
Selamat Membaca
...
Setelah keluar dari kamar Anisa. Maira segera kembali ke dapur untuk mengembalikan gelas bekas tadi dan mencucinya kembali. Namun langkah Maira terhenti tatkala ia mendengar suara yang memanggil nama Anisa.
"Jadi bagaimana caranya agar harta itu tidak jatuh pada Anisa?" Tanya seseorang yang ada di balik pintu kayu itu.
Deg...
Jantung Maira seakan terhenti tatkala ia mendengar sesuatu yang buruk mengenai adiknya. Tiba - tiba pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya. Apakah Anisa hidup bahagia di sini? Dan apakah Omar mencintainya selama ia hidup? Atau apakah ada orang yang tidak menyukai adiknya bahagia?
Semua pertanyaan itu terlintas begitu saja. Namun semua itu hilang ketika mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekat. Maira dengan cepat pergi dari sana dan mencari tempat sembunyi.
Tak... tak... tak... (suara sepatu)
Perlahan bayangan itu menampilkan sesosok manusia. Yang tidak lain dan tidak disangka sosok itu ternyata adalah Bram. Tapi mengapa? Pertanyaan itu muncul di benak Maira. Bukankah ia juga yang memilih Anisa untuk menjadi istri dari anaknya? Lalu mengapa ia sepertinya kurang menyukai Anisa?
Lamunan Maira membuat ia kehilangan jejak Pak Bram yang telah pergi entah kemana. Dan...
"Dorr.."
"Astagfirullahal'adzim." Ucap Maira dengan mengelus dadanya.
"Hahaha..." Tawa Khoiruddin
"Ihh... mas nyebelin ihh. Maira kaget tau." Ucap Maira
"hahaha... Habisnya kamu ngapain ngumpet - ngumpet kayak gitu?" Ucap Khoiruddin
Maira langsung membekap mulut Khoruddin dengan satu tangannya, lantaran tangan satunya tengah sibuk memegang nampan.
"Jangan keras - keras." Ucap Maira dengan nada pelan
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Khoiruddin
"Ikut aku. Nanti aku ceritakan." Ucap Maira
Dengan patuh Khoiruddin mengikuti istrinya. Namun ia harus sabar menunggu beberapa menit karena Maira ternyata membawanya ke dapur dan ia hanya diam menunggu istrinya yang sibuk mencuci gelas bekas susu tadi.
Setelah selesai, Maira segera menghampiri Khoiruddin. Ia menarik tangan suaminya. Ia membawa suaminya masuk ke dalam kamar tamu yang telah disiapkan untuk mereka.
"Ada apa sih sayang?" Tanya Khoiruddin
"Hufftt... jadi gini mas. Tadi itu kenapa Maira ngumpet, karena Mai tadi denger Pak Bram ngomong sama seseorang mengenai Anisa. Dan mas tau, apa yang diomongin?" Ucap Maira
Tentu saja Khoiruddin menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. "Enggak." Jawabnya
"Jadi, tadi itu. Pak Bram ngomongin gimana caranya agar harta itu tidak jatuh di tangan Anisa." Ucap Maira
"Jadi?" Tanya Khoiruddin yang masih tidak paham
Sedangkan Khoiruddin masih membeo karena tidak paham dengan perkataan istrinya. Maira masih belum mau menyerah, ia terus berusaha menjelaskan itu kepada suaminya. Namun hasilnya masih sama, karena kesal akhirnya Maira tidur duluan meninggalkan Khoiruddin yang masih sibuk dengan pikirannya.
...
Pagi hari di rumah Omar. Pak Bram menyuruh agar semua orang berkumpul di ruang tamu untuk membahas sesuatu. Semua orang nampak tegang, kecuali Anisa karena ia masih berduka.
Di hadapan semua orang. Kini duduk seseorang yang berpakaian setelan jas rapi dengan membawa map yang berisi dokumen.
"Selamat pagi semuanya." Ucapnya
"Selamat pagi." Jawab semua orang, namun ada juga yang hanya membalas ucapan itu dengan menganggukkan kepalanya.
"Perkenalkan saya Andika pengacara pribadi Pak Omar. Jadi begini, kedatangan saya di pagi ini untuk membahas mengenai warisan harta peninggalan dari Pak Omar." Ucapnya. Semua orang yang berada di sana memandang satu sama lain.
"Saya tahu kalian masih berduka. Namun semasa hidup Pak Omar, ia sudah mengatakan bahwa saat nanti beliau meninggal maka sehari setelah pemakaman saya harus segera mengurus masalah warisan yang telah ia buat dulu." Lanjut Andika
__ADS_1
"Ya silakan." Ucap Pak Bram
"Menurut surat wasiat yang ditulis oleh Pak Omar. Beliau mewariskan setengah dari hartanya, yaitu perusahaan, mobil dan rumah yang berada di kompleks A menjadi milik orang tuanya. Sedangkan setengahnya lagi, yaitu seluruh cafe dan juga cabangnya, rumah ini juga 5 kontrakan menjadi milik istrinya. Dengan-" Jelas Andika
"Mana bisa begitu?" Protes Pak Bram
Semua orang langsung melihat ke arah Pak Bram. Dan ucapan Andika terputus karenanya. "Ini tidak adil! Seharusnya itu warisan yang jatuh ke tangan istrinya adalah milik anak mereka. Namun karena mereka tidak punya anak, seharusnya harta itu tetap utuh kembali kepada kami." Jelas Pak Bram
Pengacara Andika menanggapi dengan senyuman. " Maaf, tapi ini surat yang membuat Pak Omar sendiri. Jadi, saya hanya sebagai penyampainya saja. Jikalau mau, anda bisa meminta menantu anda sendiri untuk menyerahkan warisan itu kepada anda." Jelas Andika
Tidak ada tanggapan dari Pak Bram. Merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Andika pamit undur diri dan akan mengurus mengenai surat wasiatnya. Selepas kepergian Andika, ruangan itu menjadi sedikit kacau.
"Bagaimana bisa. Putraku memberikan harta kepadamu sebanyak itu. Padahal kau hanya wanita cacat yang tidak bisa memberikan anak." Ucap Pak Bram
"Apa maksudmu mengatakan itu Bram?" Ucap Pak Surya dengan nada marah
"Kenapa kau marah Surya. Aku benar bukan? Anakmu ini sudah hampir 5 tahun pernikahan. Namun tidak juga memberiku seorang pun cucu. Dan anehnya lagi, saat aku meminta Omar untuk mencari wanita lain. Dia justru menolak dengan alasan mencintai anakmu ini. Jadi, jelaskan padaku sihir apa yang kau gunakan untuk memikat putraku!" Ucap Pak Bram
"Kau keterlaluan Bram. Anakku tidak mungkin melakukan hal - hal seperti itu. Untuk apa kau mengatakan itu? Untuk harta? Baik kalau kau mau. Ambil saja semua! kami tidak menginginkannya." Ucap Pak Surya
Pak Surya, Maira dan juga Khoiruddin marah karena dihina oleh keluarga Bram.
"Apa kau yakin?" Tanya Pak Bram dengan nada mengejek.
"Ya. Aku yakin." Ucap Pak Surya
"Ohh iya? Mungkin saja untuk saat ini kau mengatakan bahwa kau tidak menginginkannya. Tapi siapa tau kedepannya kau akan menuntutku dan mengatakan hal yang tidak - tidak." Ucap Pak Bram
"Tidak tentu tidak. Aku menjamin itu, aku juga masih mampu untuk menghidupi anakku." Ucap Pak Surya
"Dan aku pun akan membantu mertuaku. Jadi, biar Anisa menjadi tanggunganku Pak." Ucap Khoiruddin, Maira juga menggangguk tanda setuju.
Bersambung...
__ADS_1