
Selamat Membaca
...
1 bulan sudah kejadian itu berlalu. Hubungan antara Maira dan khoiruddin masih sama seperti terakhir bahkan lebih parah. Mereka bahkan juga sudah jarang berbicara satu sama lain.
Namun mereka berdua masih berusaha menutupi kerenggangan mereka di hadapan anak - anak mereka. Seperti pagi ini. Maira dengan senyuman mengambilkan nasi dan menaruhnya di piring Khoiruddin. Dan Khoiruddin membalas senyuman Maira juga mengucapkan terima kasih.
...
Selesai makan, Gafar akan pergi ke sekolah di antar abinya pagi ini. Tapi Khoiruddin berhenti sejenak di rumah Pak Surya yang kini ditinggali oleh Anisa.
Khoiruddin masuk ke dalamnya dan keluar dengan bungkusan di tangannya. Sedangkan Gafar, ia hanya diam di mobil dan menunggu abinya. Setelah meletakan di kursi belakang. Barulah Khoiruddin menjalankan kembali mobilnya.
...
Pukul 10.30 Maira dan juga Syifa sudah berada di halaman TK Gafar. Ia di sana duduk di kursi taman menemani Syifa yang sedang makan es krim.
Tak lama bel berbunyi. Para siswa dan siswi berlarian keluar. Maira celingak - celinguk mencari Gafar.
"Umi!" Panggil Gafar
Maira menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya mengembangkan senyuman melihat putranya berlari ke arahnya.
happ...
Tangkap Maira dalam pelukannya.
"Syifa jua mau." Ucapnya dengan manja
Maira merentangkan tangannya lebar, sehingga kedua anak itu bisa memeluk ibunya.
__ADS_1
...
Sampai di rumah. Maira segera menyuruh Gafar untuk mengganti pakaiannya. Namun Gafar justru tak mendengarkannya. Ia kini justru bermain lumpur dan membuat seragamnya kotor.
"Ya ampun Gafar! Tadi kan umi bilang ganti baju dulu. Lihat kan kotor nih!" Ucap Maira
Gafar yang dimarahi oleh Maira menangis kencang. Mau bagaimanapun juga, Gafar hanyalah anak kecil. Di tambah lagi sikap Maira yang menjewer telinga Gafar membuatnya semakin menangis.
"Kok tambah nangis. Udah sana masuk ganti baju." Ucap Maira
"Ada apa ini?" Tanya Khoiruddin dari belakang
"Ini loh bi. Tadi umi udah bilang ganti baju dulu. Malah main. Lihatkan sekarang jadi kotor tuh." Ucap Maira
"Iya tapikan nggak harus dijewer juga anaknya. Namanya aja anak - anak." Ucap Khoiruddin
"Terserah! Anak sama abi sama aja!" Ucap Maira kesal
"Sudah ya cup... sini sama abi!" Rayu Khoiruddin
Karena sudah jam makan siang. Khoiruddin mengajak kedua anaknya untuk turun dan makan. Tapi setelah sampai di ruang bawah. Mereka melihat pertengakaran antara Maira dan Anisa.
"Mbak nggak bisa gitu dongg! Mas Khoir juga suami aku. Mbak nggak bisa ngelarang aku untuk bertemu dengannya." Ucap Anisa
"Adik setan kau ini! Ehh... inget ya! Mas Khoir itu udah nyerein kamu!" Sarkas Maira
Mereka tidak hanya beradu mulut. Tapi juga beradu fisik, sepertu saling menjambak dan saling menampar. Tak jarang Maira juga sering melempar barang ke arah Anisa.
Plakkk....
Maira menampar pipi Anisa hingga membuatnya berwarna merah. Kedua anak yang berada di sana mengeratkan pelukannya pada abinya.
__ADS_1
Namun tiba - tiba Khoiruddin melepas pelukan kedua anaknya dan berjalan menuju Maira.
Plakk...
Tampar Khoiruddin kepada Maira.
"Kenapa denganmu akhir - akhir ini? Kau begitu brutal. Lihatlah, bahkan kau hampir membunuh adikmu sendiri dengan melempar meja itu padanya. Kau sering sekali marah tanpa alasan yang jelas. Dan aku muak dengan itu. Cukup kesabaranku sudah habis Mai!" Ucap Khoiruddin
"Sabar? Kamu bilang kamu sabar? Mas dengerin ya. Kamu bohongi aku. Aku masih sabar! Kurang sabar apalagi aku sama kamu. Di mana kamu memilih rujuk kembali sama dia. Dan pada bulan kemarin. Kau ingat bulan lalu kan? Kau dan dia tidur bersama. Dan aku masih kurang sabar apa lagi Hah?" Bentak Maira
"Rujuk? Siapa yang bilang rujuk?" Tanya Khoiruddin
Sontak dia langsung menoleh ke arah Anisa dan menatap tajam orang tersebut. Dan Anisa, ia menundukan kepalanya takut.
"Hufftt... sudah! Sepertinya ada kesalah pahaman di sini. Lebih baik kita bicarakn semuanya dengan baik - baik. Jangan bertingkah seperti anak kecil." Ucap Khoiruddin
"Aku tidak sudi! Sudah cukup kalian berdua membohongiku. Aku tidak akan terjebak lagi. Sudah... sudah cukup." Ucap Maira lalu pergi dari sana.
"Tap- Aishhh.... sudahlah. Aku juga lelah!" Ucap Khoiruddin lalu pergi juga dari sana
Tinggallah Anisa dan kedua keponakannya. Anisa menghampiri mereka dan menenangkan mereka.
"Sudah cup ya... abi sama umi cuma bertengkar kecil. Nanti juga baikan. Sini main aja sama bibi." Ajak Anisa
"Nggak mau! Bibi jahat! Bibi selalu bikin abi sama umi bertengkar. Bibi jahat! Bibi jahat!" Ucap Gafar
"Ehhh..."
"Ayo. Kita pergi dari sana. Ada bibi jahat." Ajak Gafar pada Syifa
Mereka berdua pergi menuju kamar ibunya meninggalkan Anisa seorang diri.
__ADS_1
"Yahh... beginilah akhirnya! Sendiri lagi." Gumam Anisa
Bersambung...