Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Rumah Sakit


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Walaupun dalam jarak yang cukup jauh. Khoiruddin masih bisa mendengar apa yang warga itu katakan. Khoiruddin memegangi dadanya yang terasa ditusuk - tusuk jarum.


"Sakit... sakit sekali... tolonggg..." rintihnya dalam hati tak berani bersuara


Walaupun, ia bersuara. Siapa yang akan mendengarnya? Pastilah orang - orang akan tak acuh padanya.


Yang bisa ia lakukan kini hanyalah... menunggu dan menyesali segala perbuatannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan bersujud di kaki Maira esok pagi.


Dan tak lama kemudian, ia pun tertidur. Berselimutkan kedinginan malam yang gelap.


...


Matahari bersinar terang. Gemuruh sapu telah terdengar di telinga Khoiruddin membuat ia terbangun.


Matanya menyipit saat terkena sinar matahari yang sudah begitu kuning. Mengerjap beberapa saat dan akhirnya mencoba bangun.


Ceklek...


Terkunci...


Ketika hendak mengetuk pintu, ia diingatkan fakta bahwa. Istri dan anaknya sudah tidak ada di sana. Air mata pun terjatuh, namun dengan cepat ia hapus.


"Tak boleh! Aku tak boleh menangis lagi! Aku harus mencarinya, bukan menunggunya datang!" Ucapnya pada dirinya sendiri


Khoiruddin menyalakan motor dan bergegas menuju masjid untuk mandi. Tak lupa sebelum itu, ia membeli terlebih dahulu beberapa pakaian di toko baju.

__ADS_1


....


Setelah mandi, tampilan Khoiruddin kini jauh lebih baik dari pada tadi. Rambut lebih rapi, wajah yang sumringah dan wangi yang melekat di tubuhnya.


Kruyukkk...


Terdengar suara meronta dari perut Khoiruddin. Untuk menenangkannya, ia membeli makan di rumah padang yang ada di dekat sana. Setelah itu barulah ia memulai untuk mencari istrinya.


....


Sudah 2 jam lebih Khoiruddin keliling kota mencari istri dan anaknya. Namun, tak jua menghasilkan setitik harapan.


Khoiruddin menghentikan motornya dan ia beristirahat sejenak di bawah pohon yang rindang di taman kota. Ia menengadahkan wajahnya ke atas. Memberi isyarat kepada penghuni langit agar memberikannya petunjuk.


Sampai ia teringat sesosok muridnya.


"Pasti dia tahu di mana keberadaannya." Gumam Khoiruddin


Tut... tuuttt... sambungan terhubung. Tak lama kemudian terdengar jawaban dari seberang sana.


"Halo." Ucapnya


"Halo, Siti kamu pasti tahu di mana keberadaan mereka sekarang kan? Coba kasih tahu abi! Di mana mereka sekarang?" Ucap Khoiruddin tanpa basa basi


"Mereka? Mereka siapa?" Tanya Siti


"Mereka... anak dan istri abi." Jawab Khoiruddin


"Oooo... memangnya abi tak tahu kah? Kalo mereka sekarang di rumah sakit. Mantan madumu itu sekrang divonis lumpuh oleh dokter. Kasihan sekali nasibnya." Ucap Siti

__ADS_1


"Rumah sakit mana?" Tanya Khoiruddin tak sabaran


"Rumah sakit A, abi buruan ke sana. Kasihan loh Umi Mai kerepotan mengurus anaknya dan juga adiknya." Jawab Siti


"Terima kasih, Assalamualaikum." Ucap Khoiruddin dan langsung mematikan sambungan teleponnya


Dengan kecepatan tinggi, Khoiruddin mengendarai motornya. Bahkan hampir terjadi kecelakaan akibat kelalaiannya.


Sesampainya di rumah sakit. Khoiruddin langsung bertanya pada resepsionis dan langsung menuju ke kamar di mana petugas tadi menjawab.


...


Pintu terbuka secara kasar membuat semua penghuni kamar terkejut.


"Umi." Gumam Khoiruddin


Sontak saja air mata langsung menetes di pipi Khoiruddin


Tanpa aba - aba Khoiruddin memeluk erat Maira. Seolah - olah takut kehilangannya. Sedangkan Maira merasa kesakitan karena pelukan Khoiruddin terlalu erat baginya.


"Lepas abi, umi sesak." Ucap Maira terbata - bata


Mendengar ucapan Maira, Khoiruddin langsung melepas pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajahnya. Hal itu membuat Maira merasa risih.


"Apa yang abi lakukan? Ini lingkungan rumah sakit, ada Anisa dan Zahra di sini." Ucao Maira dengan pipi bersemu merah


"Tidak ada. Abi hanya rindu. Abi ingin meminta maaf atas semua yang sudah abi lakukan padamu mi. Abi mohon pada umi! Jangan tinggalkan abi. Abi tidak sanggup untuk itu. Abi hanya..." ucapan Khoiruddin terpotong oleh Maira


"Sssttt... abi bicara apa? Umi mau pergi ke mana memangnya?" Tanya Maira dengan nada santai seolah tak terjadi apa - apa

__ADS_1


"Umi mau meninggalkan abi kan? Oleh sebab itu. Kau tak ada di rumah. Dan kau juga mengunci rumah. Hal itu kau lakukan agar aku tak bisa pulang dan menemuimu." Ucap Khoiruddin


Bersambung...


__ADS_2