
Selamat Membaca
...
Malam harinya, Maira sudah tidur bersama kedua anaknya. Ia juga tidak memperdulikan apakah Khoiruddin pulang atau tidak. Yang jelas kini ia sudah masuk ke ranah mimpi dan mengistirahatkan hati, pikiran, dan fisiknya.
...
Pagi harinya Maira beraktivitas seperti biasa. Ia memasak, dan menyiapkan anaknya untuk berangkat sekolah. Barulah terakhir suaminya.
Ketika memasuki kamarnya. Lagi - lagi pemandangan Khoiruddin dan Anisa tidur bersama di kamarnya. Cukup sudah! Maira muak dengan kelakuan mereka berdua.
"Bangun kalian berdua! Dasar Bajingan!" Maki Maira
Disiramlah mereka berdua dengan air. Membuat mereka terlonjak kaget.
Byurr...
"Ada apa lagi sih? Masih pagi juga!" Ucap Khoiruddin
"Ada apa? Ada apa? Enteng sekali kau berbicara! Lihatlah dua pendosa berada di kamarku. Aku tidak rela. Cukup Mas! Cukup!" Ucap Maira
"Enak saja kau mengataiku pendosa! Aku tidak akan melakukan semua ini. Jika saja kau tidak bersikap seperti ini padaku." Jawab Khoiruddin
"Sikap? Sikapku yang bagaimana? Kurang baik apa lagi aku pada kalian?" Tanya Maira
"Kau masih bertanya? Sekarang coba kau pikir lagi. Tiada hari tanpa kau emosi. Kau setiap saat marah padaku bahkan tanpa alasan yang jelas. Lihatlah Anisa, dia justru melayaniku disaat aku tertekan karenamu. Salahkah aku memilihnya?" Jawab Khoiruddin
"Jadi... kau kembali padanya?" Gumam Maira
Air mata menumpuk menjadi genangan yang jika ia kedipkan matanya. Maka akan jatuh dan terkesan Maira sedang menangis.
'Tidak! Aku tidak boleh menangis lagi untuk mereka!' Batin Maira
"Iya. Kau dengar itu. Jadi terserah kau mau melakukan apa." Ucap Khoiruddin dan pergi dari sana
Anisa pun sama. Ia mengejar Khoiruddin meninggalkan Maira yang tengah menangis dalam kesendirian.
__ADS_1
"hikss... arrgghhh... hhhaaa... hhhhaaa... hikss... Mereka jahat. Mereka kejam. Bapak..." Rintih Maira
Sedangkan Di bawah. Anisa menyangkal tangan Khoiruddin.
"Mas" Panggilnya
"Hem... ada apa?" Tanya Khoiruddin
"Apa benar kau akan menceraikannya?" Tanya Anisa
"Ya benar. Setelah suratnya keluar nanti. Kita menikah dan meresmikannya. Kau senang bukan?" Ucap Khoiruddin
"Tapi mas... Aku tidak ingin kau menceraikan Mbak Maira mas. Pikirkan anak - anak. Kasihan mereka, jika harus melihat abi dan uminya berpisah. Lagipula aku suka hubungan kita yang seperti ini. Aku tidak diresmikan dan apapun itu." Ucap Anisa
Alis Khoiruddin mengkerut mendengar penjelasan Anisa.
"Kau kerasukan apa? Mana ada wanita yang suka dijadikan selir seperti ini? Ada - ada saja kau ini." Ucap Khoiruddin
"Ada mas. Aku bersedia. Cukuplah orang - orang kampung ini tahu bahwa status kita apa. Untuk harta aku tidak butuh itu. Semua itu aku sudah memilikinya. Biar semua peninggalanmu ini menjadi hak milik untuk Mbak Mai dan anak - anakmu. Aku hanya butuh dirimu tidak lebih. Dan juga apakah kau sudah yakin dalam lubuk hatimu yang paling dalam. Kau akan menceraikan Mbak Mai?" Ucap Anisa
Khoiruddin diam. Terenung akan ucapan terakhir Anisa. Jujur ia hanya asal ceplos saja. Hati dan pikirannya sedang kalut tadi. Sesungguhnya dalam lubuk hatinya yang palimg dalam. Ia ingin memperbaiki hubungannya seperti sedia kala.
"Diammu berarti iya mas. Kau tidak perlu menceraikannya. Oke!" Ucap Anisa
"Aku masih tidak mengerti!" Ucap Khoiruddin
"Sudah! Intinya kau tidak perlu bercerai, oke! Sekarang pergilah mandi dan aku akan menyiapkan pakaianmu." Ucap Anisa
...
Setelah semua selesai dan berkumpul untuk sarapan. Maira turun ke bawah dalam keadaan kusut.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu mas?" Tanya Maira
"Mai aku tadi sedang kalut. Bisakah kita bahas nanti saja? Sepulang aku kerja. Aku nanti pulang sekitar ba'da dhuhur." Ucap Khoiruddin
"Tidak bisa mas. Kau harus memutuskannya saat ini juga." Ucap Maira
__ADS_1
"Tapi... argghhh... baiklah. Dengar sikapmu belakangan ini yang membuatku tidak nyaman bila di ddekatmu. Dan Anisa datang membawa kenyamanan itu. Jadi-" Ucapan Khoiruddin dipotong oleh Maira
"Jadi, keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan tinggal di rumah peninggalan bapak saja. Silakan kalian berdua tinggal di sini dan berbahagialah." Ucap Maira
"Tapi aku belum selesai menjelaskan!" Ucap Khoiruddin
"Tidka perlu dijelaskan lagi mas. Aku sudah mengerti apa maumu." Ucap Maira
"Dasar keras kepala. Baiklah jika itu maumu. Silakan bereskan barang - barangmu!" Ucap Khoiruddin
Luluh lantak sudah pertahanan Maira. Ucapan terakhir suaminya begitu menusuk ke dalam hatinya. Ia segera membereskan barangnya.
"Bagaimana ini mas?" Tanya Anisa
"Yah... begitu!" Jawab Khoiruddin
"Kok mas cuek begitu sih. Mbak Mai mau pergi dari sini. Dia juga bawa anak - anak tuh mas." Ucap Anisa
"Biarkan aja. Toh rumahnya hanya 3 menit dengan jalan kaki." Jawab Khoiruddin, setelah itu ia langsung mengakhiri kegiatan makannya dan meminum air. "Aku pergi dulu. Hati - hati di rumah." Pamit Khoiruddin
"Tapi mas-" Ucap Anisa
"Aasalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam." Jawab Anisa
Setelah itu terdengar suara mobil dan tak lama suaranya semakin menjauh dan hilang. Maira turun dari atas dengan koper besarnya. Terlihat Maira sedikit kesusahan membawa koper itu.
Anisa berniat untuk membantunya. "Biar Nisa bantu mbak." Ucap Anisa
"Tidak usah. Aku tidak butuh bantuanmu!" Tolak Maira mentah - mentah
Akhirnya Anisa hanya diam menyaksikan Maira kesusahan membawa koper itu hingga ke bawah. Juga Gafar dan Syifa berada di kedua sisinya.
"Nis! Kini kau pemenangnya. Mbak menyerah hikss... silakan kau berbahagia. Assalamualaikum!" Ucap Maira
Dan mereka bertiga keluar dari rumah itu meninggalkan Anisa di dalam rumah itu sendirian. Dan dengan perasaan campur aduknya.
__ADS_1
"Bukan ini yang ku inginkan. Hufftt..." Gumamnya. "Aarghh... sudahlah. Semua sudah terjadi." Ucapnya lagi
Bersambung...