Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Lebih Cinta Mana?


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Di kantin TPA. Siti tengah menikmati makanan sotonya seorang diri. Tiba dari arah belakang datang sosok Khoiruddin.


"Loh nduk. Kok kamu sendiri. Ke mana temanmu?" Tanya Khoiruddin yang langsung mendudukkan bokongnya di kursi yang telah disediakan.


"Nggak tahu." Jawab Siti singkat


Sruuttt...


Ia menyeruput kuahnya dengan suara yang keras. Terlihat sepertinya sotonya sangat enak. Bagi orang yang memerhatikan cara Siti makan.


Tak lupa, Khoiruddin juga memesan makanan untuknya. Bahkan ia juga menawari Siti untuk tambah jika mau.


"Nggak Abi. Sudah kenyang." Tolak Siti


Tak lama kemudian. Pesanan Khoiruddin pun datang. Jadi mereka makan bersama dalam satu meja ini. Karena tadi Siti makan duluan. Jadi makanan Siti lebih dulu habis dari Khoiruddin. Ia tak langsung beranjak pergi dari sana. Siti justru lanjut memakan camilan kerupuk yang tersedia di atas meja.


Oohhh yaa... berita tentang malam itu. Siti sungguh menyesal karena telah bercerita kepada teman sebangkunya. Kini ia menjadi buronan untuk diwawancarai apakah itu benar. Dan bagaimana kronologinya. Oleh karena itu ketika Khoiruddin duduk satu meja dengannya, ia membiarkannya. Setidaknya tidak ada yang berani mengganggunya untuk saat ini.


"Aarrgghhh... alhamdulillah!" Ucap Khoiruddin ketika selesai menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Udah abi? Sekalian ini bayarin kalo mau hehe." Ucap Siti


"Eehmmm... apa aja tadi?" Tanya Khoiruddin


"Soto satu, es teh satu, kerupuk 3, sama tahu isi 2." Jawab Siti


"Badan kecil gini. Makannya banyak ya." Canda Khoiruddin


"Hehehe..." Jawab Siti cengengesan


Setelah selesai membayar semuanya. Khoiruddin kembali duduk di hadapan Siti.


"Kenapa temen - temenmu tuh? Dari tadi kok lingak - linguk. Ada apa toh?" Tanya Khoiruddin


"heehhh..." Ucap Khoiruddin


"Ehhmmm... abi! Aku boleh nanya nggak?" Tanya Siti


"Itu udah nanya. Mau nanya apa emang. Slurrrppp..." Ucap Khoiruddin


"Abi kok nggak cerai aja sih sama Tante Maira? Kan kasihan tante Mai nya." Tanya Siti


"Huffttt... sebenarnya dulu tuh abi udah bilang kalo mau cerai sama Umi. Tapi pada waktu, yang ada Umi malah teriak - teriak dan imbasnya yang kena anak - anak. Abi nggak tega, apalagi anak - anak juga nggak mau ikut abi. Jadi ya gitu deh, abi nggak cerai sama umi." Jelas Khoiruddin

__ADS_1


"Ooohhh... abi masih cinta nggak sama tante Mai?" Tanya Siti


"Ehhmmm... sebenarnya abi sendiri tuh nggak ngerti apa keinginan abi gitu loh. Dibilang nggak cinta! Ya cinta tentu saja. Tapi kalo seperti pas pacaran! Ya beda lagi." Jawab Khoiruddin


"Kalo antara Tante Mai sama Tante Nisa. Lebih cinta mana?" Tanya Siti


"Lebih cinta....... nggak keduanya!" Jawab Khoiruddin


"Hah! Kok nggak keduanya?" Ucap Siti


"Ya emang nggak. Cinta abi itu buat anak abi. Dan Zahra adalah kesayangan abi. Abi paling nggak tahan kalo Zahra marah sama abi." Ucap Khoiruddin


"Iya kah? Tak meyakinkan...pun." Ucap Siti meremehkan


"Nggak percaya ya sudah. Gitu aja kok repot. Kamu ini nanya begituan ngapain? Yang lain pada nggak berani. Ini! Kamu! Cuma kamu yang berani." Ucap Khoiruddin


"Loh... katanya udah dianggap anak sendiri? Kok gitu... isshh ngambek ahhh..." Ucap Siti dan beranjak pergi dari sana


Sementara Khoiruddin menertawakan tingkah laku Siti. Namun, sepeninggal Siti. Khoiruddin menjadi diam dan merenung. Ia mengingat kembali pertanyaan Siti. Masih cinta kah ia kepada istrinya? Atau salah satunya? Atau memang tidak keduanya? Karena jujur rasanya hampa sekali di antara mereka berdua. Hanya putrinya Zahra yang dapat mewarnai hidupnya saat ini.


"Abi sayang kamu nak!" Ucapnya pada sebuah foto yang berada di layar ponselnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2