Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Tidak Adil?


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Mai! Sayang! Kau jangan percaya ucapannya! Dia berbohong... ku mohon... ku mohon percayalah padaku" Ucap Khoiruddin


"hikss... hikss..."


Tidak ada jawaban ya ataupun tidak keluar dari mulut Maira. Ia saat ini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan terdengar suara isakan terdengar.


"Mai sayang!" Ucap Khoiruddin dengan nada yang lembut


"Huffttt... hah..." Maira menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Mas! Aku telah mendengar cerita dari kalian berdua. Dan-" Ucapan Maira terpotong


"Please... Sayang percaya padaku. Ini semua hanya akal - akalannya saja. Aku bisa-" Kali ini berganti Maira yang memotong ucapan Khoiruddin


"Ku mohon dengarkan aku dulu mas! Aku tidak bisa memikirkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Memang ada kemungkinan kamu yang benar. Tapi, ada juga kemungkinan kalau Anisa yang benar." Ucapnya lalu diam sejenak. "Jadi, biarkan aku berpikir dan mencari sedikit bukti saja. Agar keputusanku tidak membuat diriku menyesal." Ucap Maira


"Tapi... Mai itu akan susah. Ditambah lagi rumah kita tidak ada CCTV. Bagaimana kamu mencarinya, itu pasti membutuhkan waktu yang lama. Bahkan juga tidak akan terbukti." Ucap Khoiruddin


"Tidak ada yang tidak mungkin. Aku percaya itu." Ucap Maira


"hufftt... baiklah. Aku akan membantumu!" Ucap Khoiruddin


"Tidak. Itu tidak adil untuk Anisa. Aku akan mencarinya sendiri. Supaya aku tahu, siapa pengkhianat yang sebenarnya!" Ucap Maira


"Tapi-"


"Percayalah padaku mas! Aku bisa membuktikannya. Dan jika kau memang tidak bersalah aku akan memaafkanmu dan menghukum Anisa!" Ucap Maira

__ADS_1


"Baiklah..." Ucap Khoiruddin pasrah


"Bagaimana jika sebaliknya? Mas Khoirlah yang terbukti bersalah dalam hal ini." Tanya Anisa


"Jika sebaliknya? Ucap Maira membeo. "Aku pun tak tahu." Ucapnya lagi setelah terdiam sejenak


"Jangan begitu mbak! Nggak adil ini namanya! Kalo aku yang terbukti salah. Mbak hukum aku! Tapi kalo Mas Khoir yang salah mbak nggak hukum Mas Khoir!" Ucapnya dengan napas tersengal - sengal. "Cih... kalian semua sama saja!" Ucapnya lagi


Seketika hati Maira seperti diremuk. "Nggak begitu maksud mbak Nis!" Ucap Maira dengan tergagap. "Mbak sendiri bingung. Jika Mas Khoir yang bersalah mbak harus apa? Aku dan Mas Khoir kini juga sudah memiliki anak." Ucap Maira


"Jadi, maksud mbak! Mbak minta aku untuk mengikhlaskan peristiwa yang tidak menyenangkan ini?" Tanya Anisa.


Sedangkan Maira semakin bingung. Ia hanya bisa melihat ke arah bawah dan menyatukan dan memisah jari - jemarinya.


"JAWAB MBAK!" Bentak Anisa


"Okay... okay... mbak minta maaf. Tapi tolong berikan mbak waktu untuk memikirkannya. Mbak janji akan bersikap adil!" Ucap Maira


Setelah kepergian Anisa. Khoiruddin mendekati Maira. Ia mengikis jarak antara ia dan istrinya. Digenggamnya dengan erat tangan mungil Maira.


Sontak saja Maira terkejut dan spontan menoleh ke arah suaminya. Ditatapnya dalam kedua mata berwarna coklat itu.


"Sebelumnya mas mau mengatakan..." Ucap Khoiruddin lalu dijeda. "Mas mau mengatakan bahwa Mas mengaku salah. Mau bagaimanapun juga keadaannya, baik Mas dijebak ataupun tidak. Mas tetap bersalah karena telah melakukan hal sejauh itu." Ucap Khoiruddin


"Apa maksud Mas? Mai tidak mengerti!" Ucap Maira


"Maksud Mas." Ucap Khoiruddin terhenti karena ia meneguk salivanya karena ia merasa ragu.


"Maksud Mas... maksud Mas... maksud Mas...." Ucap Khoiruddin yang merasa ragu.

__ADS_1


"Ia! Apa maksud Mas? Tolong jelaskan! Jangan belibet seperti ini. Mai nggak paham jadinya." Ucap Maira yang sudah tidak sabaran.


"Iya.... iya... Mas minta maaf. Tapi kamu janji nggak boleh marah ya!" Ucap Khoiruddin


"Tidak menjamin!" Jawab Maira


"Hufftt... baiklah. Mas jelaskan. Sebenarnya semalam mas bermimpi jika Mas melakukan itu. Saat terbangun Mas hanya mengira jika itu mimpi basah. Ternyata Mas justru benar melakukannya." Ucap Khoiruddin


Maira terdiam mendengar pengakuan dari Khoiruddin. Ternyata benar jika mereka berdua melakukannya. Tanpa terasa air mata menetes membasahi pipinya. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan menghapusnya dengan punggung tangannya.


Namun sayang, Maira terlambat. Khoiruddin sudah melihatnya. Ia terus - terusan memaksa Maira agar melihat ke arahnya.


Mau tidak mau, akhirnya Maira kalah. Kini wajah mereka berdua saling berhadapan. Meski wajah Maira tertunduk ke bawah.


Dengan perlahan Khoiruddin mengangkat wajah istrinya. Menjajarkannya dengan kepalanya. Terlihat genangan air mata di kedua mata istrinya. Ia salut kepada istrinya. Usahanya untuk menutupi kesedihannya sangat luar biasa.


Dengan perlahan jarinya mengusap bekas linangan air mata di pipi Maira. Maira yang tidak dapat menahan lagi, justru mengedipkan matanya dan membuat air matanya jatuh.


Dengan cepat Khoiruddin mengusap air mata itu. Ia kemudian memeluk istrinya erat. Dipelukan itu Maira menangis. Nyaman? Tentu saja. Mau bagaimanapun Khouriddin adalah suaminya.


Sudah hampir 5 tahun lebih mereka menjadi pasangan suami istri. Juga kedua anak yang lucu semakin melengkapi keluarga harmonis itu.


Namun kini...


Mungkin waktunya. Ujian itu datang untuk mengetes, apakah mereka kokoh atau menjadi tumbang?


Bersambung...


Episode selanjutnya:

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Kau menyakitinya! Tak ku sangka dirimu akan menjadi seperti ini?


__ADS_2