
Selamat Membaca
...
Pukul 11.12 Anisa terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia meregangkan badannya. Setelah nyawanya terkumpul ia langsung mengambil ponselnya dan membuka akun media sosialnya.
Ia melempar ke sembarang arah ponsel itu, namun masih di atas kasur. Terlihat ekspresi sebal di raut wajahnya.
"ck... pake di unggah segala sih. Bikin semua orang iri aja." Ucapnya. "Seandainya saja." Ucapnya dan kemudian ia lanjutkan dengan melamun.
Tok... tok... tok...
"Sa! Anisa! Keluar! Bapak tahu kamu sudah bangun ya." Ucap Pak Surya
Anisa tersadar dari lamunanya dan segera membuka pintunya. "Ada apa sih pak? Berisik banget dari tadi." Ucap Anisa
"Ada apa tanya kamu! Sekarang jawab bapak! Tadi malam kamu ngapain aja di rumah mbakmu?" Ucap Pak Surya
"Ya nginep lah pak. Bukannya mbak sudah bilang sama bapak. Kalo Anisa disuruh nginep disana karena hujannya deras. Gitu aja masih nanya." Ucap Anisa dan langsung menutup pintu, namun ditahan oleh Pak Surya membuat Anisa geram.
__ADS_1
"Ada apa lagi toh pak?" Tanya Anisa
"Bapak nggak percaya ya! Sekarang jawab dengan jujur! Kamu tadi malam nggak melakukan hal aneh kan sama kakak iparmu itu? Inget itu suami mbakmu." Ucap Pak Surya memperingatkan
"Emang kalo ngapa - ngapain kenapa pak? Lagian mas Khoir juga nggak nolak kok." Ucap Anisa membuat Pak Surya naik pitam.
Plakk..
Pak Surya menampar Anisa dengan keras. Hingga pipinya membekas merah.
"Pak... kenapa nampar Anisa? Emang Anisa salah apa pak?" Tanya Anisa sambil memegangi pipinya yang merah.
"Salah apa? Salah kamu itu menggoda suami orang. bapak nggak pernah ngajarin itu sama kamu nduk. Sadar nduk sadar. Orang itu suami mbakmu masih banyak laki - laki lain di luar sana yang lebih maco yang lebih ganteng dari Khoiruddin." Ucap Pak Surya
Mendengar ucapan Anisa barusan membuat raut wajah Pak Surya berubah. Tampak wajah penyesalan karena telah menampar putrinya itu. Ia berniat untuk meminta maaf kepada putrinya dengan pelukan. Namun ia urungkan karena teringat kejadian tadi pagi, dimana ia melihat putrinya mencium pipi kakak iparnya.
Ditatapnya nyalang wajah Anisa. Membuat sang empunya merasa takut. Namun Anisa mencoba menyembunyikan raut ketakutannya.
" Oh ya?" Ucap Pak Surya
__ADS_1
"Iya... bapak mah. Masak sama anak sendiri nggak percaya?" Ucap Anisa
"Kalo bapak jawab bapak nggak percaya sama kamu, gimana?" Ucap Pak Surya seolah menantang
"Ishh bapak mah emang pilih kasih." Ucap Anisa dan bermaksud untuk pergi. Namun tangannya dicekal oleh bapaknya.
"Kalo gitu jelasin yang tadi pagi!" Ucap Pak Surya
"Tadi pagi? Kenapa? Ada apa?" Tanya Anisa bingung
" Tuh kan... Kamu pura - pura nggak inget. Gini kamu bilang bapak harus percaya sama kamu?" Ucap Pak Surya
Anisa berpikir keras mengenai hal apa yang dibicarakan bapaknya. Namun sekeras apapun ia mengingat ia tidak menemukan keanehan dan tidak mengerti maksud pembicaraan dari bapaknya.
Mengetahui anaknya kebingungan. Pak Surya membantunya mengingatnya lagi.
"Tadi pagi kamu cium pipinya Khoiruddin di mobil. Gimana sudah ingat?" Ucap Pak Surya
Seketika Anisa ingat mejadian tadi pagi. Dan reaksinya adalah mulutnya menganga, namun ditutupi oleh kedua tangannya. Ia tidak menyangka Bapaknya akan melihat hal itu.
__ADS_1
"Itu.. itu..."
Bersambung...