Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Ya! Aku Mencintainya


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Di rumah sakit. Pak Surya segera mendapatkan penanganan. Untuk sementara Khoiruddin dan Maira menitipkan anak mereka kepada Anisa. Sedang Maira dan Khoiruddin pergi ke rumah sakit untuk mengantar Pak Surya.


Terdengar pintu terbuka. Dan dokter keluar dari ruang ICU. Dengan cepat Maira segera menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi bapak saya Dok?" Tanya Maira


"Begini bu. Kondisi penyakit Pak Surya sudah parah. Akan lebih baik jika Pak Surya sementara rawat inap dulu." Jelas dokter tersebut


"Lakukan yang terbaik untuk bapak saya dok." Pinta Maira


"Kami akan berusaha." Ucap dokter tersebut


"Apa kami sudah bisa menjenguknya dok?" Tanya Maira


"Silakan." Ucap Dokter tersebut


Setelah menjelaskan panjang lebar. Dokter itu pamit untuk memeriksa pasien yang lain. Maira dan Khoiruddin langsung masuk ke dalam dan melihat kondisi Pak Surya. Terlihat selang infus sudah terpasang di samping Pak Surya.


...


Karena 1 jam lagi Khoiruddin harus mengajar. Ia berpamitan kepada istrinya dan mertuanya.


"Iya hati - hati di jalan." Ucap Pak Surya


"Mas berangkat kerja ya dek." Ucap Khoiruddin


" Iya mas." Ucap Maira dan mencium tangan Khoiruddin. Yang kemudian dibalas dengan ciuman di kening Maira.


"Assalamualaikum." Ucap Khoiruddin


"Wa'alaikum salam." Jawab Maira dan Pak Surya bersamaan


...


Di rumah Maira. Anisa kini sedang menyiapkan Gafar untuk memakai seragamnya. Ia juga menyiapkan sarapan dan menyuapi Syifa. Terdengar suara deru mesin. Gafar dan Syifa berlari keluar untuk menyambut ayahnya itu.


"Ayah..." Teriak mereka dan berlari ke arah Khoiruddin


Khoiruddin menangkap kedua anaknya. Ia membawanya dalam gendongannya. Gafar berada di gendongan sebelah kanan, dan Syifa berada di gendongannya sebelah kiri. Tawa terdengar dari bibir mereka dikala Khoiruddin mencium pipi mereka.

__ADS_1


"Mas." Panggil Anisa


"Iya. Terima kasih sudah menjaga mereka." Ucap Khoiruddin


"Bukan hal yang besar. Bagaimana kondisi bapak?" Ucap Anisa


"Bapak sementara harus dirawat inap. Dan mbakmu sepertinya tidak bisa menjaganya karena kami sudah punya anak. Ehmm.. Bagaimana? Kamu bisa kan?" Tanya Khoiruddin


"ehmm... gimana ya mas. Bukannya Anisa nggak mau. Tapi Anisa kalau bau obat rumah sakit. Suka pusing dan mual, jadi takutnya nanti justru Anisa yang harus dirawat dan bukan merawat. Untuk Gafar dan Syifa aku ngak pa - pa kok kalo hanya untuk merawat mereka." Jelas Anisa


"Hm... baiklah kalau begitu. Ayo Gafar kita berangkat sekarang." Ucap Khoiruddin kepada Gafar


Khoiruddin segera menurunkan Syifa dan Gafar. Setelah itu Gafar mengambil tas ranselnya dan segera masuk ke mobil. Mobil pun berjalan dan Syifa masih di depan pintu untuk melambaikan tangannya.


...


Sudah 1 minggu Pak Surya dirawat inap. Hari ini ia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dokter juga memberikan nasihat dan obat. Sedangkan Maira mendengarkan dengan saksama.


Di rumah sudah ada cucu - cucu yang menyambut kedatangan eyangnya. Pak Surya tersenyum melihat wajah lucu dari cucunya. Ia mengangkatnya untuk duduk di kakinya karena kini ia berada di kursi roda.


"Gafar! Syifa! Ayo turun. Eyang masih sakit." Ucap Maira


"Sudah tidak apa - apa. Aku juga rindu pada mereka." Ucap Pak Surya.


Selama 1 minggu itu, Anisa mengurus semua kebutuhan Khoiruddin dan juga anak - anaknya. Tidak heran jika mereka terlihat sangat dekat.


"Dek. Lebih baik kau buatkan dulu teh anget untuk bapak." Ucap Khoiruddin


"Iya mas." Ucap Maira dan Anisa bersamaan.


"Bukan kamu sayang. Kamu pasti lelah. Biar itu Anisa yang membuat." Ucap Khoiruddin


"Ohh baik mas." Ucap Maira


Anisa segera ke dapur untuk membuat teh. Sedangkan di kamar Khoiruddin dan Maira masih menemani Pak Surya berbincang. Hingga kedatangan Anisa membuat semua orang terdiam.


Maira memberikan teh tersebut ke Pak Surya dan membantunya untuk minum. "Ahh... alhamdullah, terima kasih nak." Ucap Pak Surya


"Ahhh... nggak ini tuh punya adik." Teriak Syifa hingga suaranya terdengar di kamar Pak Surya


"Pak. Mai tinggal dulu ya. Mau lihat anak - anak." Ucap Maira


"Iya. Tapi jangan marahi mereka. Mereka masih kecil." Ucap Pak Surya

__ADS_1


Tinggallah mereka bertiga di ruangan ini. "Pak gimana masih ada yang sakit? Maaf ya pak, Anisa nggak pernah lihat bapak. Bapak kan tahu kalau Anisa ke rumah sakit kayak apa." Ucap Anisa


"Iya bapak tahu itu. Mangkanya itu. Bapak minta supaya mbakmu saja yang menemani bapak." Ucap Pak Surya


"Makasih juga ya mas. Sudah ngebantu bapak." Ucap Anisa


"Tidak perlu berterima kasih. Bapak juga adalah bapakku. Sudah tugasku untuk membantunya." Ucap Khoiruddin


"Ehmm... nanti kalau butuh apa - apa. Mas bisa panggil Nisa. Nisa kan sekarang tahu apa yang mas suka dan nggak. Jadi nggak usah sungkan." Ucap Anisa


"Hem.. iya." Ucap Khoiruddin. "kalau begitu saya tinggal ke depan dulu ya pak. Mau lihat Mai dan anak - anak." Ucap Khoiruddin lagi


"Iya ya sana." Ucap Pak Surya


"ehm.. mas tunggu." Ucap Anisa dengan memegang tangan Khoiruddin


"Ada apa?" Tanya Khoiruddin


"Ehmmm... mas kalau butuh pijatan bisa nanti malam Anisa ke sana." Ucap Anisa


"mmm nggak usah. Sekarang kan ada Maira." Ucao Khoiruddin


"Tapikan mas-" Ucap Anisa terpotong


"Udah ya kalau nggak ada yang penting aku pergi dulu." Ucap Khoiruddin


"Ck..." Anisa berdecak kesal.


"Nisa! Bapak mau tanya dan kamu jawab dengan jujur!" Ucap Pak Surya


"Tanya apa pak." Ucap Anisa


"Bapak lihat tatapan kamu ke Khoir itu beda. Ada apa kamu dengannya?" Tanya Pak Surya


"Bapak ngomong apa sih. Masak ada apa - apa antara Anisa dan Khoiruddin." Ucap Anisa


"Nis. Bapak tanya sekali lagi sama kamu" Ucap Pak Surya


"_"


"Nis. Nisa!" Ucap Pak Surya


"Iya pak. iya Nisa ngaku. Nisa ngaku kalau Anisa jatuh cinta sama suami dari kakak Anisa sendiri. hikss." Jawab Anisa

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2