Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Tapi Aku Percaya kepada Suamiku


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Jadi, kamu selama ini menyukai Mas Khoir?" Tanya Maira dengan nada lemas


"Mbak..." Ucap Anisa spontan


Maira masuk dan berjalan mendekati Anisa. Sedangkan Anisa tergugup di tempatnya. "Mbak... mbak katanya pulang. Kok di sini?" Ucap Anisa


"Mbak tadi emang pulang. Tapi botol susu Gafar ketinggalan. Jadinya mbak balik ke sini buat ngambil itu. Tapi apa? Mbak dapat kejutan yang nggak mbak sangka." Ucap Maira


"Maksud mbak bicara apa seperti itu?" Ucap Anisa yang tidak terima.


"Kamu masih tidak mengerti apa memang tidak mengerti?" Ucap Maira dengan nada penuh penekanan.


"Mbak. Mbak nyalahin aku? Denger ya mbak. Aku juga nggak tahu. Tiba - tiba... tiba - tiba semua terjadi begitu aja. Dan sebenarnya aku juga nggak merebut Mas Khoir dari mbak kan? Terus kenapa semua orang nyalahin aku. Aku juga manusia biasa yang nggak bisa ngontrol perasaan aku." Ucap Anisa


"Nggak bisa?" Tanya Maira


"Iya tentu." Jawab Anisa. "Apa mbak fikir hanya dengan mengatakan aku bisa menahan perasaan ini, maka akan hilang begitu saja? Nyatanya nggak mbak. Aku juga sudah berusaha selama ini. Tapi semakin aku menghindarinya semakin aku dekat dengannya." Ucap Anisa lagi.


Tidak ada respon apapun dari Maira, ia hanya diam menangis. "Nis maafin mbak. Mbak nggak bermaksud untuk menyalahkanmu." Ucap Maira dan ia terdiam untuk mengatur napasnya. "Baik. Kita lupakan saja masalah ini. Dan mbak minta kamu !untuk sementara ini kamu jangan menemui kami lagi. Terutama meminta antar Mas Khoir untuk mengantarmu ke makam almarhum suamimu!" Ucap Maira lagi


"NGGAK BISA MBAK! Mbak. Mbak jangan egois dong. Mbak ak-" Ucapan Anisa terpotong karena Pak Surya.


"Nisa! Kamu yang salah di sini. Harusnya kamu bersyukur. Mbakmu tidak dendam padamu." Ucap Pak Surya.


Setelah itu beliau mengambil tangan Anisa dan Maira, kemudian Pak Surya menyatukannya dan berkata. "Nak. Kalian ini bersaudara. Bapak sangat berharap agar kalian hidup rukun sampai tua. Jika salah satu dari kalian mengalami kesulitan, hendaknya saling membantu." Ucap Pak Surya


Anisa segera menarik tangannya dari genggaman itu. "Kalau begitu. Mbak Mai pisah aja sama Mas Khoir dan biarkan aku hidup bahagia bersamanya." Ucap Anisa

__ADS_1


"Nis kamu itu-" Ucapan Maira terpotong karena tiba - tiba Anisa tertawa dengan lantang seperti orang gila.


"HA HA HA. Mbak ngerti nggak sih. Semenjak Mas Omar pergi, aku merasa kesepian. Dan Mas Khoir ia, ia datang dan membuat semuanya berubah. Aku mulai mau makan dan tersenyum seperti sekarang. Awalnya aku tidak suka dengan dia. Tapi perlahan perasaan itu tumbuh semenjak aku dan mas Khoir sering menghabiskan waktu bersama. Jadi mbak." Ucap Anisa terhenti. Dan tiba - tiba ia berlutut juga menyatukan kedua tangannya ke depan.


"Mbak Anisa mohon. Anisa juga ingin hidup seperti mbak. Mbak! Mbak sayang kan sama Nisa?" Ucap Anisa dengan air mata yang telah membasahi pipi.


Maira menjawab dengan menganggukkan kepalanya. "Iya" Ucapnya lirih


"Kalau memang mbak sayang sama Anisa. Izinkan aku menjadi istri dari Mas Khoir!" Pinta Anisa


Duarrr..


Jantung Maira berdegup kencang. Lidahnya kini kelu untuk mengeluarkan sebuah kata. Dan air mata telah turun membasahi pipinya. "Pak!" Teriak Anisa membuat kesadaran Maira kembali


Terlihat Pak Surya napasnya tersengal - sengal. Maira dan Anisa panik. Maira dengan spontan memposisikan bapaknya untuk bersandar, sedangkan Anisa memilih untuk keluar dan memanggil Khoiruddin.


"Mas... mas..." Teriak Anisa yang baru memasuki rumahnya


"Mas! Bapak kambuh lagi. Cepat bawa ke rumah sakit" Ucap Anisa


"Iya. Aku titip anak - anak." Ucap khoiruddin dan segera berlari untuk membawakan mobil.


...


Di halaman Khoiruddin segera memakirkan mobilnya dan bergegas keluar. Ia langsung masuk ke dalam di mana istrinya berada. "Mas! Bapak mas!" Ucap Maira panik


"Iya... tenang ya sayang. Biar mas angkat bapak dan kita bawa bapak ke rumah sakit ." Ucap khoiruddin


Sedangkan Maira, ia segera memasukkan keperluan yang akan dibutuhkan bapaknya ke dalam tas. Sekitar 20 menit, Maira dan Khoiruddin sudah sampai di rumah sakit. Khoiruddin segera mengangkatnya dan meletakkan Pak Surya ke atas brankar.


Di ruang ICU Pak Surya sedang diperiksa. Setelah beberapa menit dokter keluar dan memberi kabar kepada Maira dan Khoiruddin. Maira merasa lega, karena pertolongan yang cepat kepada bapaknya.

__ADS_1


Malam telah tiba dan kini Maira tengah sibuk menyuapi makan Pak Surya. Sedangkan Khoiruddin sudah makan. "Mas! lebih baik kamu pulang. Anak - anak aku titipin kamu dulu ya." Ucap Maira


"Nak!" Panggil Pak Surya


"Iya pak?" Sahut Maira


"Kamu juga pulang saja. Bapak tidak apa - apa di sini sendiri." Ucap Pak Surya


"Nggak pak. Biar Mas Khoir aja yang pulang." Ucap Maira


"Tapi nak."


"Ssstt... bapak percaya saja sama Maira ya." Ucap Maira


"Mas hati - hati di jalan. Dan bilangin ke Anisa aku titip anak - anak." Ucap Maira


"Baiklah. Kalau butuh apa - apa hubungin mas ya." Ucap khoiruddin


Muacchh (Kecupan Khoiruddin di kening Maira)


"Iya mas." Ucap Maira


Khoiruddin bergegas untuk pulang ke rumahnya. Sementara Pak Surya masih keberatan dengan keputusan Maira.


"Nak kenapa kau membiarkan Khoiruddin pulang sendirian? Bapak tidak masalah jika sendiri di sini. Cepat nak, kejar suamimu dan ikutlah pulang bersamanya!" Ucap Pak Surya


"Tidak pak. Maira akan memilih di sini menemani bapak. Mas Khoir juga tidak masalah, jika Mai menemani bapak di sini." Ucap Maira


"Tapi nak. Bagaimana dengan Anisa? Apa kamu masih percaya padanya jikalau kau menitipkan suamimu padanya?" Ucap Pak Surya


"Tentu tidak pak. Mai sudah tidak percaya lagi pada Anisa. Tapi aku percaya pada suamiku." Ucap Maira dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2