Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Es Krim


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Sudah sampai. Terima kasih abi!" Ucap gadis itu


"Dari mana aja?" Tanya seorang pria


"Yang sabar dong! Jangan ngebentak!" Ucap Khoiruddin


"Bac*d! Ayo masuk! Cepetan masuk!" Ucap pria itu sambil menyeret paksa gadis itu dengan menjambak rambutnya.


"Arggghhh... sakit!" Rintihnya


Bug...


Khoiruddin memukul bahu pria tersebut dan membuat si pria melepas jambakannya. Dan...


Bughh...


Pria itu membalas pukulan dari Khoiruddin. Mereka berdua berkelahi dengan ganas. Walau usia tak lagi muda. Khoiruddin masih bisa mengimbangi pemuda di hadapannya ini.


Namun tak lama ia dapat mengimbangi. Karena pemuda itu jago sekali dalam silatnya. Hingga beberapa detik kemudian, Khoiruddin terjatuh.


Pemuda itu lantas meninggalkan Khoiruddin yang sudah babak belur. Khoiruddin hanya bisa diam ketika melihat gadis kecil itu dibawa masuk ke dalam rumah besarnya dengan suara tangisan yang terus mengiringi.


Mau bagaimana lagi. Tenaganya sudah habis, ia buat bertarung dengan pemuda tadi. Tanpa pikir panjang. Khoiruddin kembali masuk ke dalam mobilnya dan segera pulang.


...


Sesampainya di rumah. Anisa terkejut dengan wajah Khoiruddin yang penuh dengan lebam.


"Ya ampun mas! Ini wajah kamu, kenapa?" Tanya Anisa


"Acchhh..." Rintih Khoiruddin dikala Anisa mencoba memegangnya.


"Aduh... sakit ya? Sini Nisa obatin dulu." Ucap Anisa


Dibawalah Khoiruddin ke ruang tamu. Di sana, Anisa meninggalkan Khoiruddin untuk mengambil kotak obat. Dengan penuh hati - hati, Anisa mengobati luka itu.


"Sudah. Kenapa sampai luka seperti itu?" Tanya Anisa


"Aku bertengkar dengan Anggara tadi." Jawab Khoiruddin


"Ngapain bertengkar sama bocah tengil itu? Belain Siti? Iya?" Tanya Anisa


"Kasihan Siti, Nis! Masa baru aja turun dari mobil. Langsung dijambak begitu rambutnya. Harusnya kalau jadi laki itu yah harus lembut sama cewek. Nah ini? Baru sampai langsung dijambak. Aku nggak bisa ngebayangin di dalam rumahnya diapakan lagi." Ucap Khoiruddin


"Terserah." Ucap Anisa


"Abi! Abi!" Panggil seseorang dari luar


"Tolong kamu bukakan pintu itu. Siapa yang datang? Zahra kah?" Ucap Khoiruddin

__ADS_1


"Ya." Jawab Anisa dengan nada ketus


Dibukalah pintu itu. Terlihat wajah bocah gadis berusia 6 tahun.


"Kenapa ke sini?" Tanya Anisa dengan ketus


"Aku mau ketemu abi. Mau minta beli es krim." Jawab bocah itu


"Abi lagi sakit. Besok aja." Usir Anisa


Ia langsung menutup pintunya. Hingga membuat sang bocah menangis dengan keras.


"Huaaa.... abi! Zahra mau es krim. Huaa..." Tangis Zahra


Anisa tidak memperdulikan tangisan dari Zahra. Ia langsung meinggalkan pintu itu kembali ke ruang tamu.


"Mana?" Tanya Khoiruddin


"Anaknya? Di luar aku kunciin." Jawab Anisa


"Astagfirullah Anisa." Ucap Khoiruddin


Ia segera berdiri dan berlari untuk membukakan pintu. Terlihat anak gadisnya menangis dengan wajah melasnya. Digendong dan dipeluk oleh Khoiruddin agar tenang.


"Cuuppp... Abi di sini. Zahra tadi datang ke sini sendiri?" Tanya Khoiruddin


Gadis kecil itu menjawab dengan anggukan.


"Zahra mau es krim." Ucapnya dengan nada melas


"Ya udah yuk kita beli es krim." Ajak Khoiruddin


"Wajah abi kenapa? Kok merah - merah." Tanya Zahra lagi


"Oohh ini merah karena habis digigit nyamuk." Jawab Khoiruddin


"Kok besar abi? Zahra digigit nyamuk nggak besar kayak gini." Ucap Zahra


"Ya. Karena nyamuknya beeessaarrr. Jadinya merahnya juga besar." Jelas Khoiruddin


"Iiihhh... Takut. Nanti malam kalau Zahra mau tidur. Zahra dengerin umi harus pakai kelambu. Takut nanti kayak abi." Celoteh Zahra


"Hahaha... anak pintar." Ucap Khoiruddin


"Kamu yakin keluar dengan wajah kayak gitu? Nggak malu kamu?" Tanya Anisa


"Iya. Dari pada dia nangis nanti." Jawab Khoiruddin


"Ya udah deh." Ucap Anisa


"Wleekkk... Zahra menang... Wlekk... Ahahahaha..." Ejek Zahra kepada Anisa


"Dasar anak nakal. Awas kamu ya!" Ucap Anisa

__ADS_1


"Wllleekk..." Ejek Zahra terus - menerus


Khoiruddin tidak mempeedulikan itu. Baginya Zahra dan Anisa sedang bercanda. Walau bagi keduanya hal itu mereka lakukan memang atas dasar rasa tidak sukanya.


...


Zahra kini sudah duduk di kursi yang berada di samping sopir. Dijalankan mobil itu dengan kecepatan sedang. Untuk menutupi lukanya, Khoiruddin menggunakan masker.


"Yaaeyy... Sudah sampai!" Girang Zahra ketika melihat toko


Zahra terus berada di gendongan abinya selama berbelanja. Zahra sendiri juga tidak mau turun dari gendongan abinya.


Akhirnya setelah selesai membeli beberapa keperluan rumah. Khoiruddin menyuruh Zahra untuk memilih es krim mana yang ia mau. Tak lupa juga Khoiruddin mengambil 2 lagi untuk anaknya yang lain.


"Sudah?" Tanya Khoiruddin


"Sudah." Jawab Zahra


Sebelum keluar, mereka melakukan pembayaran di kasir. Baru setelah itu kembali pulang.


...


Di depan rumah Maira lebih tepatnya rumah Pak Surya yang kini ditempati oleh Maira. Mobil Khoiruddin berhenti. Zahra turun bersama Khoiruddin yang menggandengnya.


"Assalamualaikum." Ucap mereka berdua


"Wa'alaikum salam." Jawab Maira


Ia tergopoh - gopoh menuju depan. Dilihatnya suaminya dan anaknya sedang duduk di kursi.


"Sudah beli?" Tanya Maira pada Zahra


"Sudah, ini." Ucapnya sambil menunjukan es krimnya


"Ini! Es krim dan beberapa bumbu dapur. Bawa Ke dapur dan masaklah. Aku lapar." Ucap Khoiruddin


"Memangnya Anisa tidak memasak?" Tanya Maira


"Nggak. Lagi malas katanya." Jawab Khoiruddin


"Iya. Tunggu sebentar." Ucap Maira


"Eh.. eh.. tunggu! Ini uang bulanan. Kalau kurang minta lagi." Ucap Khoiruddin


"Hemm... makasih." Ucap Maira


Setelah itu Maira bergegas memasak di dapur.


Cepakk... (Suara es krim yang dikeluarkan dari mulut)


"Abi mau?" Tawar Zahra


"Ndak. Mau Zahra saja aumm.." Canda Khoiruddin

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2