Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Aku Mendapatkannya


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Sudah 3 bulan lamanya Maira masih berusaha mencari bukti. Namun satupun tak ia temukan jua. Bahkan ia akan memilih untuk menyerah. Bahkan jika dibawa ke meja hukum sekalipun, ia akan pasrah.


...


Di meja makan terlihat Khoiruddin juga anak - anaknya sibuk menghabiskan makanan yang ada di dihadapan mereka. Tanpa terasa bibirnya tersungging menampilan senyuman. Namun disaat yang bersamaan air matanya jatuh membasahi pipinya.


Dengan cepat ia hapus dengan jarinya. Berusaha menampilkan senyuman seindah mungkin di hadapan anak - anaknya.


Maira berjalan menghampiri meja makan. "Adik sama kakak mau tambah lagi?" Tanyanya.


Sontak semua orang menoleh ke arahnya. Semuanya menampilkan senyum ke arah Maira dan itu membuat hati Maira sedikit terobati di tengah rasa gelisah dan keputus asaannya.


"Nggak mi!" Jawab Gafar


Sedangkan Syifa hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Dirasa tidak perlu mengambil sesuatu, Maira mendudukan dirinya di kursi yang kosong. Ia membalikkan piringnya dan mulai mengambil satu persatu makanan yang ia inginkan.


...


Malam harinya...


"Mi!" Panggil Khoiruddin


"Iya bi?" Jawab Maira


"Besok abi mau mengantar para murid untuk berziarah. kemungkinan abi tidak pulang besok. Mungkin lusa, karena acaranya hanya satu hari." Ucap Khoiruddin memberi kabar


"Baiklah abi. Apa ada yang abi butuhkan besok? Biar umi siapkan." Ucap Maira


"Ehh... iya ada mi. Tolong besok bawakan 2 setel kaos sama daleman. Masukan ke tas ransel saja." Ucap Khoiruddin


"Iya mas." Jawab Maira dan ia segera menyiapkan kebutuhan yang Khoiruddin ucapkan tadi


"Ehmm... ada lagi. Toling besok kamu siapkan bekal ya buat sarapan. Soalnya mas berangkatnya habis salat subuh." Ucap Khoiruddin


"Kok pagi sekali mas? Emang berangkatnya jam berapa?" Tanya Maira


"Berangkatnya sekitar pukul setengah 6. Jadi para guru harus datang lebih awal untuk persiapan seperti mengabses dan lain - lain nanti jika ada kendala. Jadi bisa diatasi lebih cepat." Jawab Khoiruddin


"Ohh begitu..." Ucap Maira


Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Khoiruddin sendiri memilih untuk melihat jadwal di ponselnya mengenai apa yang harus ia lakukan esok hari. Sedangkan Maira masih sibuk memasukan barang - barang suaminya di tas ransel.


Setelah selesai menata semuanya. Maira meletakan di atas meja. Setelah itu ia mempersiapkan diri dengan mencuci muka, kaki dan tangannya sebelum tidur.


Setelah itu ia langsung berbaring di samping suaminya. "Sudah selesai mi? Langsung tidur?" Tanya Khoiruddin


"Iya bi. Sudah selesai. Emang mau ngapain lagi?" Ucap Maira


"Ohhh... ya sudah. Selamat malam!" Ucap Khoiruddin

__ADS_1


"Malam juga abi." Jawab Maira


...


Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Dan alarm yang Amira setel sudah berbunyi. Dengan segera Maira mematikan alarm itu.


Setelah dirasa nyawanya sudah penuh. Ia bangkit dari kasur dan menuju dapur. Ia kini sibuk untuk mempersiapkan bekal untuk suaminya nanti.


Pukul 4 tepat. Suara azan berkumandang. Maira meninggalkan sebentar masakannya, karena hanya tinggak menunggu mendidih.


Ia kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. "Bi! Abi! Bangun bi! Udah azan tuh!" Panggil Maira untuk membangunkan suaminya


"Ada apa mi?" Tanya Khoiruddin masih dengab suara serak khas bangun tidur.


"Ihh... abi gimana sih. Kan abi nanti ada acara untuk nganterin murid abi ziarah. Gih sana bangun. Salat subuh. Barang - barangnya juga sudah umi siapkan tuh." Ucap Maira


"Iya... iya... ini abi bangun... hoamm..." Ucap khoiruddin


"Hem... ya sudah umi tinggal ke bawah dulu. Masakannya umi tinggal tadi." Ucap Maira


Khoiruddin hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Setelah itu ia bersiap - siap untuk pergi salat ke masjid.


...


Sepulang dari masjid, Khoiruddin langsung bergegas mandi dan memakan sepotong roti yang telah disiapkan oleh istrinya. Pukul setengah 5 ia berpamitan untuk berangkat.


"Mi! udah jam setengah 5! Abi pamit pergi dulu." Ucap Khoiruddin


"Muaachh..." Kecupan diberikan oleh Khoiruddin di kening Maira


"Abi berangkat..." Ucap Khoiruddin


Setelah itu mobilpun berjalan meninggalkan pekarangan rumah. Setelah dirasa sudah jauh, Maira kembali masuk ke dalam rumah.


...


Pagi menjelang siang. Sekitar pukul 9, Anisa datang ke rumah Maira.


"Mbak! Mbak!" Panggilnya


"Iya ada apa Nis?" Tanya Maira


"Aku minta garamnya. Di rumah habis, malas juga mau keluar." Ucapnya


"Ohh ya.. kau ambil saja di dapur." Ucap Maira


Namun bukannya ke dapur. Anisa justru berjalan menuju kamar Maira dan Khoiruddin. Entah ada niatan apa sebenarnya dengannya.


Beruntung saat itu Maira melihatnya. Di mana Anisa justru naik ke atas bukannya menuju ke arah dapur. Dengan pelan ia berjalan di belakang Anisa.


Saat berada di depan pintu. Maira mendengar suara Anisa yang seperti orang kerasukan. Beruntung pintu itu sedikit terbuka. Jadi, Maira bisa melihat apa yang adiknya lakukan.


"Hahaha.... Mas Khoir cintaku! Entah sihir apa yang kau lakukan padaku. Hingga aku tergila - gila seperti ini. Ya! Ya AKU GILA! hahaha... Aku tergila - gila padamu. Dan haufftt...." Ucap Anisa

__ADS_1


"Apa yang ia lakukan? Kenapa tingkahnya sangat aneh dengan di depan tadi?" Gumam Maira dan ia sedikit membuka pintu agar terlihat sedikit lebih jelas.


"Dan aku bahkan sampai berani melakukan hal gila hahaha.... Ya! Aku pelakunya! Aku yang memasukan obat tidur di dalam minuman teh itu hahaha... Dan aku juga memasukan sesuatu yang nantinya... bisa membuatmu menjadi jatuh cinta padaku hahaha..." Ucap Anisa lagi


"Apa! Jadi dia pelakunya, Mas Khoir nggak bersalah. Tapi sesuatu?" Gumam Maira lagi


"Sebentar lagi... hiiii... sebentar lagi. Kamu akan tergila - gila padaku." Ucap Anisa


Brakk...


"Siapa itu?" Tanya Anisa


"Aku! Kenapa?" Ucap Maira


"Mbak Mai" Gumam Anisa


"Ya. Ohhh jadi kamu yang sengaja menjebak Mas Khoir. Jadinya di sini kamu dong yang bersalah. Dan Mas Khoir cuma korban. Bagus... bagus... disaat aku sudah putus asa dengan pengumpulan bukti yang memuakkan ini. Aku justru mendapatkannya lewat pengakuanmu sendiri. Tunggu! Tunggu saja besok aku akan mengatakan ini pada Mas Khoir!" Ucap Maira


"Mbak... Mbak..." Panggil Anisa namun tidak dipedulikan oleh Maira


"Hufftt.. sial." Ucapnya


...


Lusa...


Hari telah sore, langit telah berubah warna menjadi orange ke merah - merahan. Suara deru mesin terdengar seperti memasuki halaman rumah. Maira dengan cepat menyambut suaminya di samping pintu.


Di ambilnya punggung tangan suaminya dan diciumnya. Ia juga membawakan tas suaminya dan meletakkannya di kamar mereka.


Namun saat turun ke bawah. Alangkah terkejutnya ia melihat Anisa yang sudah berada di sana. Dengan cepat Maira menuruni anak tangga.


"Mas! Mas... kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Maira dengan napas menderu


"Kenapa? kan dia adikmu? Bukannya kamu sendiri yang mengizinkan ia untuk datang ke sini. Apa kamu lupa?" Ucap Khoiruddin tak mengerti


"Pergi! Pergi kamu dari sini!" Usir Maira


Namun Anisa masih berdiri di sana dengan menampakan wajah melasnya. Hal itu membuat Maira semakin emosi. Ia akhirnya menyeret paksa Anisa dan mengeluarkannya dari rumahnya. Setelah Anisa keluar ia langsung menutup pintunya dengan keras dan tak lupa juga ia kunci.


"Ada apa ini? Kenapa kau berbuat seperti itu padanya?"


"Asal kau tahu.. dia.." Ucap Maira


"Dia apa? Apapun masalah pertengkaran kalian. Tidak bisakah kau memperlakukannya dengan lebih baik. Kau menyakitinya! Tak ku sangka dirimu akan menjadi seperti ini?" Ucap Khoiruddin


"Apa..."


Bersambung...


Bagi teman - teman yang menganggap cerita ini membosankan karena Maira yang tidak tegas. Sebenarnya karena author memposisikan di mana seorang wanita yang biasanya di hadapkan pada posisi ini kebanyakan seperti itu. Bukan bermaksud tidak tegas atau bodoh, tapi ia harus benar - benar matang dalam memberikan keputusan. Karena keputusannya akan sangat berdampak pada keluarga dan anak - anaknya. Juga di sini author masih belajar hehehe...


Itu saja terima kasih😉

__ADS_1


__ADS_2