
Selamat Membaca
...
"TIDAK!" Teriak Anisa, ia langsung berdiri dan berlari ke luar di mana mobil ambulans mengeluarkan peti yang tentunya di dalamnya adalah jenazah dari Omar. Melihat peti diturunkan, Anisa semakin menangis histeris hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Maira dan juga ibunya Omar segera menangkap badan Anisa yang akan terjatuh mengenai tanah. "Astagfirullahal'adzim." Ucap Maira
Orang - orang bergegas mengangkat tubuh Anisa dan meletakkannya di sofa ruang tamu. Di sana Maira mengolesi minyak kayu putih di pelipis Anisa juga sedikit memberi aroma di area hidung Anisa. Tidak berapa lama kemudian, Anisa tersadar dari pingsannya.
Sesaat ia diam untuk mengembalikan kesadarannya. Namun saat teringat bahwa suaminya telah meninggal, ia kembali menangis terisak. Namun tidak sehisteris tadi.
Jenazah telah siap untuk disalatkan. Beberapa orang ikut salat mayit di sana, begitu juga dengan Khoiruddin dan Pak Surya. Ia juga ikut menyalatkan jenazah. "Assalamualaikum warahmatullah." Ucap imam salat mengakhiri kegiatan salat mayitnya.
Setelah itu, peti diangkat dan dimasukkan kembali ke ambulans. Di mana ambulans itu nanti akan mengantar jenazah ke tempat istirahat terakhirnya. Sedangkan rombongan keluarga akan mengikuti dari belakang dengan mobil masing - masing.
Anisa ikut dalam ambulans, sedangkan Maira berada dalam satu mobil bersama suaminya. Ambulans dan rombongan telah sampai pada TPU (Tempat Pemakaman Umum). Semua orang turun dari kendaraannya masing - masing.
__ADS_1
Dengan perlahan namun pasti. Peti itu turun sedikit demi sedikit. Saat peti sudah memasuki lubang yang sempit itu. Para pencakul akan menutupnya dengan tanah. Di saat itu juga, Anisa kembali terisak. Tidak kuat karena terlihat kenangan indah nan manisnya bersama suaminya selama pernikahannya.
Batu nisan telah ditancapkan dengan tulisan nama Omar di sana. Menandakan sang pemilik nama telah bersemayam untuk selamanya dan meninggalkan orang - orang terkasihnya dalam berjuang dengan urusan dunia. Tidak lupa taburan bunga yang sangat banyak hingga menutupi gundukan tanah itu sendiri.
Proses pemakaman telah usai. Semua orang kembali pulang ke rumahnya masing - masing. Anisa kini ikut dengan Maira. Sesampainya di rumah, Anisa dituntun oleh Maira untuk beristirahat di kamarnya.
...
Malam telah tiba, semua orang kini berkumpul di meja makan untuk santap malam. Semua orang makan dengan lahap kecuali satu, yaitu Anisa. Ia hanya sibuk melamun dan memainkan makanannya tanpa berniat memasukkannya di mulutnya. Baginya semua makanan yang ada di hadapannya terasa pahit di lidahnya.
"Nak makanlah! Nanti kamu sakit." Ucap Pak Surya. Namun Anisa tidak menggubris perkataannya. "Menantu! benar kata bapakmu. Ayo makanlah! Jangan seperti ini. Omar pasti sedih di sana melihatmu seperti ini." Ucap Pak Bram
"Ekhem... Nak Maira! Nanti kamu beri saja segelas susu kepada adikmu itu. Untuk mengganjal perutnya." Perintah Pak Bram
"Iya pak." Ucap Maira
Santap malam telah selesai. Sesuai yang diucapkan oleh Pak Bram. Maira membawakan segelas susu untuk adiknya.
__ADS_1
Ceklek... (Suara pintu terbuka)
Terlihat Anisa tengah memeluk guling dan menangis namun ditahan suaranya agar tidak terdengar keluar. Tangannya memegang selembar foto antara dirinya dan Omar saat mereka bulan madu. Maira segera menghampiri adiknya itu dan memeluknya.
"Sudah ya. Jangan kamu tangisi terus. Ini tidak baik untuk Omar dan juga untukmu. Adikku kau pasti mengetahui bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Oleh karena itu, jangan berlarut - larut dalam kesedihan." Ucap Maira
"Kak..." Ucap Anisa tergagap
Maira yang mengetahui itu, memeluk erat adiknya dan menghapus air matanya. Ia kemudian memberikan segelas susu yang telah ia siapkan tadi kepada Anisa.
"Ini minum susu dulu, habis itu tidur." Ucap Maira
Anisa menggeleng tanda tidak mau. Namun Maira tetap membujuknya, sehingga Anisa akhirnya meminum habis susu itu. Setelah minum susu, Anisa segera tertidur karena matanya yang lelah dan sembab karena menangis.
Sebelum meninggalkan kamar itu. Maira membenahi posisi selimut Anisa dan mencium keningnya.
"Selamat malam." Ucap Maira
__ADS_1
Dan kemudian ia beranjak pergi dari sana.
Bersambung...