ku hembuskan napas kasar. Lelah! Sungguh lelah jiwa dan ragaku ini! Kenapa Tuhan? Kenapa selalu aku? Tanyaku pada Tuhan
Entah kenapa aku tak percaya lagi padanya. Ya! Sudah lama aku meninggalkannya! Kapan? Semenjak ia mengambil suamiku. Duniaku runtuh tak bersisa! Semua orang menatapku sinis dan penuh kebohongan. Aku benci itu! Sungguh!
__ADS_1
Namun, di sini bersama mbakku. Hidupku mulai tenang dan tentram. Jujur aku juga sudah kembali melakukan ibadah bahkan lebih baik dari sebelum ink. Namun, pernikahan yang dilakukan untuk meredam emosi warga. Menjebakku dalam emosi yang sangat dalam.
Aku juga ingin keadilan! Aku juga ingin diperlakukan seperti istri pada umunya. Namun aku sadar, aku hanyalah sebuah kesalah pahaman. Dan aku selalu berusaha untuk terus menekannya di dalam hati. Sungguh! Aku berkata jujur!
Aku lega saat Mas Khoir menalakku. Karena hal itu merupakan langkah awal untuk memperbaiki hubungan yang sudah mulai rusak ini. Kau, aku, dan keponakanku!
Aku rindu masa - masa itu. Masa di mana kita bahagia bersama dan saling berbagi duka dan cita. Namun lagi - lagi, sebuah kesalah pahaman kembali menerpa.
"Hentikan basa - basi ini! Ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi semalam di antara kalian di kamarku!" Ucap Mbak Maira menyela pembicaraanku
Aku mengerti! Aku paham mengapa ia terlihat kesal. Apakah aku terlalu basa - basi? Baiklah kalau begitu biar aku ceritakan pada kalian apa yang terjadi semalam.
Jadi, setelah Mas Khoir menalakku. Ia beranjak dari tempat duduk. Aku menebak bahwa ia akan pergi membujukmu. Aku tidak terima itu. Bukan karena apa? Masak iya kami berdua melakukan kesalahan padamu. Dan hanya dia yang ingin meminta maaf kepadamu.
Jadi, aku tanyakan kepadanya apa rencana yang akan ia buat untuk membujukmu. Mas Khoir bercerita bahwa ia akan memberikan kejutan. Di mana kejutan itu adalah mengenang masa malam pengantin kalian.
Dengan cepat aku membereskan meja makan itu. Sedangkan kulihat Mas Khoir sudah duluan ke atas. Setelah semua selesai. Aku membuat teh hangat karena pikirku nanti selesainya agak lama. Dan pastinya aku kehausan. Jadi daripada naik turun, aku menyiapkan segala yang aku butuhkan nanti.
Sebelum masuk ke dalam kamar itu, aku mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Sudah 3× aku mengetuk tak ada jua sahutan. Ya sudah, aku masuk saja.
Ternyata tak ada orang di dalam. Pantas saja! Ku letakkan minumanki di atas laci. Dan aku mulai merapikan tempat tidur. Setelah itu aku mencari kelambu dan memasangnya. Oleh kerana itu ada kelambukan.
Kulihat Mbak Mai mengangguk. Menandakan ia percaya denganku.
Setelah itu, aku juga menata beberapa lilin. Namun, saat aku menyalakan lilin. Mas Khoir masuk ke dalam kamar. Ia hanya bertanya tentang pekerjaan yang kulakuakan saat itu. Tidak ada yang aneh bukan?
__ADS_1
Setelah itu, Mas Khoir memilih duduk - duduk di atas kasur. Setelah itu aku tidak memperhatikannya lagi. Namun, tak berapa lama. Mas Khoir bertanya minuman siapa itu. ku jawab itu punyaku. Aku juga mengatakan minum saja kalau mau, nanti aku bisa buat lagi.
Tak ada jawaban. Hening, namun tidak berapa lama setelah terdengar suara diletakkannya kembali cangkir itu.
Tiba - tiba saja hikss... Mas Khoir memelukku dan menciumiku dengan brutal. Aku juga sudah berusaha melawan. Bahkan aku juga sudah lari. Namun sayang, tenagaku ini tak cukup kuat untuk itu. Mas Khoir berhasil memegang tanganku dan...
Tiba - tiba saja ia menutup pintunya. Dan malam itu Mas Khoir melakukannya dengan cara yang kasar. Hikss...
POV Anisa OFF~
"Tidak kau berkata bohong! Aku tidak melakukannya! Pasti ini semua akal - akalanmu saja!" Ucap Khoiruddin tak terima
"Kenapa kau selalu mengelak? Apa karena aku ini janda? Jadi seenaknya saja kau berbuat seperti ini padaku?" Ucap Anisa tak kalah bengisnya
"Bohong! Ini semua nggak bener. Dasar wanita ular!" Ucap Khoiruddin
"Siapa yang kau bilang wanita ular hah? Apa kar-" Ucap Anisa terpotong
"SUDAH DIAM! Jangan berisik! hikss..." Ucap Maira
Seketika suasana menjadi hening dan terdengar suara isakan Maira.
"Mai! Sayang! Kau jangan percaya ucapannya! Dia berbohong... ku mohon... ku mohon percayalah padaku" Ucap Khoiruddin
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya baru upload😁 Hari minggu waktunya bersantai~
Terima kasih bagi yang masih menunggu cerita ini. Kira - kira apa jawaban Maira? Ada yang punya ide?