Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Adik yang baik?


__ADS_3

Selamat Membaca


....


Pintu terbuka dan senyuman di wajahnya kini memudar seketika. Terlihat mata Maira berkaca - kaca melihat pemandangan di depannya. Terlihat suaminya dalam keadaan telanjang dada dan di sebelahnya dipeluknya dengan erat, Anisa juga dalam keadaan yang sama dengan Khoiruddin. Terlihat karena selimutnya tidak menutupi seluruh tubuh mereka.


Maira terisak dan menangis sesegukan. Air mata terus membasahi pipinya. Tanpa ia sadari, suara tangisannya membangunkan dua orang itu.


Khoiruddin membuka matanya dengan perlahan. Ia masih belum sadar penuh. Matanya menangkap istrinya tengah menangis di samping pintu. Masih dalam posisi mengumpulkan nyawa dan meregangkan otot - ototnya, ia bertanya "Kenapa menangis mi?" kepada Maira.


Bukannya menjawab yang ada Maira lebih menangis. Bingung karena tidak mendapat jawaban. Khoiruddin beranjak dari tempat tidurnya. Di situlah ia menyadari bahwa dirinya dalam keadaan telanjang bulat. Dengan perlahan matanya menelusuri dari bawah kakinya menuju tempat tidurnya.


Matanya langsung melotot tatkala ia melihat Anisa yang tidur di atas kasur dan dalam keadaan yang hampir sama dengan dirinya. Khoiruddin memutar memorinya, ingatan demi ingatan berputar di otaknya.


Ia langsung menoleh ke arah istrinya yang masih menangis itu, berusaha untuk memeluknya. Namun yang ada , Maira malah menjauh. Dengan sedikit paksaan akhirnya Khoiruddin berhasil memeluk istrinya. Dan Maira juga sudah tidak melawan seperti sebelumnya.


Kesempatan itu, Khoiruddin gunakan. Ia berusaha menjelaskan tentang apa yang terjadi semalam.


POV Khoiruddin~


"Ayolah mas... mas kan cuma bilang kalo kita tak bisa berhubungan badan. Tapi ini cuma makan aja, nggak masalah juga, kan aku juga istri kamu mas . Lagi pula mas kan tinggalnya sama mbak Maira. Jadi dibujuk nanti juga bisa." Ucap Anisa


"Benar juga. Ya sudah kita makan dulu." Ucap Khoiruddin


Khoiruddin menuruti keinginan Anisa, sebelum ia mengatakan niatnya yang sudah ia pikirkan sejak kemarin. Khoiruddin tidak makan banyak pada malam itu. Bahkan Anisa selalu menawari Khoiruddin untuk menambahkan beberapa lauk. Namun Khoiruddin menolaknya.


Di meja makan itu. Khoiruddin juga merasa bahwa waktu berputar sangatlah lama. Ia ingin sandiwara makan malam ini segera selesai dan ia akan pergi membujuk istrinya itu. Namun sebelum itu, ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Anisa terlebih dahulu. Karena semua masalah dimulai dari hubungan antara dirinya dan Anisa.


Sepanjang waktu makan. Anisalah yang paling banyak bercerita. Sedangkan Khoiruddin, ia hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan.


Akhirnya, setelah lama Khoiruddin paksakan makanan masuk ke dalam mulutnya. Akhirnya makanan yang ada di piringnya itu habis. Setelah meneguk air untuk membasahi tenggorokannya, dengan tatapan yang mendalam melihat ke mata Anisa.

__ADS_1


Anisa yang ditatap seperti itu oleh Khoiruddin, tanpa terasa pipinya memerah karena malu. Khoiruddin mengambil napas berat sebelum memulai pembicaraan.


"Hufftt... Anisa ada yang ingin aku sampaikan." Ucapnya


"Ya? Katakan saja!" Ucap Anisa


"Jadi, ini tentang kita." Ucapnya dengan jeda. "Hubungan kita sepertinya tidak bisa dilanjutkan. Alangkah lebih baik, bila kita akhiri malam ini." Sambungnya lagi


"Apa." Gumam Anisa


"Maaf dan mungkin maafku juga tidak diperlukan. Toh kita juga sudah tahu apa konsekuensi dari hubungan kita ini sebelum mengijab kabul kemarin." Ucap Khoiruddin lagi


"Jadi?" Tanya Anisa


"Jadi, malam ini aku talak kamu Anisa. Kita sudah bukan suami istri lagi. Maaf." Ucap Khoiruddin.


Akhirnya Khoiruddin merasa lega telah mengakhiri satu masalahnya. Tinggak masalah membujuk Maira saja, dan ia berencana untuk memberikan kejutan malam ini. Ia bahkan tersenyum membayangkannya.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Aku hanya ingin tanya. Rencana apa yang kamu siapkan untuk membujuk mbak Mai? Siapa tau aku bisa bantu kan." Ucap Anisa


Awalnya ia ragu. Apakah memberitahu atau tidak? Namun setelah dipikir - pikir. Tidak ada salahnya juga ia meminta bantuan kepada Anisa. Toh ia juga adik dari istrinya sendiri.


"Jadi, aku tahu pasti Maira saat ini memilih untuk tidur di kamar anak - anak. Aku akan ke sana dan mengangkatnya ke kamar kami. Dan saat aku menggendongnya nanti, dapat dipastikan dia akan terbangun. Di dalam kamar kami itulah nanti aku akan mempersiapkan kejutan untuknya juga untuk memberitahunya bahwa kita sudah tidak ada hubungan lagi, karena aku sudah menalakmu tadi." Khoiruddin membeberkan rencananya


"Baiklah. Itu ide yang bagus. Aku akan membantumu untuk mempersiapkan kamar itu." Ucap Anisa


"Baiklah. Kalau begitu aku mau ke atas dulu untuk lihat apakah ia sudah tidur atau belum." Ucap Khoiruddin


"Ehm.." Jawab Anisa

__ADS_1


Dengan langkah semangat, Khoiruddin menuju ke lantai atas. Di mana kamar kedua anaknya berada. Dengan pelan ia membuka pintunya agar tidak terdengar suara decitan.


Pintu terbuka sedikit, Khoiruddin mengintip di sela itu. Ia masih mendengar suara tangis Maira yang ditahan. Hal itu membuat hatinya teriris. Karena tidak tahan mendengar tangisan Maira. Khoiruddin menutup kembali pintu itu dengan pelan. Ia lalu berjalan menuju kamarnya.


Di kamarnya sudah ada Anisa yang sibuk menghias ruangan itu. Sebenarnya tidak ada yang istimewa di kamar itu. Hanya saja, Anisa membersihkan kasurnya dan selimutnya juga masih rapi dari pagi. Anisa hanya memasang beberapa lilin yang mengeluarkan aroma yang harum untuk menambah kesan romantis. Juga ia memasang kelambu putih yang cantik.


Khoiruddin berjalan menghampiri Anisa. Dan memperhatikan gerak - gerik Anisa. Di tatap seperti itu, tentu saja membuat Anisa menjadi salah tingkah.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Anisa yang mulai merasa tidak nyaman.


"Maaf! Aku tidak bermaksud yang aneh - aneh. Aku hanya ingin melihat dirimu menyiapkan semua ini." Ucap Khoiruddin


"Oohh..." Jawab Anisa dan ia melanjutkan aktivitasnya lagi.


"Ehmm... ngomong - ngomong terima kasih karena sudah mau membantu." Ucap Khoiruddin


"Tenang aja. Ini aku lakukan juga untuk kakakku." Ucap Anisa


"Hemm... kau adik yang baik." Ucap Khoiruddin


"Aku? Tidak juga." Ucap Anisa


Bersambung...


Bagaimana dengan bab ini? Masih kurang greget?


Bab Selanjutnya : Tiba - tiba saja kepala Khoiruddin terasa berat. Semua benda berputar - putar, hingga akhirnya hanya kegelapan yang ia ingat...


Jangan lupa Like, komen dan kasih bunga juga boleh🥺


Jika ada yang punya ig. Bisa nih follow ig author penduduk__bumi

__ADS_1


Terima kasih. Sampai jumpa di bab selanjutnya👋


__ADS_2